Dulu istrimu yang mengurus kebutuhanmu. Kau tinggal minta apa pun yang kau mau. Kau minta makanan enak, istrimu tinggal memasaknya. Kau minta kopi, istrimu tinggal membuatnya. Kau minta dipijat, istrimu tinggal mendatangkan tukang pijat.
Sekarang kau tidak punya istri. Kau mengurus dirimu sendiri. Memang tidak mudah. Kau bahkan tidak bisa mengurus keuanganmu sendiri. Kau keluarkan dua lembar uang seratus ribu dari kantung celanamu. Uang seratus ribu yang kemarin sudah habis kau belikan makan, minum, dan rokok. Kau jadi boros. Kau pun ikut merokok, padahal kau tahu merokok itu merusak kesehatan.
Kau penasaran kenapa ada orang suka merokok sehabis makan. Kau coba menikmatinya. Sedotan pertama kau terbatuk, sedotan kedua kau masih terbatuk, sedotan ketiga kau lempar rokokmu ke tong sampah. Kau nyalakan lagi rokok yang kedua. Siapa tahu rasanya beda. Nyatanya rasanya masih sama. Kau isap sampai habis. Hanya caranya sedikit berbeda. Kau hanya perlu mengisap asapnya sampai di mulut saja, tidak perlu sampai ke paru-paru. Kau menemukan cara merokok yang sehat.
Satu lembar seratus ribu kau masukkan kembali ke kantung celana. Satu lembar lagi kau kibaskan di muka seorang anak kecil. “Ini uangnya,” katamu seraya menyerahkan selembar uang seratus ribu itu kepada si anak kecil. Anak kecil itu masih kelas enam sekolah dasar.
“Ukuran kecil cukuplah,” ujarmu.
“Siap!” sahut anak kecil itu yang kemudian berlari keluar taman bermain.
Jarak antara taman bermain ini dengan tempat kau bertemu dengan Bamudin kemarin sekitar seratusan meter. Kau yakin orang itu akan kembali. Manusia itu makhluk kebiasaan. Tempat yang pernah ia kunjungi akan ia kunjungi lagi. Entah kapan. Sehari, dua hari, setahun, dua tahun. Kau tidak peduli, kau hanya ingin menghajar orang itu.
Banyak orang tua yang memandangimu penuh curiga. Mereka menyuruh anak-anak mereka agar tidak dekat-dekat denganmu. Mereka anggap kau punya tampang seorang penculik anak. Padahal penampilanmu hari ini kau ubah. Kau mengganti baju dan celanamu dengan yang baru tapi bekas. Kau sisir rambutmu, juga kumis tipismu. Tampangmu bukan lagi tampang pemulung yang murung. Kau mendekati penampilanmu yang dulu. Uang telah mengubahmu.
Berawal dari mengambil uang seratus ribu, akhirnya kau keceplosan ambil lima ratus ribu. Cukup untuk mengubah penampilanmu. Rencanamu untuk mengembalikan uang itu sudah kau hapus. Kau tidak peduli siapa pemiliknya. Penyelidikanmu tentang uang itu kau hentikan di hari ketiga. Kau berhenti di hari ketiga karena di hari keempat kau sakit kepala sebelah.
“Es krim! Es krim! Siapa mau es krim!” teriak penjual es krim yang masuk ke taman bermain.
Penjual es krim dalam sekejap dikerumuni anak-anak yang suka es krim. Seandainya mereka tidak suka es krim tentu penjual es krim itu akan diusir.
Anak-anak itu meloncat-loncat agar diberikan pertama. Kau pun tidak melewatkan kesempatan membeli es krim. Daripada tidak melakukan apa-apa selama menunggu kabar dari informanmu.
Kau antri paling belakang. Tidak apa-apa menjadi yang terakhir karena kau yakin penjual es krim itu masih punya banyak persediaan.
Setelah mendapatkan keinginanmu, kau duduk di ujung salah satu perosotan. Es krim di tanganmu kau biarkan meleleh. Kau tatap es krim yang berwarna merah muda itu. Kau salah pilih warna, tapi tidak salah pilih rasa. Rasanya tetap manis, semanis balas dendam yang ada di dalam kepalamu. Kau jilati es krim itu, kau kulum ujungnya. Rasa yang sudah lama tidak kau rasakan. Kau terharu. Es krim itu membuatmu terharu. Terakhir kali kau makan es krim adalah ketika ibumu membelikannya saat kau masih kecil. Kau telah menyia-nyiakan waktumu. Seandainya kau sadar dari dulu kalau es krim itu sangat enak, kau mungkin berakhir menjadi seorang penjual es krim.
“Om, minggir, Om,” kata seorang anak kecil yang ingin meluncur di perosotan itu.
“Berisik!” desismu, kemudian kau habiskan es krimmu dalam sekali lahap.
Anak kecil itu mendengus, tidak bisa protes. Mereka tahu tidak ada orang tua yang mau mendengarkan omongan anak kecil. Anak itu kemudian mencari permainan lain. Masih ada ayunan, mangkok putar, panjat jaring, dan main smartphone. Kau lihat ada anak yang asik dengan smartphone-nya. Kau langsung punya keinginan untuk beli satu, toh kau punya banyak uang.
Anak yang kau suruh membeli pizza kembali dengan pizza ukuran kecil. “Tidak ada kembalian,” kata anak itu.
“Ada info apa?” tanyamu.
“Orang yang Om cari tidak datang lagi.”
Kau buka kotak pizza itu, mengambil satu potong dan menggigitnya. Setelah dua tiga kunyahan kau langsung berdiri, membalikkan badanmu bersiap untuk pergi.
“Upahnya, Om?” tanya anak itu.