Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #3

Mimpi

Kau punya mimpi. Mimpi yang sangat indah. Mimpi itu kau gantung di atas kepalamu. Kau biarkan ia berayun ke kanan ke kiri, ke depan ke belakang. Saat kau diam, mimpi itu juga ikut diam. Kau coba jejalkan mimpi itu ke dalam kepalamu. Ternyata tidak muat. Mimpi itu terlalu besar. Maka dari itu kau gantung mimpi itu. Karena tempatnya mimpi memang di atas kepala. Kalau di dalam kepala namanya otak.

Kau lupakan mimpimu itu. Kau kemudian beralih ke ingatanmu. Ingatan itu nyata, tersimpan di dalam otak. Kalau kau tiba-tiba lupa, mungkin ingatan itu terselip di dalam lipatan otak.

Kau ingat, dua puluh tahun yang lalu kau berjalan di jalan ini membawa buku-buku yang kau pakai untuk kuliah. Sepuluh tahun kemudian kau berjalan di jalan ini menggandeng tangan seorang wanita yang membuatmu jatuh cinta. Dua tahun kemudian kau berjalan di jalan ini sambil menggendong buah hati yang kau sayangi. Tujuh tahun kemudian kau berjalan di jalan ini sendirian dibuntuti oleh semua kenangan itu.

“Bangsat!”

Hari ini kau marah pada nasibmu. Begitu juga tadi pagi, kau marah pada seorang pemuda yang membuang sampah sembarangan.

“Buanglah sampah pada tempatnya,” pintamu secara baik-baik kepada pemuda itu.

“Nanti juga ada yang bersihin. Buat apa petugas kebersihan digaji? Ya buat bersihin sampah! Mikir itu yang praktis!” kata pemuda itu yang langsung melenggang pergi.

Praktis. Semua orang ingin yang praktis, tidak perlu ribet. Kau bisa menerima itu. Kau juga suka yang praktis. Kalau jengkel sama orang ya tinggal kasih jotos saja di mukanya. Praktis. Tidak usah repot-repot memberi nasihat secara baik-baik. Kalau nasihat mungkin tidak bisa merasuk sampai ke hati. Masuk kuping kanan, keluar dari kuping kiri. Kalau jotos sudah pasti sampai di hati, melalui bonyoknya muka.

Kau buntuti pemuda itu sampai ke rumahnya. Kau lempar botol-botol plastik dari dalam karungmu ke halaman rumahnya. Tidak apa-apa kehilangan beberapa kilo sampah berhargamu, toh botol-botol itu akan kembali ke tong sampah yang kau pungut lagi. Kau tidak pungut juga tidak apa-apa, kau punya uang banyak sekarang.

“Bangsat!” teriak pemuda itu. Dia melemparimu dengan botol-botol itu. Kau pun melarikan diri sambil tertawa. Setidaknya orang yang suka membuang sampah sembarangan mendapatkan sampahnya kembali.

Lupakan saja pemuda itu. Kau menghela napas panjang. Karung yang kau bawa kembali kosong, hanya berisi udara yang berpolusi. Kau tidak begitu peduli. Kau butuh barang-barang yang tidak berguna untuk mengisinya. Barang yang tidak berguna? Tiba-tiba kau merasa berhak masuk ke dalam karung itu karena kau merasa tidak berguna. Namun urung kau lakukan karena karung itu terlalu sempit untuk menampung badanmu, meski berat badanmu sudah berkurang banyak.

Perjalananmu kali ini hanyalah perjalanan kamuflase. Kau tidak ingin dicurigai punya uang banyak. Kau butuh bekerja. Orang bekerja pasti punya uang. Anggap uang temuanmu itu hasil kau bekerja. Kau pergi keluar. Tidak usah lama-lama, hanya setengah hari. Begitu rencanamu. Setengah harinya lagi kau butuh berada di gubuk untuk jaga-jaga, siapa tahu ada yang iseng menggali di bawah karpetmu. Terutama Boski. Kau curiga dia tahu rahasiamu.

Di tengah jalan kau berpapasan dengan seorang pemulung. Kau mengangguk dan tersenyum. Pura-pura kenal, padahal tidak kenal. Pemulung itu tidak mengangguk, tersenyum pun tidak. Matanya malah mendelik. Secara tersirat ia mengatakan kepadamu bahwa dialah yang pertama datang di daerah itu. Kau hanyalah pendatang yang tidak tahu diri. Kau tidak begitu memikirkannya. Kau tidak peduli. Yang kau lakukan hanyalah bentuk ramah tamah dalam bermasyarakat. Bukan salahmu jika masyarakatnya tidak ramah kepadamu.

Dengan langkah agak malas-malasan kau singgah dari satu rumah ke rumah yang lain, dari satu bak sampah ke bak sampah yang lain.

“Ada barang-barang yang nggak kepakai, Bu?” tanyamu kepada seorang wanita gemuk yang rambutnya diikat ke belakang.

“Ibu? Emang aku ini ibumu? Pergi sana!” kata wanita itu ketus.

“Masa’ sih nggak ada yang bekas, Bu?”

“Bisa baca nggak? Pemulung dilarang masuk!”

“Saya bukan pemulung, saya kolektor barang bekas,” katamu.

“Kamu nggak denger apa? Pergi sana!”

“Kompor bekas juga nggak ada, Bu?”

“Heh! Nggak ngerti arti kata ‘pergi’ apa?”

“Bener nggak ada, Bu? Sandal bekas juga nggak apa-apa.”

“Pokoknya nggak ada!”

“Baik, Bu. Saya permisi.”

“Dasar orang gila! Sinting!”

Kau pun pergi dengan mulut terkunci. Kau tidak ingin membalasnya dengan kata-kata. Tidak juga memasukkan kata-kata wanita itu itu ke dalam hati. Percuma. Untuk apa memasukkan kata-kata yang tidak berguna ke dalam hati, toh hati tidak mampu mencerna kata-kata.

Kau sudah terbiasa disebut gila padahal kau merasa tidak gila. Jikapun kau memang benar-benar gila juga tidak apa-apa. Gila itu sehat, karena orang gila jarang punya penyakit, kecuali penyakit jiwa.

Kau berhenti di sebuah persimpangan jalan. Kau bingung. Tidak tahu harus ke mana melangkahkan kakimu yang kepanasan gara-gara sandalmu yang tipis dan berlubang.

“Kiri, kanan, atau lurus saja?”

Di kirimu ada deretan toko elektronik, mungkin kau akan menemukan bangkai televisi atau radio. Di kananmu ada deretan toko pakaian, mungkin kau akan menemukan celana dalam bekas. Di depanmu ada deretan rumah-rumah, mungkin kau akan bertemu wanita galak seperti tadi.

Kau mengangkat kepalamu, menatap langit berawan. “Kenapa tidak ada jalan ke atas?” tanyamu.

Kemudian kau menunduk, melihat ke bawah. Kau menggeleng, bukan karena kau tidak mengakui kebingunganmu, tapi karena kau menemukan jalan buntu yang menuju ke bawah.

“Jalan ke neraka sudah ditutup aspal.”

Kau putuskan melangkah ke depan. Berjalan di jalan yang lurus. Tidak mengapa harus berhadapan dengan wanita seperti tadi, karena memang jalan yang lurus penuh dengan cobaan.

Dulu kau orang yang cukup kaya, namun belum masuk kategori kelewat kaya. Kau mampu beli rumah baru, mobil baru, motor baru, apalagi baju baru. Pokoknya kau pernah membeli yang baru-baru. Kecuali istri baru.

Kau punya istri yang cantik. Kau punya anak laki-laki yang sehat. Kau orang yang paling bahagia di dunia. Sampai akhirnya kemalangan menyerangmu. Kau ditipu oleh rekan bisnis sekaligus temanmu. Namanya Bamudin. Semua hartamu dilarikan olehnya. Nama baikmu dirusak, dicemarkan ke mana-mana. Usahamu bangkrut, utang menumpuk, istrimu pergi karena tidak tahan hidup bersamamu. Anakmu dibawa serta karena kau tidak mampu membeli susu. Setidaknya anakmu tidak apa-apa pergi bersama istrimu karena istrimu tidak perlu membeli susu karena sudah menyediakan susu secara alami.

Kau marah sekaligus tak berdaya. Dendam menusuk ubun-ubunmu hingga menembus otak. Dendam harus dibalaskan, jika tidak, dendam akan menghantuimu di sepanjang hidupmu. Kau pernah mendengar seorang berkata bijak kepadamu, bahwa balas dendam yang paling manis adalah menjadi bahagia.

“Bahagia gundulmu!”

Lihat selengkapnya