Hari sudah mulai gelap ketika kau sudah lelah mencari sampah. Lampu-lampu di pinggir jalan sudah menyala. Ada yang redup ada yang terang benderang. Kau berjalan terhuyung sambil mengamati bayanganmu yang juga ikut terhuyung. Kau lelah. Otot-ototmu butuh bersantai. Perutmu lapar karena dari pagi kau lebih banyak makan angin daripada makan nasi.
Karungmu tidak terisi penuh. Hanya setengahnya saja. Tandanya kau tidak cukup bekerja keras hari ini.
Tiba-tiba kau teringat lagi dengan Bamudin. Kepalamu mendadak panas. Kepalamu semakin panas karena kau belum menemukan cara terbaik untuk balas dendam. Kau bahkan belum tahu di mana orang itu berada.
“Kalau mau bunuh ya bunuh aja sekalian!” teriakmu seraya menunjuk-nunjuk ke arah bayanganmu. Sudah dari ujung jalan kau memaki-maki bayanganmu, namun bayanganmu hanya oleng ke kanan dan ke kiri.
Kau memasuki jalanan yang gelap. Lampu-lampu di sana mati, entah karena rusak atau hilang dicuri. Bayanganmu menghilang. Tidak ada lagi yang bisa kau ajak bicara. Kemudian matamu tertuju pada sebuah bak sampah besar yang terbuat dari besi. Bak itu tertutup. Kau melihat ada sinar kuning dari sela-sela tutupnya. Sepertinya ada api menyala di dalam bak sampah itu. Kau mendekat, mengintip dari sela-sela tutup bak. Ternyata memang ada api di dalamnya. Kau pun membuka tutup bak itu.
“Wah, bahaya sekali ini,” desismu. “Kalau sampai terjadi kebakaran, bisa repot nanti petugas pemadam kebakarannya.”
Kau berusaha memadamkan api itu dengan menusuk-nusukkan tongkatmu. Api tidak juga kunjung padam. Kau merasa perlu memanggil mobil pemadam kebakaran, namun kantor pemadam kebakaran berada cukup jauh kalau kau panggil-panggil dari sana. Mereka tidak mungkin bisa mendengarmu.
Lalu tongkatmu tersangkut sesuatu. Sebuah tas selempang berwarna hitam. Tas itu cukup berat. Sebagian meleleh terkena api, sebagian kotor terpapar lumpur. Kau buka tas itu. Kau lihat bungkusan plastik berwarna hitam di dalamnya. Kau buka bungkusan itu. Alangkah terkejutnya kau melihat isinya.
“Bangsat!” teriakmu. Refleks kau tutup mulutmu, menengok kanan dan kiri, takut membangunkan setan penasaran di sekitarmu. Jantungmu berdetak kencang. Kau menelan ludahmu berkali-kali. Rasa lapar sepertinya tidak berarti. Kau telah menemukan mimpi yang kau cari.
“Orang macam apa yang membuang barang berharga seperti ini?” bisikmu.
Dengan cepat kau masukkan bungkusan itu ke dalam karungmu, sesekali menengok kanan dan kiri, takut ada yang melihatmu, mencurigaimu mencuri sesuatu dari bak sampah.
“Aku harus segera kembali.”
Langkahmu kau percepat. Tidak lupa sesekali menengok ke belakang, siapa tahu ada orang iseng yang membuntutimu.
Kau lirik karungmu. Di dalam sana ada semua yang kau butuhkan. Kau sudah temukan apa yang kau cari selama ini. Kau bisa melakukan apa saja dengan itu.
Sesampainya kau di gubukmu, kau bergegas membuka karungmu. Kau sudah tidak sabar. Kau keluarkan bungkusan hitam itu. Kau intip perlahan untuk meyakinkan diri bahwa kau tidak salah lihat. Jantungmu berdegup lebih kencang. Bungkusan itu seperti peti harta karun yang kau buka perlahan, seakan wajahmu terpapar sinar kilauan emas dan permata. Namun isi bungkusan itu bukanlah emas dan permata, hanya potongan-potongan kertas yang diikat menjadi satu. Kau tahu kertas-kertas itu sakti mandraguna. Saking saktinya bisa mengubah orang miskin menjadi kaya. Orang-orang memanggilnya “uang”.
“Oh, astaga, merah semuanya!” Kau berseru kegirangan. Ingin kau meloncat, namun kau takut kepalamu membentur atap gubuk. Lalu kepalamu bocor, kehilangan banyak darah, lalu mati dan tak jadi menikmati uang itu.
Dalam euforiamu itu tiba-tiba kau menyadari sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiranmu. Uang itu bukanlah milikmu. Pemiliknya ada di luar sana. Seseorang telah kehilangannya, mungkin sangat membutuhkannya. Penderitaan orang itu mungkin sama ketika kau kehilangan semua hartamu.