Penjara bukan tempat favorit semua orang. Namun nyatanya penjara selalu penuh. Kau bisa saja menyalahkan hakim yang memberi hukuman penjara terlalu lama. Jadinya yang masuk penjara lebih banyak daripada yang keluar penjara. Padahal negara sudah berbaik hati mengumbar remisi, tidak peduli koruptor kelas kakap sampai penjahat kelamin. Asal berkelakuan baik—atau pura-pura baik—tetap saja dapat remisi. Kau juga tidak tahu standar berkelakuan baik itu seperti apa, karena kau tidak pernah dipenjara. Apakah berdiam diri saja termasuk berkelakuan baik?
Kau dijaga ketat oleh banyak polisi ketika mereka menggelandangmu ke penjara. Entah berapa banyak polisinya kau tidak sempat menghitungnya. Kau heran kenapa penjahat kelas teri sepertimu dikawal banyak polisi. Kau merasa dirimu tidak berbahaya.
Selama perjalanan menuju jeruji besi kau sempat melakukan perlawanan. Entah itu dengan meronta, meneriakkan kata-kata kotor, hingga menendang-nendang angin. Namun apalah dayamu, kekuatanmu tidak seberapa di mata hukum. Kau tahu tangan-tangan hukum terlalu kuat mencengkeram tubuh orang-orang lemah sepertimu. Orang lemah itu lemah di mata aparat penegak hukum, namun setara di mata hukum. Sayangnya hukum tidak bisa bergerak sendiri, ia masih butuh tangan dan kaki yang menafsirkan bahasanya. Jadi tidak mengapa jika terjadi salah tafsir, namanya juga manusia.
Kau pun tidak heran jika orang yang mencuri sandal hukumannya lebih berat daripada orang yang mencuri uang rakyat. Pencuri sandal itu lemah, pencuri uang rakyat itu kuat. Masalahnya menjadi semakin pelik ketika yang punya sandal ternyata yang mencuri uang rakyat. Jelas yang mencuri sandal kalah suara.
Mereka menendangmu masuk ke balik jeruji besi. Kau tersungkur ke lantai yang dingin dan berdebu. Kau terbatuk. Kau pun bangkit. “Lepaskan saya!” teriakmu seraya menggoyang-goyangkan jeruji besi, berharap jeruji itu terbuat dari kayu yang sudah lapuk dimakan rayap.
“Diam!” bentak polisi itu kepadamu. “Mau aku tambahkan hukumanmu?”
“Yang bisa nambahin hukuman saya itu hakim!”
“Diam kamu!”
“Salah saya apa?”
“Salahmu lahir di dunia ini! Coba kamu nggak lahir, ya nggak akan salah!”
Kau tertunduk menahan sesal di dadamu. Ucapan polisi itu menusuk benakmu terlalu dalam. Kau memang pernah menyesal karena sudah dilahirkan ke dunia ini. Kadang kau ingin menuntut kedua orang tuamu karena menghadirkanmu ke dunia yang kejam ini tanpa persetujuanmu. Kau pun pertanyakan, dari mana dua manusia berbeda jenis kelamin bisa memiliki hak untuk membuka jalan seorang anak manusia yang tanpa dosa ke dunia yang dipenuhi dengan penderitaan dan kesulitan ekonomi.
Kau mempertanyakan arti dilahirkan kalau ujung-ujungnya akan tetap mati. Entah dilahirkan di keluarga yang kaya raya delapan turunan, atau dilahirkan di keluarga miskin tujuh tanjakan. Keduanya tidak ada bedanya. Bahkan dilahirkan jadi monyet pun tidak ada bedanya.
“Apa yang harus aku lakukan?” bisikmu kepada lantai.
“Anda tidak apa-apa?” tanya sesama penghuni ruangan tiga kali tiga meter itu kepadamu. Pria itu menepuk pundakmu.
Kau merangkak menjauh dari orang itu. Kau yakin orang itu adalah seorang penjahat, karena hanya penjahat yang boleh ada di penjara. Mungkin tidak semua penghuni penjara adalah penjahat. Kau adalah salah satu pengecualian. Kau hanyalah orang yang kurang beruntung.
“Jangan takut, saya nggak gigit kok.”
“Siapa Anda?” tanyamu.
“Nama Saya Herman.” Orang itu mengulurkan tangannya. Dengan ragu kau pun menyambut tangan itu. Jabatannya terasa erat seperti rekan bisnis yang sudah saling percaya.
“Nama Anda siapa?” tanya orang itu kepadamu.
“Nama saya Man.”
“Man?”
“Budiman.”
“Oh, Budiman. Nama yang penuh arti,” ucap orang itu seraya mengangguk-angguk. “Budi artinya baik, Man artinya manusia. Jadi Budiman berarti manusia yang baik.”
“Anda salah.”
“Kenapa salah?”
“Budiman artinya Manusia yang bernama Budi.”
“Oh.” Pria itu mengangguk. “Jadi nama kita sama-sama berakhiran ‘man’. Berarti kalau Herman itu. ‘Her’ artinya punyanya seorang perempuan, ‘Man’ artinya laki-laki. Jadi Herman artinya laki-laki punyanya seorang perempuan.” Pria itu tertawa.
Kau tidak ikut tertawa, karena menurutmu itu tidak lucu.
“Kalau boleh saya tahu, kenapa Anda dimasukkan ke sini?” tanya Herman.