Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #19

Waktu yang Tidak Bisa Ditahan #19

Ada satu hal yang jarang benar-benar kita sadari ketika hidup berjalan baik.

Waktu. Ketika hari-hari dipenuhi pekerjaan, rencana, dan harapan, waktu sering terasa seperti sesuatu yang selalu tersedia. Ia datang setiap pagi dengan cara yang sama dan pergi setiap malam tanpa membuat kita benar-benar memperhatikannya.

Namun suatu hari, tanpa kita sadari, waktu tiba-tiba memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya. Ia tidak pernah berhenti.

Usaha Rahman berkembang dengan cara yang hampir tidak terasa.

Toko ketiga akhirnya benar-benar dibuka di pasar baru di ujung kota. Tempat itu lebih besar daripada dua toko sebelumnya. Rahman awalnya ragu, tetapi setelah beberapa bulan berjalan, toko itu justru menjadi pusat usaha kami.

Para pedagang dari berbagai daerah datang ke sana. Beberapa bahkan memesan pakaian dalam jumlah besar untuk dijual kembali di kampung-kampung mereka.

Rahman tidak lagi hanya dikenal sebagai pedagang kecil yang rajin. Namanya mulai disebut-sebut di pasar. Orang-orang sering berkata bahwa ia memiliki keberuntungan yang baik. Namun aku tahu Rahman tidak pernah percaya pada keberuntungan.

“Keberuntungan hanya datang kepada orang yang terus bekerja,” katanya suatu malam ketika kami sedang menghitung barang.

Aku tersenyum.

Rahman memang selalu seperti itu. Ia tidak pernah merasa dirinya sudah berhasil. Baginya, setiap hari adalah awal baru untuk bekerja lagi.

Namun di tengah semua perkembangan itu, pikiranku sering kembali ke kampung. Ke rumah kayu yang semakin sepi. Ke beranda tempat Ayah biasanya duduk pada sore hari.

Kami masih sering pulang setiap beberapa minggu. Rahman selalu menyempatkan waktu meskipun pekerjaannya semakin banyak.

Ketika kami datang, Ayah selalu terlihat senang. Namun aku mulai memperhatikan sesuatu yang membuat hatiku terasa berat.

Langkah Ayah semakin pelan. Tubuhnya terlihat semakin kurus. Dan napasnya kadang terdengar lebih berat dari biasanya.

Suatu sore ketika aku sedang duduk bersamanya di beranda, Ayah berkata pelan,

“Rumah ini terasa lebih sunyi sekarang.”

Aku menoleh.

“Ayah merasa kesepian?”

Ayah tersenyum kecil.

“Tidak.”

Ia memandang halaman rumah.

“Kesepian adalah sesuatu yang biasa ketika orang menjadi tua.”

Kalimat itu membuatku tidak tahu harus berkata apa.

***

Lihat selengkapnya