Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #4

Dendam

Kau masukkan tanganmu ke kantung celana. Ada selembar uang seratus ribuan di dalamnya. Uang itu berasal dari brankas bawah tanahmu. Kau tidak punya pilihan lain. Beberapa hari ini penghasilanmu tidak mencapai target. Seandainya kau bekerja di perusahaan dan punya seorang bos kau pasti sudah diajak bicara baik-baik. Bicaranya saja baik-baik tapi gaji tetap dipotong.

Karena uang itu kau mulai berubah. Pikiranmu, gerak-gerikmu. Ternyata punya uang banyak—yang didapatkan secara mudah—punya efek samping. Kau jadi malas bekerja. Kau jadi kebanyakan berpikir yang jauh. Dorongan untuk menguasai uang itu semakin hari semakin besar. Mungkin pada dasarnya kau itu manusia rakus. Pada malam hari kau bertekad jadi orang baik, namun saat matahari terbit kau berubah jadi orang tamak.

Di beberapa kesempatan kau kembali ke tempat kau menemukan uang itu. Rasa ingin tahu memang tidak bisa dibendung. Kau masih penasaran siapa pemilik uang itu. Mungkin ada orang yang mencari uang itu di sana. Kalau orang itu tampak baik, kau mungkin mau mengembalikannya. Kalau orang itu kelihatannya jahat, kau mungkin akan pura-pura tidak melihatnya. Kau berharap yang muncul adalah orang jahat. Namun yang muncul adalah seorang pemulung yang tak beruntung. Dia tak beruntung karena kau yang lebih dulu menemukan uangnya.

Uang itu membuat tidurmu tidak nyenyak. Sampai-sampai kau bawa uang itu ke dalam mimpi. Sayangnya tidak bisa kau habiskan di sana. Dua hari yang lalu kau bermimpi uang itu milik seorang pria paruh baya. Uang itu akan digunakan untuk biaya operasi isterinya yang menderita penyakit jantung. Di dalam mimpi itu merasa bersalah, di dunia nyata kau merasa beruntung. Lalu kemarin kau bermimpi uang itu milik seorang pejabat korup yang mendapatkan uang itu dari hasil suap menyuap. Di dalam mimpi itu kau geram, di saat terbangun kau merasa sedang bermimpi.

Di dalam mimpi kau bisa bertindak sesuai keinginanmu. Kau ingin pejabat korup itu segera dipenjara tanpa disidang. Bahkan di dalam mimpi kau tidak percaya peradilan yang adil. Keadilan itu semu katamu. Tidak pernah ada yang namanya keadilan. Keadilan hanyalah karangan manusia, dibuat oleh manusia, jadi manusia yang menentukan sesuatu itu adil atau tidak. Kalau keadilan itu ciptaan Tuhan, biar Tuhan saja yang turun tangan, kenapa kau harus ikut repot?

“Mau ke mana, Bang?” tanya Boski yang tiba-tiba nongol di sebelahmu.

Seperti biasa dia mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpennya. Dia tidak akan menulis sesuatu sebelum kau menjawab pertanyaannya. Kau semakin yakin dia sedang mencatat kegiatanmu sehari-hari. Kemarin dia bertanya makanan apa yang kau makan, bagaimana buang air besarmu apakah lancar atau macet, apa warna air kencingmu, apakah kuning atau bening. Meski pertanyaan itu tidak penting kau tetap saja menjawabnya.

“Mau jalan-jalan,” jawabmu yang langsung pergi tanpa memutuskan mau ke mana.

Kau tidak mau berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan aneh Boski. Akhirnya kau hanya berjalan berputar-putar di sekitaran TPA, paling jauh kakimu membawamu ke deretan gubuk kumuh para pemulung.

Di depan rumah-rumah itu bertumpuk botol-botol plastik dibungkus jaring. Kadang ketika kau kesal kau ambil salah satu botol itu dan kau lempar ke tong sampah. Dan ketika kau ingat Bamudin, kau tendang botol-botol itu hingga berhamburan di jalan. Pemilik botol marah besar kepadamu dan menyuruhmu membereskan kekacauan yang kau buat. Biasanya kau tidak menuruti permintaan mereka, kecuali mereka memintamu secara baik-baik.

Kau berjalan melewati warung langganan para pemulung untuk beristirahat.

“Mungkin Tuhan sudah mati,” kata seorang pria paruh baya yang duduk ongkang-ongkang kaki sambil menyeruput kopi pahitnya. Kau sebut orang itu dengan nama “orang sok tahu”, disingkat OST. Lama-lama karena lafal pengucapannya, OST berubah menjadi Weste.

Kau yang sekadar lewat di warung itu tak sengaja menguping pembicaraan antara para pemulung dengan Weste.

Tuhan sudah mati? Kenapa tidak kau dengar beritanya? Beritanya pasti lebih heboh dari berita kematian selebriti terkenal. Kalau bisa kau ingin menghadiri prosesi pemakaman-Nya, menaburkan bunga-bunga di atas makam-Nya. Pasti banyak orang yang menangisi kepergian-Nya. Namun kau tidak begitu khawatir karena saat Tuhan mati akan muncul Tuhan-Tuhan yang lain. Kalau pun akhirnya ada banyak Tuhan, minimal kau bisa memilih salah satu Tuhan yang ada. Kau tinggal pilih Tuhan mana yang menurutmu paling baik. Terserahlah. Pada akhirnya Tuhan pilihanmu tidak peduli pilihanmu. Mau miskin ya miskin saja.

Sebagai mantan pengusaha sukses yang tiba-tiba menjadi pemulung, kau tidak peduli dengan keputusan Tuhan. Orang bilang setiap cobaan sudah diukur sesuai dengan kemampuan masing-masing manusia. Sudah ada takarannya, bisa kurang tapi tidak boleh lebih. Kalau sampai lebih, Tuhan main-mainnya sudah keterlaluan. Kalau cobaannya sudah kelewatan artinya kau disuruh mati saja. Kau tidak pantas jadi ciptaan-Nya. Kau hanyalah produk gagal yang tidak lolos quality control. Kau termenung, ternyata Tuhan Yang Maha Sempurna bisa juga bikin produk yang tidak sempurna. Tapi tak mengapa. Kalau semua manusia diciptakan sempurna, bisa-bisa semua manusia mau jadi Tuhan. Tentu saja Tuhan tidak mau disaingi ciptaan-Nya sendiri.

“Kita ini hanyalah alat yang diperalat,” lanjut Weste dengan nada bangga. Dia seolah tahu segalanya. Setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya bisa ia jawab seolah-olah jawabannya adalah yang paling benar.

Kau setuju dengan apa yang Weste katakan. Kau hanyalah alat yang diperalat. Kau melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepadamu. Kau terima itu sepenuh hati tanpa protes. Seandainya kau berhasil memukul orang sampai giginya rontok, itu karena perintah Tuhan. Tuhan sudah menentukan. Kalau bukan perintah Tuhan giginya pasti tidak rontok.

“Kalau kita ini hanyalah alat, lalu ketika kita bunuh orang, yang sebenarnya ngebunuh itu Tuhan apa kita? Kau ambil pisau, kau tancapkan di jantung orang. Pembunuhnya pisau itu apa kamunya?” Weste bertanya kepada orang-orang itu. Namun tidak ada yang menjawab, mungkin takut dosa karena secara tidak langsung menyalahkan Tuhan.

Weste menggeleng, kemudian menyeruput kopi panasnya. Kelihatannya nikmat sekali meski kopi itu pahit. Untuk bisa menikmati hidup memang harus tahu dulu pahit-pahitnya.

“Bunuh orang atas nama Tuhan. Kau bunuh orang dan orang itu mati kau katakan itu kehendak Tuhan. Kalau bukan kehendak Tuhan ya orang itu nggak bakalan mati ‘kan?”

Kau jadi berpikir. Jika Tuhan yang menggerakkan dirimu dan semua orang, maka kau hanyalah alat. Kau bunuh orang memakai pistol, manusia yang berdosa, bukan pistolnya. Pistol hanyalah alat. Kau juga adalah alat. Kesimpulan yang kau ambil, kau tidak berdosa.

“Pusing!” teriakmu.

“Kenapa kau pusing?” tanya Weste yang mau menyeruput kopinya namun tak jadi karena tertarik dengan kepusinganmu.

“Nggak punya uang, Bang.”

“Oh.” Weste manggut-manggut.

Tidak punya uang adalah jawaban yang paling masuk akal sebagai penyebab pusing di zaman sekarang.

Kau tidak ingat kapan terakhir kau berdoa. Mungkin delapan tahun yang lalu ketika kau masih punya impian. Impian itu memang pada akhirnya dikabulkan. Kau jadi pengusaha sukses. Kau senang. Saking senangnya kau lupa berterima kasih. Kau pikir mungkin karena kau lupa berterima kasih kepada Tuhan, jadinya Tuhan kesal kepadamu dan menghukummu menjadi miskin. Kau menggeleng. Tuhan tidak kesal. Tuhan hanya lupa. Tuhan lupa pada orang-orang yang tidak ingat.

Kau lanjutkan perjalananmu sampai akhirnya kau sampai di depan pintu masuk TPA. Kau mondar mandir di sana. Kau tidak tahu apa yang akan kau lakukan. Kau tidak punya tujuan, jadi kau anggap Tuhan memerintahkan kakimu untuk berjalan mondar-mandir. Kau anggap Tuhan adalah tempat pelarian. Apabila sesuatu yang tidak jelas terjadi, semua itu karena Tuhan yang mau, bukan maumu.

Kau masuk ke TPA. Namun dalam perjalananmu menuju gubuk, kau berbalik ke arah. Kau tiba-tiba ingin keluar lagi.

Dalam ketidakjelasan langkah kakimu—yang sekali lagi kau limpahkan ketidakjelasan itu kepada Tuhan—kau memutuskan pergi mengunjungi makam ayah dan ibumu. Makam itu bukan makam yang berisi jasad ayah dan ibumu. Karena makam itu adalah tugu peringatan mereka yang tenggelam dalam sebuah kecelakaan kapal laut sepuluh tahun yang lalu.

Lihat selengkapnya