Kau bermimpi indah tadi malam. Namun paginya kau sudah lupa mimpi indah itu bercerita tentang apa. Pokoknya yang kau ingat hanya indahnya saja, rincian kejadian mimpinya tidak. Indahnya yaitu kau melihat Bamudin mati tenggelam di laut. Kau berusaha mengingat setiap detail kejadian di dalam mimpi itu, namun yang namanya mimpi hanya bertahan sebentar. Apalagi jika mimpi itu sulit untuk diraih.
Dalam kesunyian gubukmu, kau duduk merenung dengan pistol yang berayun-ayun di tanganmu. Sesekali kau todongkan pistol itu ke pelipismu, kadang kau masukkan ke mulutmu, lalu kau arahkan tepat ke jantungmu. Kau belum memutuskan di mana titik yang paling tepat untuk menembakkan pistol itu. Mungkin ke selangkangan lebih mengesankan, atau memasukkan moncongnya ke lubang anus lebih mendebarkan. Kau berkeinginan lebih sadis dari itu.
“Jadi ini takdirku?” bisikmu.
Takdir sudah ditentukan oleh kuasa yang tak terlihat. Kuasa itu mengatur semuanya, menentukan semuanya sebelum semua itu terjadi. Itu yang kau sebut sebagai takdir yang tidak bisa dielakkan.
Tiba-tiba terbersit keraguan pada takdirmu. Apa pun bisa terjadi hari ini, detik ini. Darmo dan Guntu bisa saja tiba-tiba masuk ke dalam gubukmu dan merebut pistol milikmu. Atau mungkin saja kau tiba-tiba gila lalu pistol itu kau lempar ke tumpukan sampah. Karena itu kau tidak jadi balas dendam, kau urung menjadi seorang pembunuh. Lalu apakah semua itu bisa kau sebut takdir jika semuanya belum terjadi?
Karena terlalu banyak kebingungan di kepalamu, kau butuh seseorang untuk kau ajak diskusi. Kau pun pergi menemui Weste. Setahumu orang itu bisa diajak membahas segala hal, dari hal yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal.
Weste sedang duduk ongkang-ongkang kaki di warung kopi langganannya. Ia menghisap rokoknya, lalu mengembuskan asapnya ke udara. Orang-orang yang ada di dekatnya menutup hidung mereka, lalu pergi menjauh. Mereka tidak tahan dengan bau asap yang bercampur dengan bau mulut.
Dia menyeruput kopi panasnya, tampak menikmati. Lalu ia membuka mulut, menguap. Mulutnya berasap, begitu juga ubun-ubunnya. Mungkin terlalu banyak berpikir sampai-sampai kepalanya kepanasan.
Kau duduk di sebelahnya. “Pagi, Bang,” sapamu.
“Hei! Kau rupanya, Bung!” serunya. “Belum juga mati kau?”
“Kau tahu apa itu takdir, Bang?” tanyamu langsung saja tanpa basa-basi.
“Takdir?” Orang itu mengorek-ngorek lubang kupingnya dengan ujung kelingking, lalu mengendus-endus kelingking itu.
“Ya, takdir. Bisa kau jelaskan apa itu takdir, Bang?”
“Sulit menjawabnya karena nggak ada yang pasti. Orang bilang nasib dan takdir itu tidak sama. Nasib bisa diubah, sedangkan takdir nggak. Nasib bisa diubah oleh yang punya nasib, sedangkan takdir sudah ditentukan sama yang di atas. Yang di atas terlalu ikut campur sama nasib orang, jadinya nggak bisa ubah nasib, lalu bisa disebut takdir. Orang bilang nasib itu akibat peruntungan. Kalau kamu beruntung berarti nasibmu baik. Kalau takdir kembali lagi ke urusan yang menentukan takdir. Memang agak membingungkan. Kamu sudah ngerti?”
Kau menggeleng.
“Sederhananya gini, takdir itu seperti anjing Schrödinger. Kau tidak akan tahu kebenarannya sampai kau bisa mengamati dan mengukurnya.”
“Anjing sro…srodi…? Apaan?”
“Schrödinger, Anjing! Nggak pernah baca kamu ya?”
“Ya apalah itu. Maksudnya apa? Kau suruh aku pelihara anjing?”
“Itu loh, anjing yang dikurung di dalam kotak, ditaruh racun. Kau nggak tahu apakah anjing itu makan racunnya atau nggak, udah mati apa belum. Kau nggak bisa lihat karena kotaknya nggak tembus pandang.”
“Tergantung lamanya dikurunglah. Kalo udah lama dikurung ya pasti mati itu anjing. Emang anjing nggak butuh makan sama minum?”
Orang itu menggeleng. “Ah, sudahlah. Orang bodoh sepertimu tidak akan pernah mengerti analogi yang kuberikan.”
“Lebih baik jadi orang bodoh daripada jadi orang sok tahu,” katamu. “Eh, ngomong-ngomong, kok anjingnya yang dikurung, nggak kucing aja, Bang?”
“Kucing punya sembilan nyawa.”