Pagi itu, kota dingin tempat kami tinggal diselimuti kabut tipis. Udara lembap membawa aroma hujan semalam yang belum sepenuhnya hilang. Aku berjalan di halaman rumah, memandang taman kecil yang aku dan Rahman rawat bersama. Setiap bunga, setiap pohon kecil, terasa seperti saksi bisu perjalanan kami: dari kesederhanaan, kehilangan, penyesalan, hingga keberlimpahan yang kini kami miliki.
Namun di hatiku, rasa sesal masih tersisa lebih lembut, tapi tetap ada. Aku merindukan Mak, yang tidak sempat melihat hasil jerih payah kami. Aku merindukan Ayah, yang tak lagi bisa duduk di teras, menikmati senja bersama kami. Aku ingin mereka ikut merasakan semua kebahagiaan ini.
Rahman menghampiriku dengan senyum hangat, membawa secangkir kopi. “Aku tahu kau masih merasakan kehilangan itu, Aku. Tapi lihatlah, semua yang kita lakukan… ini untuk mereka juga.”
Aku menunduk, memegang tangannya. “Aku tahu… tapi aku ingin mereka merasakannya. Aku ingin mereka melihat, bahkan sekejap pun, bahwa kita berhasil. Bahwa kita bahagia. Bahwa kita tidak hanya bertahan, tapi memberi manfaat pada orang lain.”
Rahman menarikku ke pelukannya, menenangkan setiap gundah di hatiku. “Kau tahu… kebahagiaan mereka ada dalam setiap kebaikan yang kita lakukan. Mereka hadir melalui senyum orang-orang yang kita bantu, melalui hati yang kita sentuh. Mak dan Ayah ada di sini, Aku. Selalu.”
Hari-hari berikutnya, aku memutuskan untuk menyalurkan semua rasa sesal itu menjadi tindakan nyata. Bersama Rahman, kami mulai membangun program baru: rumah belajar bagi anak-anak dari keluarga miskin, bantuan modal untuk pedagang kecil, dan klinik kesehatan gratis di pinggiran kota. Setiap kali melihat mata anak-anak yang bersinar karena bisa belajar, atau senyum orang tua yang lega karena anak mereka sehat, aku merasa Mak dan Ayah ada di sisiku, tersenyum bangga.
Suatu sore, saat aku tengah mengatur buku di rumah belajar, seorang anak mendekat, menatapku dengan mata polos. “Bu… terima kasih sudah membuat tempat ini. Aku senang bisa belajar di sini.”
Aku menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh. “Iya… ibu senang kau bisa belajar. Jangan lupa, usahamu adalah hadiah untuk masa depanmu.”