Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #20

Malam yang Terlalu Panjang #20

Beberapa hari setelah kami kembali ke kampung, rumah itu perlahan berubah menjadi tempat yang dipenuhi langkah-langkah pelan.

Tetangga datang bergantian. Ada yang membawa makanan. Ada yang sekadar duduk di ruang tamu sambil berbicara dengan suara rendah. Ada pula yang hanya datang sebentar, menanyakan kabar Ayah, lalu pulang sebelum malam benar-benar turun.

Rumah yang selama ini terasa sunyi tiba-tiba kembali hidup. Namun kehidupan itu bukan kehidupan yang riang seperti dulu ketika Mak masih ada. Lebih seperti kehidupan yang berjalan hati-hati. Seolah-olah semua orang tahu bahwa waktu di rumah ini sedang bergerak ke arah yang tidak bisa dihindari.

Ayah lebih banyak berbaring di kamar. Kadang ia duduk di kursi dekat jendela jika merasa sedikit lebih kuat. Dari sana ia bisa melihat halaman rumah dan sawah yang terbentang di kejauhan.

Suatu sore aku membantu Ayah duduk di kursi itu. Angin dari luar masuk pelan melalui jendela. Ayah memandang sawah cukup lama tanpa berbicara.

“Ayah rindu ke sana,” katanya akhirnya.

Aku menoleh.

“Ke sawah?”

Ayah mengangguk pelan.

“Dulu hampir setiap hari Ayah berjalan ke sana.”

Aku tersenyum kecil.

“Ayah masih bisa pergi nanti jika sudah lebih kuat.”

Ayah tidak menjawab.

Ia hanya terus memandang sawah seperti seseorang yang sedang melihat sesuatu yang sangat jauh.

***

Rahman menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sejak kami datang. Ia hanya pergi sebentar ke kota untuk memastikan toko-tokonya tetap berjalan. Namun setiap malam ia kembali ke kampung.

Kadang aku melihatnya duduk di beranda bersama Ayah. Mereka tidak selalu berbicara banyak. Sering kali mereka hanya duduk berdampingan. Namun dari cara Rahman mendengarkan setiap cerita Ayah, aku tahu ia benar-benar menghormati lelaki tua itu.

Suatu malam ketika Ayah sudah tertidur, Rahman duduk di dapur bersamaku. Lampu dapur menyala redup. Suara serangga malam terdengar dari halaman.

“Kau lelah,” katanya pelan.

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Namun Rahman tahu aku tidak sepenuhnya jujur.

Ia memegang tanganku.

“Kau takut.”

Aku menunduk.

“Ayah semakin lemah.”

Rahman tidak menyangkal.

Ia hanya berkata,

Lihat selengkapnya