Kau pun teringat dengan orang yang membuatmu jatuh miskin. Setiap kali nama itu mengendap-endap di dalam kepalamu, otot-otot rahangmu mengencang, darahmu mendidih, meletup-letup sampai ke ubun-ubun. Hatimu dikuasai amarah. Kau tak bisa berpikir jernih. Kau ingin membalaskan dendammu. Kalau bisa secepatnya. Tidak perlu ditunda-tunda. Tidak usah menunggu lama. Kau hanya ingin melihat orang itu segera mati.
“Bajingan kau, Bamudin!” teriakmu. Suaramu menggema, memantul di dinding, menghilang terserap tanah.
“Sabar, Bang,” ujar Boski yang tiba-tiba nongol di depan pintu gubukmu.
Kau menoleh. “Mau apa kau?”
Boski mengenakan kacamata hitam sebelah. Sebelah kanan hitam, sebelah kiri bening. Mungkin mata kanannya lebih sensitif cahaya daripada mata kirinya. Entahlah. Pakaiannya pun serba hitam, mirip orang yang mau hadir ke pemakaman. Memang, TPA adalah tempat dimakamkannya harapan orang-orang yang terbuang.
“Paket hari ini sudah datang tuh,” kata Boski sambil memiringkan kepalanya ke kiri.
Kupingmu terfokus pada suara raungan mesin yang hadir di kejauhan. Sebuah truk sampah melaju kencang memasuki areal TPA. Mesinnya meraung tak ramah. Roda-rodanya melindas sampah di tanah. Biasanya dia tak suka melaju sekencang itu. Lebih suka pelan karena takut sampahnya tumpah di jalan. Mungkin khusus hari ini dia tak sabar membuang muatannya.
Kau yang dari tadi berdiri mematung bergegas menggerakkan otot-otot tangan dan kakimu. Seketika kau tarik keranjang sampahmu. Keranjang itu meloncat dari sudut dinding gubuk menuju ke atas punggungmu.
Bagimu truk itu datang membawa penghidupan. Memang tidak banyak. Cukup untuk menghidupimu barang sehari atau dua hari. Sampah adalah sumber kehidupan meski kau bukan cacing tanah yang mampu mencerna sampah. Kau hanya manusia yang tak tahu lagi bedanya antara sampah dan janji-janji politisi menjelang pemilu. Kau sudah banyak mendengar janji-janji, namun tak ada satu pun yang berhasil terealisasi. Kau sadar mereka hanya bisa menjual janji-janji palsu. Tidak ada barang dagangan lain yang bisa mereka tawarkan kepadamu. Kau pun belajar menutup telingamu rapat-rapat. Kau pura-pura tuli, karena pada akhirnya mereka juga akan pura-pura tuli.
Kau pasrah pada nasibmu. Kau terima takdirmu sebagai manusia yang berjalan di atas tanah kotor dan berdebu. Tidak ada karpet merah. Tidak ada sambutan yang meriah. Tidak ada jalan yang mulus. Tidak ada bantuan yang tulus. Kau sudah tak peduli lagi. Kau hanya peduli pada dendammu. Mungkin dendam itu tak bisa terealisasi hari ini. Mungkin tidak juga esok hari. Kau hanya perlu bertahan hidup sampai saatnya pembalasan tiba.
Kau sudah lama berjalan dalam keputusasaan. Kadang belok ke lumpur, kadang terjatuh di selokan, kadang terantuk perut yang lapar. Hidungmu lalu tersadar, sampah adalah kehidupanmu dari pagi menjelang tengah malam, sampai kau tertidur pulas bersama tumpukan kertas kardus dan koran bekas. Kau kenang kejayaanmu di masa lalu yang lenyap tak berbekas.
“Sampah! Sampah! Sampah! Sampah telah tiba!” teriak seorang pria berpakaian lusuh yang berlari kencang ke arah truk sampah. Matanya berbinar-binar mendengar suara mesin truk sampah meraung-raung. Namanya Darmo. Nama lengkapnya kau tidak tahu. Dia selalu ingin menjadi yang paling depan. Dia selalu ingin mendapatkan sampah yang paling banyak.
Kau suka bingung lalu bertanya dalam hati. Kenapa yang sudah dibuang diperebutkan lagi? Kenapa kau bisa menjadi seorang pemulung alih-alih menjadi seorang pengusaha sejati?
“Nggak jadi ikut, Bang?” tanya Boski yang dari tadi mengamatimu dari balik kacamata dua warnanya. Dia bisa membaca keraguanmu dalam bertindak.
“Sebentar lagi,” jawabmu.
“Nanti keduluan sama yang lain,” kata Boski.
“Biarlah,” ucapmu tidak peduli.
“Kau yakin, Bang?”
Kau mengangguk. Boski mulai menulis. Dia selalu membawa buku catatan kecil yang ia selipkan di saku bajunya. Sampulnya biru, tidak begitu tebal. Entah apa yang ia tulis di sana. Kau tak pernah menanyakannya.
“Orang yang berada di urutan terakhir nggak pernah dapat apa-apa, Bang. Sisa dari sampah adalah sampah. Memang faktanya semua itu hanyalah sampah yang dibuang. Sampah tetaplah sampah. Seperti manusia, sampah juga punya tingkatan. Ada manusia yang berguna, ada manusia yang tidak berguna. Begitu juga sampah. Ada sampah yang bernilai, ada sampah yang tidak bernilai. Sampah yang tidak bernilai biasanya dibakar. Manusia yang tidak berguna biasanya karena tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya.”