Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #16

Orang-Orang yang Pernah Pergi #16

Kami kembali ke kota dua hari setelah malam ketika aku membaca catatan Mak. Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya. Rahman mengemudi dengan tenang. Jalan yang kami lewati berkelok di antara sawah dan bukit yang mulai menguning oleh musim.

Aku memandang keluar jendela mobil tanpa benar-benar melihat apa pun. Bayangan tulisan Mak masih berada di kepalaku.

"Aku hanya berharap suatu hari anakku menemukan seseorang yang menjaga hatinya."

Aku menoleh sedikit ke arah Rahman. Tangannya memegang setir dengan santai, seperti biasa. Ia selalu terlihat tenang bahkan ketika pikirannya penuh.

Sejak kami menikah, aku belajar memahami satu hal tentang Rahman: ia jarang berbicara panjang tentang apa yang ia rasakan. Namun ia selalu menunjukkan perasaannya melalui apa yang ia lakukan.

Mobil melaju perlahan menuruni jalan bukit. Rahman tiba-tiba berkata,

“Kau masih memikirkan ibumu?”

Aku tersenyum kecil.

“Kau selalu tahu.”

Rahman tertawa pelan.

“Aku hanya mengenal wajahmu.”

Aku menghela napas.

“Aku hanya merasa aneh.”

“Aneh bagaimana?”

“Kehidupan kita sekarang berbeda sekali dengan dulu.”

Rahman tidak langsung menjawab.

Ia tetap memandang jalan.

“Kehidupan memang selalu berubah.”

Aku menatapnya lagi.

“Kadang aku berpikir Mak tidak sempat melihat semua ini.”

Rahman menoleh sebentar.

Lalu ia berkata dengan suara yang sangat pelan,

“Mungkin ibumu sudah melihatnya lebih dulu.”

Aku tidak bertanya lebih jauh. Beberapa kalimat Rahman memang tidak membutuhkan penjelasan.

***

Ketika kami sampai di kota, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Toko pertama Rahman sudah dijaga oleh dua karyawan yang kami percayai. Toko kedua juga semakin ramai. Setiap hari selalu ada orang yang datang membeli pakaian.

Kadang aku masih ikut membantu di toko. Namun sekarang pekerjaanku lebih banyak mengurus catatan dan pesanan barang. Rahman sering bepergian keluar kota untuk mengambil barang dari pemasok.

Kehidupan kami menjadi lebih sibuk dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Namun kesibukan itu tidak pernah terasa terlalu berat. Kami sudah terbiasa bekerja bersama.

Suatu sore ketika aku sedang merapikan buku catatan penjualan di rumah, Rahman pulang lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan tasnya di meja.

“Kau tidak ke toko hari ini?” tanyaku.

“Aku sudah pulang dari sana.”

“Cepat sekali.”

Rahman duduk di kursi dekat jendela.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

Nada suaranya membuatku berhenti menulis.

“Apa?”

Rahman terlihat berpikir sejenak sebelum berbicara.

“Kau ingat keluargaku?”

Pertanyaan itu membuat ruangan tiba-tiba terasa sunyi. Tentu saja aku ingat. Bagaimana mungkin aku melupakan mereka.

Keluarga Rahman adalah salah satu alasan mengapa perjalanan hidup kami dulu terasa sangat berat. Mereka adalah keluarga yang sangat kaya. Memiliki tanah luas, rumah besar, dan usaha yang sudah berjalan puluhan tahun. Rahman adalah anak yang paling disayangi dalam keluarga itu. Namun ketika Rahman memutuskan meninggalkan kehidupan nyaman itu dan memilih menjadi pedagang sendiri, keluarganya tidak bisa menerimanya. Apalagi ketika Rahman memilih menikah denganku. Seorang perempuan dari kampung kecil. Tanpa keluarga kaya. Tanpa apa-apa selain kehidupan sederhana.

Hubungan Rahman dengan keluarganya memburuk sejak saat itu. Bahkan pada hari pernikahan kami, tidak satu pun dari mereka datang.

Aku memandang Rahman hati-hati.

“Kenapa tiba-tiba bertanya tentang mereka?”

Rahman memandang keluar jendela. Angin sore menggerakkan tirai pelan.

“Mereka datang.”

Aku terdiam.

“Kapan?”

“Besok.”

Dadaku terasa sedikit berdebar.

“Ke sini?”

Rahman mengangguk.

“Ke rumah ini.”

Aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Selama bertahun-tahun aku hampir tidak pernah mendengar kabar tentang keluarga Rahman. Rahman juga jarang berbicara tentang mereka. Seolah kehidupan itu berada di masa lalu yang jauh. Namun sekarang mereka tiba-tiba akan datang ke rumah kami.

“Kau tidak keberatan?” tanya Rahman.

Aku menatapnya.

“Kenapa aku harus keberatan?”

Rahman tersenyum kecil.

“Mereka mungkin tidak selalu bersikap baik.”

Aku menggeleng pelan.

“Rahman.”

Ia menoleh.

“Mereka keluargamu.”

Rahman tidak mengatakan apa-apa. Namun aku melihat sesuatu di matanya. Perasaan yang jarang ia tunjukkan. Antara harapan dan keraguan.

***

Malam itu aku hampir tidak bisa tidur dengan tenang. Bukan karena takut. Tetapi karena pikiranku terus berjalan. Aku membayangkan pertemuan yang akan terjadi besok. Aku tidak pernah benar-benar bertemu keluarga Rahman secara langsung setelah kami menikah. Aku hanya pernah melihat mereka sekali dari jauh ketika Rahman mengantarku melewati rumah besar keluarganya.

Rumah itu sangat besar. Berbeda sekali dengan rumah kampung tempat aku dibesarkan. Aku ingat Rahman hanya melihat rumah itu sebentar sebelum berkata,

“Kita tidak perlu berhenti di sana.”

Aku tidak pernah bertanya lebih jauh. Namun aku tahu ada banyak luka dalam cerita itu.

***

Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Aku bangun lebih awal dan mulai membersihkan rumah. Rahman memperhatikanku dari ruang tamu.

“Kau tidak perlu terlalu sibuk,” katanya.

Aku tersenyum.

“Aku hanya ingin rumah ini terlihat rapi.”

Rahman berdiri dan berjalan mendekat.

“Kau gugup?”

Sedikit.

Namun aku tidak mengatakannya.

“Aku hanya ingin menyambut mereka dengan baik.”

Rahman memegang tanganku.

“Aku tidak pernah meminta kau melakukan itu.”

“Aku tahu.”

Aku menatapnya.

“Tapi aku ingin melakukannya.”

Rahman tersenyum pelan.

***

Mereka datang menjelang siang. Sebuah mobil besar berhenti di depan rumah. Aku berdiri di pintu bersama Rahman. Ketika pintu mobil terbuka, seorang pria tua turun lebih dulu.

Wajahnya tegas. Namun di matanya ada sesuatu yang sangat mirip dengan Rahman. Aku langsung tahu siapa dia.

Ayah Rahman.

Di belakangnya turun seorang perempuan yang terlihat elegan.

Lihat selengkapnya