Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #17

Rumah yang Terlalu Sepi #17

Sejak kunjungan kami terakhir ke kampung, ada sesuatu yang terus tinggal di dalam pikiranku. Bukan peristiwa besar. Bukan percakapan panjang. Hanya satu pemandangan sederhana yang entah mengapa tidak mau pergi.

Ayah duduk sendirian di beranda rumah. Ia duduk di kursi kayu yang sama yang dulu sering dipakai Mak ketika mengupas bawang pada sore hari. Kursi itu sudah mulai menghitam oleh usia, tetapi masih kokoh. Dari kursi itu halaman rumah terlihat luas. Sawah membentang tidak jauh dari pagar bambu yang dulu dibuat Ayah dengan tangannya sendiri.

Sore itu Ayah duduk diam di sana. Tangannya bertumpu pada lutut. Matanya memandang sawah yang perlahan berubah warna ketika matahari turun.

Aku tidak tahu mengapa bayangan itu terus kembali kepadaku. Kadang ketika aku sedang menyusun pakaian di toko. Kadang ketika aku sedang memasak di dapur rumah kami di kota rantau. Kadang bahkan ketika aku sedang berbicara dengan Rahman tentang rencana membuka toko baru.

Bayangan itu selalu muncul kembali.

Ayah.

Beranda.

Dan rumah yang terasa terlalu luas untuk seorang lelaki yang mulai menua.

***

Beberapa bulan berlalu. Hidup kami di kota rantau berjalan semakin baik. Toko pertama Rahman tetap ramai seperti biasa. Namun yang lebih mengejutkan adalah toko kedua yang baru kami buka beberapa bulan lalu ternyata berkembang jauh lebih cepat dari yang kami perkirakan.

Pasar tempat toko itu berada selalu penuh orang. Para pedagang dari kampung kampung sekitar datang setiap hari untuk membeli pakaian dalam jumlah banyak. Rahman mulai dikenal sebagai pedagang yang jujur. Ia tidak pernah menaikkan harga terlalu tinggi. Ia juga tidak pernah menjual barang yang kualitasnya buruk. Banyak pelanggan akhirnya kembali lagi karena alasan itu.

Suatu malam setelah toko ditutup, Rahman duduk di ruang makan sambil menghitung catatan penjualan. Aku menuangkan teh ke dalam dua cangkir. Rahman memandang angka-angka di buku itu beberapa detik, lalu tertawa kecil.

“Sepertinya kita harus mulai memikirkan toko ketiga.”

Aku mengangkat alis.

“Secepat itu?”

Rahman mengangguk.

“Pasar baru di ujung kota cukup ramai.”

Ia menatapku.

“Jika kita membuka toko di sana, mungkin kita bisa memperluas usaha lebih cepat.”

Aku tersenyum kecil.

“Dulu kau hanya punya satu rak pakaian.”

Rahman tertawa.

“Iya.”

Ia bersandar di kursinya.

“Dan aku bahkan tidak yakin apakah barang-barang itu akan laku.”

Aku memandangnya beberapa detik. Sekarang Rahman terlihat sangat berbeda dari lelaki yang dulu memulai usaha dengan modal kecil. Bukan karena pakaiannya. Rahman tetap berpakaian sederhana seperti biasa. Namun ada sesuatu dalam caranya berbicara.

Keyakinan.

Keteguhan.

Dan ketenangan yang hanya dimiliki orang yang telah melewati banyak kesulitan.

“Semua ini karena kita tidak menyerah,” kata Rahman pelan.

Aku mengangguk.

Namun di dalam hatiku ada sesuatu yang terasa aneh. Bukan kesedihan. Bukan juga kegelisahan yang jelas. Lebih seperti perasaan yang muncul setiap kali seseorang melihat masa lalu dari jarak yang jauh.

Aku memikirkan Mak. Mak yang dulu selalu khawatir tentang hidup kami. Mak yang selalu bertanya apakah kami cukup makan.

Apakah Rahman bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Apakah masa depan kami akan aman. Sekarang semua pertanyaan itu sebenarnya sudah memiliki jawaban.

Rumah kami lebih besar. Usaha kami berkembang. Kami tidak lagi hidup dengan kekhawatiran seperti dulu. Namun Mak tidak ada untuk melihat semuanya. Pikiran itu datang begitu saja. Dan entah mengapa sulit sekali pergi.

***

Suatu sore ketika aku sedang membantu di toko kedua Rahman, telepon di tas tanganku tiba-tiba berdering. Nomor yang muncul adalah nomor yang sangat jarang muncul. Nomor rumah tetangga kami di kampung. Perempuan tua yang dulu sering membantu Mak ketika aku masih kecil. Entah mengapa jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Aku menjawab telepon itu.

“Assalamu’alaikum.”

Suara di ujung telepon terdengar pelan.

“Nak… ini Uni Salmah.”

“Iya, Uni.”

Beberapa detik ia tidak berbicara. Kemudian ia berkata dengan suara yang lebih rendah.

“Ayahmu sakit.”

Tanganku tiba-tiba terasa dingin.

“Sakit apa?”

“Demam sejak dua hari lalu.”

Aku menutup mata beberapa detik.

“Kenapa tidak memberi kabar lebih cepat?”

“Dia melarang kami.”

Lihat selengkapnya