Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #8

Polisi

Polisi termasuk profesi yang sulit. Buktinya dari pagi mereka berdiri di pinggir jalan sambil menggerak-gerakkan tangannya tanpa henti. Begitu juga suara peluit dari mulut mereka terdengar sepanjang hari. Mereka dengan sabar mengatur orang-orang yang tidak bisa diatur. Seandainya orang-orang sudah tertib, polisi tidak lagi diperlukan. Kalau di jalan mereka tidak diperlukan, masih ada tugas lain yang lebih berbahaya, yaitu menangkap penjahat.

Kau pikir polisi bisa membantumu menangkap Bamudin, karena Bamudin adalah penjahat. Namun sampai saat ini Bamudin belum terbukti sebagai seorang penjahat. Jika kau bisa buktikan itu dan menjebloskan Bamudin ke dalam penjara maka kau sukses balas dendam menggunakan jalan yang benar. Tapi kau ingin Bamudin mati. Maka kau butuh bukti Bamudin telah melakukan tindak kejahatan luar biasa yang menurut hukum pantas dihukum mati. Kau perlu mencari bukti bahwa Bamudin adalah seorang bandar narkoba kelas kakap. Namun sepertinya hal itu mustahil dilakukan. Sepengetahuanmu Bamudin tidak pernah menjual narkoba. Sejahat-jahatnya Bamudin, orang itu tak mau merusak generasi muda.

Kau pergi ke taman bermain untuk menenangkan pikiranmu. Di sana kau melihat anak-anak bermain. Kau teringat lagi dengan anakmu. Kau membayangkan sedang bermain dengan anakmu di perosotan, di ayunan, di komedi putar. Kau juga membayangkan istrimu yang ikut bermain dengan anakmu. Kau memimpikan sebuah keluarga yang bahagia, dambaan semua orang.

Kau bertanya kepada pasir kenapa ada keluarga yang bahagia dan ada yang tidak. Pasir tidak punya jawaban, tapi kau punya jawabanmu sendiri. Keluarga yang bahagia punya masalah kecil, sedangkan keluarga yang tidak bahagia punya masalah kecil yang suka dibesar-besarkan. Bahagia bukan masalah punya masalah atau tidak, tapi lebih kepada cara pandang mereka terhadap masalah tersebut.

Tumben kau bijaksana, Bung!”

“Diam kau!”

Kau duduk termenung, satu tangan menopang dagu. Kau memikirkan cara agar kau bisa memiliki keluarga yang bahagia. Setelah balas dendammu selesai, kau berencana untuk meminta istrimu kembali. Perasaanmu kepada istrimu masih sama, terutama setelah kau melihat sendiri istri dan anakmu. Kau hanya belum yakin tentang perasaan istrimu kepadamu. Kau juga khawatir tentang perasaan anakmu terhadapmu. Kau sudah lama menghilang dari kehidupan mereka. Tidak mudah untuk kembali lagi. Kau takut mereka akan menolakmu. Mengingat keadaanmu yang sekarang, kau yakin mereka akan menolakmu bahkan sebelum kau merencanakannya.

“Di sini kau rupanya.” Londo tiba-tiba muncul di depanmu.

“Aku gagal.”

“Kalau begitu coba lagi.”

“Aku kehilangan pistolku.”

“Hilang? Ya, Tuhan. Bagaimana bisa kau menghilangkannya? Pistol itu adalah satu-satunya jalanmu untuk balas dendam, dan kau menghilangkannya? Itu bukti kau tidak serius menuntaskan dendammu.”

“Aku selalu serius.”

“Buktinya?”

“Pistol itu tidak ada gunanya tanpa peluru. Kau memberikanku pistol tanpa peluru. Kau sama sekali tidak membantu. Bantuanmu hanya setengah-setengah. Tidak sepenuh hati.”

“Lebih baik setengah daripada tidak sama sekali.”

“Semua ini adalah salahmu!”

“Salahku? Ngomong apa kau!”

“Seandainya kau memberiku pistol dan peluru, hal ini takkan terjadi. Kau tidak tahu betapa sulitnya menemukan penjual peluru. Kau tidak memberikan petunjuk sedikit pun.”

“Kau bisa menggunakan isi kepalamu sebagai peluru,” kata Londo seraya menunjuk-nunjuk kepalanya. “Itulah kenapa kita punya otak!”

“Otak tidak bisa digunakan sebagai peluru.”

“Otakmu adalah pelurumu!”

“Kau itu ngomong apa!”

“Batok kepalamu adalah pistolnya, otakmu adalah pelurunya. Apakah kau mengerti?”

Kau terdiam, mencerna setiap kata. “Jadi kau mau bilang aku tidak punya otak?”

“Kau memang tidak punya otak! Kau itu sudah kehilangan pikiranmu! Kau itu sudah kehilangan kewarasanmu! Kau itu orang gila, Man! Tidakkah kau sadari itu?”

Lihat selengkapnya