Dosa tidak mengenal batasan usia, ras, dan agama. Dosa hanya mengenal batasan spesies. Dosa tidak berlaku universal. Dosa khusus untuk spesies yang katanya bisa berpikir. Seekor singa yang membunuh singa yang lain tidak terkena dosa, tapi orang yang membunuh orang lain langsung terkena dosa, lalu dimasukkan ke penjara, habis dari penjara masuk ke neraka. Sungguh berat jadi orang, lebih baik jadi singa. Namun kau tidak mau jadi singa, kau ingin jadi burung beo. Kau bisa belajar bicara. Kau ingin pelajari kata-kata makian saja. Biarpun cuma binatang kau bisa bicara kotor sesukamu. “Goblok lu! Bangsat lu!” Namun masih dianggap lucu dan menggemaskan.
Selama di dalam penjara kau lebih banyak diam, karena diam itu tidak banyak bersuara. Ketika ditanya kau menyahut seadanya. Ketika ada yang bicara masalah pribadinya kau hanya mendengarkan saja. Tidak mudah menjadi pendengar yang baik. Pendengar yang baik itu mendengar bukan dengan telinga tapi dengan hati. Dari telinga turun ke hati. Namun hati bukan sembarang hati. Harus hati yang sehat. Kalau hatinya tidak sehat ujungnya bisa sakit hati.
Dari banyak mendengar kau jadi tahu banyak cerita. Ada cerita Suparno yang dipenjara karena mencuri alat kontrasepsi di minimarket. Lalu ada cerita Suparjo yang dipenjara karena melakukan pelecehan seksual di ruang publik. Menurutmu yang paling menarik adalah cerita Sutarjo yang sudah dipenjara selama tiga puluh tahun karena dituduh membunuh majikannya padahal bukan dia yang melakukannya. Kau tidak percaya begitu saja cerita itu. Cerita yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya hanyalah cerita bohong.
“Saya bersumpah saya tidak membunuh majikan saya,” kata Sutarjo yang hampir mengeluarkan air matanya.
Kau manggut-manggut saja karena itu bukan urusanmu. Dan sebulan kemudian kau mendapat kabar Sutarjo dibebaskan karena terbukti tidak bersalah. Kau anggap hal itu wajar karena hakim bukanlah manusia sempurna yang bisa membuat keputusan yang benar. Meskipun demikian, tetap saja hakim yang disuruh memutuskan.
“Kasihan Pak Sutarjo. Sebagian hidupnya dihabiskan di penjara padahal dia nggak bersalah. Sungguh kejam. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Siapa yang harus minta maaf?” tanya seorang tahanan.
“Tuhan,” jawabmu enteng.
Setelah tiga bulan mendekam di dalam penjara, akhirnya kau dibebaskan. Kau sudah berkelakuan baik. Sebelum bebas kau diminta menandatangani surat perjanjian tidak akan mengulangi perbuatan yang sama untuk selama-lamanya. Surat perjanjian itu tidak penting. Hanya coretan di atas kertas. Banyak pejabat yang sudah tanda tangan fakta integritas tetap saja korupsi.
Kau begitu gembira, meloncat-loncat ke sana ke mari, bernyanyi layaknya burung yang baru lepas dari sangkar. Kau maki-maki jeruji besi yang selama ini memagari kebebasanmu. Kau merasa terlahir kembali. Kau sudah punya tujuan yang jelas.
Hal pertama yang ingin kau lakukan ketika keluar dari penjara adalah memeriksa gubukmu yang sudah lama tidak terurus. Kau periksa di bawah karpet tempat tidurmu. Kau bisa bernapas lega karena uangmu ternyata masih utuh. Karena sudah lama tidak ada orang yang mengklaim kehilangan uang itu, kau pun berencana menyisihkan uang itu untuk kau sumbangkan kepada panti asuhan. Kau memutuskan untuk membagi-bagi dosamu kepada orang lain yang membutuhkan.
Kau merenung apakah dosa-dosamu bisa dibagi-bagi. Kau sudah mengambil uang yang bukan milikmu. Kau sudah berdosa karena mengambil uang itu dan menggunakannya untuk kepentingan pribadimu.
Kau bawa sebagian uang itu, memasukkannya ke dalam karungmu. Kau mengelilingi jalanan yang biasa kau lewati sambil menjalani keseharianmu sebagai seorang pemulung. Kau memunguti sampah yang berserakan di jalan, memasukkannya ke dalam karung. Ketika kau menemukan tong sampah kau membuang sampah itu, tidak termasuk uangmu. Kadang kau bingung, kau itu pemulung apa petugas kebersihan?
Seorang pengemis tua berjongkok di sebelah bak sampah. Pengemis itu mengais-ngais sisa-sia makanan dari bak sampah itu. Ketika ia menemukan bungkusan plastik yang berisi sisa makanan dari rumah makan di sebelah, dia tersenyum bahagia. Dengan lahapnya pengemis itu memakan sisa-sisa makanan dari bungkusan itu.
Kau memperhatikan pengemis itu. Hatimu tersentuh. Kau bisa rasakan rasa lapar yang dialami pengemis itu. Perutmu mulas, mau muntah. Matamu ingin menangis, namun air matamu sudah kau sumbangkan kepada korban bencana alam.
Dulu kau tidak punya apa-apa untuk disumbangkan, namun sekarang kau punya banyak uang. Tidak apa-apa menyumbang uang, selama kau punya uang. Uang adalah cara tercepat untuk meringankan beban orang lain, tapi beban akan tetap ada jika uang sudah habis. Yang menjadi pertanyaanmu adalah dari mana kau mendapatkan uang itu. Apakah yang menerima sumbanganmu perlu tahu dari dari mana kau mendapatkan uangmu? Mereka biasanya tidak peduli, karena mereka yang menerima kebaikan berpikir yang baik-baik saja tentangmu.
Tidak apa-apa memberi uang kepada yang dalam kesusahan, karena itu adalah salah satu cara menyucikan uangmu. Kau sedang mencuci uangmu dari dosa-dosa yang dibawanya. Lalu kau pun bertanya, apakah dosamu mengambil uang yang bukan milikmu akan berpindah kepada orang yang kau beri uangmu? Uang bisa saja ditransfer, tapi bagaimana dengan dosa?
“Dosa itu apa?” Suara di dalam kepalamu kembali mengganggumu. Pertanyaannya tidak perlu kau jawab.
“Diam kau!”
Kau dekati pengemis itu. Bisa kau rasakan penderitaannya. Kau ingin mengakhiri penderitaannya. Dunia ini menyediakan banyak cara untuk membantu. Kau bisa memilih satu di antaranya. Ada cara cepat, ada cara lambat. Kau suka cara yang cepat dan praktis. Dengan demikian hanya ada satu cara yang kau punya. Mati. Dan semua penderitaan pengemis tua itu akan hilang tanpa bekas. Sayangnya pistol yang dijanjikan kepadamu belum ada di tanganmu, sehingga kau pun tidak bisa menolong pengemis itu dengan cepat dan praktis. Kau masih punya cara lain.
“Saya punya uang untuk bantu kebutuhan sehari-hari. Mau, Kek?” tanyamu kepada pengemis tua itu seraya menyodorkan selembar uang seratus ribuan.
“Uang? Tidak, Nak. Saya tidak mau menerima uang.”
Kau tidak menduga jawaban kakek itu. Menurutmu semua orang senang diberi uang, apalagi orang yang lagi kesusahan seperti kakek itu. “Kenapa tidak mau, Kek? Kurang?”
“Saya ini bukan pengemis, Nak.”