Pistol adalah senjata yang paling efektif untuk menghilangkan nyawa. Selain efektif juga sangat cepat. Itu yang kau simpulkan setelah menonton film koboi di telivisi. Kau mengkhayal punya pistol. Kau membayangkan sedang menembaki burung-burung yang terbang di langit. “Dar der dor!” Burung-burung itu berjatuhan karena tembakanmu selalu tepat sasaran. Waktu kecil kau punya pistol, pistol air lebih tepatnya. Ketika kau haus tinggal kau tembakkan pistol itu ke mulutmu. Untungnya tidak ada yang mati.
Kau bangkit dari tempat tidurmu. Kau mencari golok yang kau dapatkan dari Irma. Golok bisa jadi alternatif senjata balas dendam. Kau cari ke sana ke mari namun tidak kau temukan. Kau yakin sudah menyimpannya dengan baik dan benar. Seingatmu kau simpan di dalam peti. Peti itu kau buka tutup berkali-kali, golok yang kau cari tidak juga muncul. Tidak mungkin golok itu menghilang begitu saja dari dalam peti. Kau bukan pesulap.
Tiba-tiba kau dikejutkan oleh suara tawa Guntu yang sangat keras. Kau yakin tawanya itu bisa membangunkan beruang kutub yang sedang hibernasi di kutub utara. Suara tawa itu membuat seluruh tubuhmu terasa sakit. Sepertinya kau butuh banyak istirahat. Namun kau tidak mau dengar jeritan tubuhmu yang kelelahan. Yang ada di dalam pikiranmu adalah segera menemui Londo. Kau ingin menyampaikan keputusanmu untuk balas dendam.
Kau lipat karpet dan tikarmu, menggali tanah untuk mengambil uangmu. Kau ambil asal saja, pokoknya lebih dari cukup. Tidak seperti kemarin yang kau ambil mengikuti rencana pengeluaranmu.
Hari ini kau pikir akan melakukan hal besar. Tidak peduli lagi kalau kau melakukan kesalahan atau tidak. Manusia itu tempatnya salah, jadi menurutmu tidak masalah. Kalau pun kau salah, polisi akan menangkapmu dan menjebloskanmu ke penjara. Di dalam penjara kau bisa merenungi kesalahanmu dan merencanakan ulang masa depanmu. Kau berharap penjara akan mengubahmu menjadi orang yang punya perencanaan yang lebih baik.
Tiba-tiba kau teringat dengan istrimu lagi. Kau rindu dengan sentuhan lembut istrimu. Namun ketika kau ingat istrimu telah meninggalkanmu, sentuhan itu bisa digantikan oleh sentuhan wanita lain. Toh sama-sama disentuh, tidak peduli siapa yang menyentuh. Kau juga ingat dengan anakmu. Sekarang anak itu sudah tumbuh besar.
“Tunggu dulu!” Kau belum yakin dengan anak yang kau lihat tempo hari adalah anakmu. Mungkin saja istrimu membuang anakmu, karena setiap melihat anakmu istrimu teringat denganmu. Bukankah istrimu itu membencimu. Namun setega-teganya seorang ibu tidak mungkin tega membuang anaknya. Setidaknya dititipkan di panti asuhan. Lalu kenapa pula istrimu bersikeras mengajak anakmu pergi jika hanya untuk dititipkan? Ya, mungkin istrimu tidak rela kau mengasuh anakmu, karena masa depanmu suram. Lebih baik masa depanmu yang suram daripada masa depan anakmu.
Kau keluar gubuk, melihat Guntu sedang duduk sambil melipat-lipat karungnya. “Lain kali bisakah kau diam!” bentakmu kepadanya.
“Apa masalah lu, Man?” tanya Guntu. “Elu pengen lihat gigi-gigi gue yang menawan ini?” tanya yang seketika menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi hitamnya di depan wajahmu.
Kau memalingkan wajahmu. “Busuk!” desismu.
Guntu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi jijik di wajahmu. Kau kepalkan tanganmu. Tanpa melihat posisi Guntu, kau melayangkan pukulanmu. Pukulan itu tepat mengenai wajahnya. Guntu terpelanting, tubuhnya terbaring di tanah tak sadarkan diri. Kau menatap tubuh itu, kemudian kau amati kepalan tanganmu. Kau tersenyum penuh kemenangan. Tanganmu benar-benar digerakkan oleh Tuhan. Jika tidak, tangan itu tidak akan bisa mengenai wajah Guntu. Padahal kau memalingkan wajahmu ketika memukul. Memang benar tangan Tuhan tak pernah salah sasaran.
Kau keluar dari TPA, menuju ke dekat taman seperti yang dijanjikan. Namun kau lupa, pertemuanmu dengan Londo adalah besok. Kau pun kesal. Kau ubah alur perjalananmu dari taman menuju entah ke mana.
“Mau pergi ke mana, Bang? Nggak mulung lagi, Bang?” tanya juniormu yang tak sengaja kau temui di dalam jalur baru perjalananmu. Kau sempat lupa siapa namanya. Sekarang kau ingat. Namanya Apel. Nama buah-buahan.
Kau tidak tahu kenapa Apel diberi nama Apel. Mungkin waktu bayi Apel suka sekali makan apel. Tentu saja seorang bayi tidak bisa langsung makan apel yang utuh. Butuh diparut dulu atau dikunyah dulu oleh ibunya baru dikasih makan bayinya.
“Bodo amat!” sahutmu.
“Mau balas dendam ya, Bang?”
Seketika kau tarik leher baju Apel dengan kedua tanganmu. “Tahu apa kamu, hah?”
“Ya tahu, Bang. Bukannya semua orang sudah tahu?”
Kau melepaskan genggamanmu dan bergegas pergi. Kau ingat ucapan Londo, bahwa semua orang sudah tahu tentang dendammu. Kau tidak percaya semua orang di dunia ini bisa membaca pikiranmu. Jika mereka semua bisa membaca pikiranmu, kenapa kau sendiri tidak bisa membaca pikiran mereka? Ketidaktahuan tentang pikiran orang lain adalah ketidakadilan, pikirmu. Jika mereka bisa membaca pikiranmu mereka pasti sudah tahu tentang uang itu. Nyatanya uangmu masih utuh. Jika mereka tahu sudah pasti uangmu mereka ambil. Kekesalanmu pun mereda sedikit.
Tatapanmu kemudian ditarik oleh seorang anak kecil berpakaian kumal yang membawa gitar kecil. Anak itu sedang mengamen. Ia bernyanyi lagu cinta. Lagunya kedengarannya asik. Namun menurutmu lagu cinta tidak cocok dinyanyikan anak-anak yang belum cukup umur. Mereka bisa cepat dewasa. Masih kecil saja sudah tahu cinta-cintaan, nanti kalau sudah besar mau jadi apa?