Sejak toko berkembang pesat dan program kebaikan kami berjalan lancar, hidup kami terasa lebih stabil. Namun, aku mulai merasakan gelombang baru dalam hati yang tak pernah kunyana sebelumnya. Kehidupan yang damai dan berlimpah ini membawa rasa syukur, tapi juga menyisakan bayangan penyesalan yang tak pernah hilang sepenuhnya.
Rahman, yang dulunya hanya pedagang sederhana, kini menjadi sosok yang memegang kendali bersama dalam keputusan-keputusan besar. Namun di balik senyumannya yang hangat, aku menangkap kerut kecil di dahinya saat kami berdiskusi. Kadang, dalam diamnya, aku merasa ada sesuatu yang ia pendam, sesuatu yang belum bisa ia ungkapkan.
Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam dan cahaya jingga merayap ke jendela toko, aku melihat Rahman termenung di sudut ruangan. Aku menghampirinya, duduk di sampingnya, dan menatap matanya. “Apa yang kau pikirkan?” tanyaku lembut.
Rahman menoleh, menahan senyum tipis yang tak sampai ke matanya. “Hanya memikirkan bagaimana kita bisa membuat semuanya lebih berarti, Aku. Tidak hanya untuk kita, tapi juga untuk mereka yang kita bantu. Kadang aku merasa bersalah karena kau telah banyak berkorban.”
Aku tersenyum pahit. “Rahman… kau tak tahu betapa aku ingin ini terjadi lebih cepat. Aku ingin Mak ada, ingin dia melihat kita bahagia. Tapi semuanya datang setelah dia pergi. Itu yang membuat hatiku… hampa.”
Rahman menarik tanganku, menggenggam erat. “Aku tahu. Dan aku merasa sama. Tapi lihatlah sekarang kita bisa membuat hidup orang lain lebih baik. Bukankah itu yang selalu Mak ajarkan padamu?”
Aku mengangguk, tapi di dalam dada, rasa sesal itu tetap menekan. Malam itu, kami duduk di teras, menatap lampu kota yang mulai menyala. Angin malam membawa aroma hujan yang akan turun sebentar lagi, dan suara kehidupan kota membuat hatiku campur aduk.