Malam itu lebih sunyi dari biasanya. Rumah terasa berat, seolah menahan napasnya sendiri. Aku duduk di samping tempat tidur Ayah. Tangan Ayah kurasakan semakin lemah, seolah waktu telah mengambil sebagian dari dirinya. Aku menggenggamnya pelan, takut jika terlalu keras, ia akan merasa sakit.
Rahman duduk di sebelahku, menatap Ayah dengan tatapan penuh hormat dan kasih. Tak ada kata yang diucapkan, hanya diam yang membawa rasa aman.
Aku menoleh padanya, dan di matanya aku melihat keteguhan yang tak tergoyahkan, ketulusan yang membuat hati ini sedikit lebih tenang meski rasa kehilangan sudah menghantui.
“Yah… kau harus bertahan,” bisikku hampir tak terdengar.
Ayah menoleh, matanya setengah terpejam.
Senyum pelan terbentuk di bibirnya.
“Sudah… waktunya…” suaranya hampir seperti angin.
Aku menahan napas, rasanya dunia berhenti seketika.
Air mataku jatuh tanpa mampu aku cegah. Rahman menggenggam tanganku lebih erat, seolah ingin memastikan aku tetap berdiri meski dunia runtuh di sekitarku.
***
Ayah menarik napas terakhirnya pelan, seolah membiarkan segala rasa sakit dan lelahnya pergi bersamaan dengan hembusan itu.
Aku menunduk, memeluk tubuhnya, dan menangis tanpa suara. Segala penyesalan yang selama ini kupendam meledak begitu saja.