Hari-hari di kota rantau mulai terasa lebih nyata. Rahman tetap menjadi pedagang, seperti dulu, meski kekayaan kami sudah cukup untuk hidup nyaman. Aku sering bertanya-tanya mengapa ia memilih jalan ini, memilih bekerja keras meski kami bisa hidup tanpa repot. Suatu sore, aku memutuskan mengikutinya ke pasar.
Pasar kota itu ramai, hiruk-pikuk pedagang dan pembeli menciptakan simfoni yang kacau namun hidup. Rahman menuntun gerobak kecilnya, menata pakaian dengan rapi. Aku melihatnya dari samping, kagum dengan ketekunannya. Setiap kali ia menyapa pembeli dengan senyum hangat, hatiku terasa lembut. Ia bukan hanya pedagang, tapi juga manusia yang mampu menebar kebaikan dalam hal-hal sederhana.
“Aku tidak mengerti,” aku memulai, suara perlahan agar tidak terdengar orang lain.
“Kita sudah punya cukup… kenapa kau masih bekerja keras?”
Rahman menatapku, senyumnya tak berubah, tapi matanya menyiratkan keteguhan.
“Aku ingin hidup ini terasa nyata, bukan hanya soal uang. Setiap keringat yang jatuh, setiap senyum pembeli yang bahagia… itu memberi arti pada hidup kita, Aku. Bukan semua bisa dibeli dengan uang.”
Aku menunduk, menyadari betapa egoisnya aku selama ini. Selama bertahun-tahun, aku menunggu kebahagiaan datang melalui kekayaan, tanpa memahami arti usaha. Kini, di samping Rahman, aku belajar arti kesabaran, kerja keras, dan kebermaknaan sederhana.
Hari itu, kami bertemu dengan beberapa tetangga pedagang lain. Mereka menyapa Rahman dengan hangat, namun beberapa mata tetap menyimpan rasa iri. Aku menyadari dunia baru ini penuh dengan ambisi dan intrik kecil, hal yang tidak pernah aku temui di kampung halaman.
Rahman tetap tenang, menjawab salam mereka dengan santun, tanpa tersinggung. Aku menatapnya kagum, ia mampu menjaga harga diri tanpa menimbulkan konflik.
Siang harinya, saat langit mulai memerah, kami duduk di tepi pasar, menikmati secangkir teh hangat. Aku menatap Rahman, ingin mengungkapkan semua rasa yang tertahan.