Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #7

Peluru

Kau pulang dengan beban. Kau bayangkan pistol yang terselip di pinggangmu sedang menjerit kesakitan. Ia tidak berdaya. Ia butuh peluru yang mengisi kekosongan jiwanya. Apalah guna sebuah pistol tanpa peluru? Sama saja seperti tubuh tanpa jiwa. Kau butuh peluru untuk melaksanakan dendammu. Namun kau tidak begitu khawatir. Kau sudah punya uang untuk membelinya. Kau tinggal menemukan penjualnya.

“Hei, bangsat! Elu apain Guntu, hah?” Darmo tiba-tiba menghadang jalanmu. Wajahnya memerah, matanya mendelik penuh amarah.

“Emangnya kenapa dia?” tanyamu.

“Elu pukul dia sampai hilang semua giginya, Bangsat!”

“Itu sudah kehendak Tuhan. Mau dikata apa lagi.”

Rahang Darmo mengencang, tangannya terkepal siap untuk melayangkan pukulan. Kau yang merasa dalam bahaya dengan cepat meraih pistolmu. Kau acungkan pistol itu ke arah Darmo.

Darmo terkejut, ia mundur selangkah demi selangkah. Dia tidak menduga kau mengeluarkan senjata andalanmu. Di dalam benaknya kau bukan polisi yang punya pistol. Tidak mungkin seorang pemulung sepertimu punya pistol.

“Jangan mendekat! Atau kutembak!” ancammu.

Darmo mengangkat kedua tangannya. “Dapet di mana elu?”

“Gue temukan di dekat kantor polisi!” jawabmu.

Darmo mundur perlahan dan akhirnya lari menjauh.

Kau menghela napas lega. Kau tidak menyangka pistol yang tidak berisi peluru bisa membuat orang takut setengah mati. Kau mengangguk tanda mengerti. Selama orang tidak tahu apa kelemahan dan kekuranganmu, kau tidak perlu takut untuk menggertak, kau tidak perlu takut untuk bergerak. Kau semakin yakin kau akan berhasil menuntaskan dendammu.

Karena tak ingin bertemu Darmo lagi, kau putuskan untuk jalan-jalan keluar bersama pistolmu. Kau selipkan dengan hati-hati pistol itu di pinggangmu, takut meletus. Namun segera kau sadari pistol itu tidak berisi peluru, tidak mungkin meletus.

Kau berjalan tanpa tujuan yang jelas. Di dalam perjalananmu kau bertemu dengan Weste. Kali ini Weste sedang duduk sendirian di pinggir sungai sambil melempar-lempar batu-batu kecil ke sungai.

“Apa yang sedang kau lakukan, Bang?” tanyamu.

Weste menoleh. “Kamu lagi. Mau apa kamu datang ke sini?” tanyanya balik.

“Kau tahu di mana aku bisa beli peluru, Bang?” tanyamu.

“Peluru?”

“Iya, peluru.”

“Untuk apa?”

“Untuk mengisi pistolku.”

“Kau pikir aku tahu?”

“Kalau kau tahu banyak hal tentang Tuhan bagaimana mungkin kau tidak tahu di mana aku bisa membeli peluru?”

Orang itu tertawa terbahak-bahak. “Logikamu di mana, Bung?”

“Orang yang tahu banyak hal tentang Tuhan seharusnya tahu segalanya.”

Orang itu manggut-manggut. Mungkin merasa dirinya memang tahu segalanya. Hal sepele seperti tempat membeli peluru harusnya bisa ia ketahui.

“Saat ini aku sangat membutuhkan peluru. Aku tidak tahu ke mana harus mencari. Kau tahu ke mana aku harus mencari?”

“Kau pergi saja ke penjual peluru!”

“Di mana itu?”

Lihat selengkapnya