Tempat Mak Berpindah

Nova Yarnis
Chapter #24

Sesal yang Menyertai Kekayaan #24

Hari-hari berlalu dengan damai, namun hatiku selalu digelayuti rasa sesal. Rumah yang penuh cahaya dan tawa tidak mampu menghapus bayangan Mak yang pergi terlalu cepat. Aku duduk di teras, menatap langit sore yang merah keemasan, sambil memegang cangkir teh hangat. Rasanya aneh segala kemewahan yang kami miliki kini ada di tangan, tapi satu bagian dari hatiku kosong.

Rahman menatapku dari dapur, dengan mata penuh perhatian. Ia menyadari perubahan sikapku akhir-akhir ini; sering diam, termenung, atau menatap langit tanpa kata. Aku tahu ia ingin menghibur, ingin meringankan bebanku, tapi tidak ada kata yang cukup untuk menghapus rasa sesal ini.

“Kau masih memikirkannya, kan?” Rahman akhirnya berkata lembut. Suaranya seperti aliran sungai yang menenangkan hati. Aku mengangguk, air mata menitik perlahan.

“Kekayaan… semuanya datang terlalu terlambat. Mak sudah tiada. Ayah sudah tidak sekuat dulu. Aku ingin mereka bisa merasakannya. Aku ingin mereka melihat kita hidup damai, tanpa harus berjuang seperti ini.”

Rahman menunduk, mengambil tanganku. “Aku tahu, Aku… aku pun merasakannya. Tapi kau harus percaya, mereka ingin kita bahagia. Mereka ingin melihat kita tersenyum, bukan larut dalam penyesalan.”

Aku menarik napas panjang. Rasanya sulit menerima kenyataan ini. Selama bertahun-tahun, aku memimpikan kehidupan seperti ini, tapi tanpa Mak, tanpa senyum Ayah di rumah, impian itu terasa hampa. Aku menatap jendela rumah, membayangkan wajah mereka, suara mereka, aroma rumah kampung halaman yang kini hanya tinggal kenangan.

Hari itu, aku memutuskan berjalan-jalan sendirian ke pasar lama, tempat Rahman biasa berjualan sebelum kami pindah ke toko besar. Pasar itu masih ramai, namun bagi aku, setiap sudutnya membawa kenangan Mak yang selalu tersenyum saat aku membeli sayur, atau Ayah yang menasehati Rahman kecil agar belajar rajin dan sabar. Aku berjalan perlahan, merasakan udara kota yang berbeda, tapi hatiku tetap tertambat pada masa lalu.

Seorang pedagang tua menyapa Rahman, menanyakan kabar keluarga kami. Aku diam, menahan perasaan campur aduk. Ia menyebut nama Mak, dan seketika, air mataku tumpah. Pedagang itu menatapku prihatin, tanpa kata, hanya memberikan senyum hangat. Aku menyadari, dunia ini masih memiliki kebaikan, meski kesedihan datang menyapa.

Malam itu, di rumah, aku menulis jurnal panjang. Halaman demi halaman dipenuhi kata-kata penyesalan dan doa. Aku menulis tentang bagaimana aku berharap Mak bisa merasakan kekayaan ini, melihat kami hidup nyaman, melihat Rahman yang selalu ada untukku. Aku menulis tentang Ayah yang kini sering sakit, dan tentang rasa bersalahku karena tidak bisa membawa mereka menikmati semua ini saat mereka masih ada.

Lihat selengkapnya