Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #18

Jalan yang Kami Pilih Sendiri #18

Beberapa bulan setelah kami menemukan catatan Mak di dapur, hidup kami kembali bergerak dengan cara yang hampir tidak terasa. Hari-hari berjalan seperti biasa.

Rahman kembali ke kota rantau untuk mengurus toko-tokonya. Aku ikut bersamanya beberapa hari kemudian setelah memastikan Ayah sudah benar-benar pulih dari sakitnya.

Dokter mengatakan bahwa kondisi Ayah tidak berbahaya, tetapi ia harus lebih banyak beristirahat.

“Ayah tidak boleh terlalu sering ke sawah,” kata dokter.

Ayah hanya tersenyum mendengar itu.

“Kalau saya tidak ke sawah, saya akan cepat bosan.”

Namun sejak hari itu aku memperhatikan bahwa Ayah memang lebih sering berada di rumah. Ia masih pergi ke sawah sesekali, tetapi tidak lagi dari pagi sampai sore seperti dulu.

Rumah menjadi lebih sunyi daripada yang pernah kuingat sebelumnya. Namun kali ini kesunyian itu tidak terasa menakutkan. Mungkin karena aku sudah mulai memahami bahwa rumah ini memang sedang belajar hidup tanpa Mak.

***

Ketika aku kembali ke kota rantau, Rahman sudah menunggu di depan rumah kami. Rumah itu sekarang terasa jauh berbeda dari rumah pertama yang kami tempati ketika baru menikah.

Dulu rumah itu kecil, dengan dinding yang mulai kusam dan halaman yang hanya cukup untuk satu pohon mangga kecil. Sekarang rumah kami lebih besar. Halaman depan sudah diperbaiki. Ada pagar besi sederhana yang dibuat Rahman sendiri bersama tukang dari pasar. Namun meskipun rumah itu berubah, ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Rahman masih selalu berdiri di depan pintu ketika aku pulang.

“Kau lama sekali di kampung,” katanya sambil tersenyum.

“Ayah masih membutuhkan seseorang untuk mengingatkannya beristirahat,” jawabku.

Rahman mengangguk.

“Kita akan sering pulang ke sana.”

Aku memandangnya beberapa detik.

Rahman selalu mengatakan hal-hal sederhana dengan cara yang sangat tenang, seolah-olah keputusan besar dalam hidup hanyalah sesuatu yang alami.

***

Usaha Rahman berkembang lebih cepat daripada yang kami duga. Toko kedua yang dulu hanya percobaan sekarang menjadi toko yang paling ramai di antara semuanya. Banyak pedagang dari daerah sekitar datang khusus untuk membeli pakaian di sana.

Rahman mulai memesan barang langsung dari kota besar. Ia juga mulai dikenal oleh para pedagang lain sebagai orang yang bisa dipercaya.

Suatu sore ketika aku sedang membantu menghitung barang di toko pertama, seorang pedagang tua datang menemui Rahman. Ia mengenakan pakaian yang sangat rapi. Cara berbicaranya menunjukkan bahwa ia bukan pedagang biasa.

“Rahman?”

“Iya.”

“Saya mendengar banyak tentang usahamu.”

Rahman tersenyum sopan.

“Semoga bukan kabar buruk.”

Pedagang itu tertawa kecil.

“Saya ingin mengajakmu bekerja sama.”

Rahman mengangkat alis.

“Bekerja sama bagaimana?”

“Kita bisa membuka beberapa toko besar di kota ini.”

Rahman terdiam beberapa detik.

“Apa keuntungan bagi Anda?”

Pedagang itu tersenyum.

“Kau memiliki nama baik di pasar. Itu lebih berharga daripada banyak hal.”

Rahman tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata pelan,

“Saya harus memikirkannya.”

***

Malam itu kami berbicara lama di rumah. Rahman duduk di kursi ruang tamu sambil memandang halaman. Aku duduk di sebelahnya.

“Kau akan menerima tawaran itu?” tanyaku.

Rahman menggeleng pelan.

“Belum tentu.”

“Kenapa?”

Rahman menatapku.

Lihat selengkapnya