Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #12

Bahagia

Bahagia itu penting. Derita juga tak kalah penting. Kau bahagia punya pistol dan peluru. Bisa jadi pistol bahagia menjadi pistol, sedangkan peluru tidak bahagia menjadi peluru. Peluru hanya sekali pakai. Pistol berkali-kali pakai.

Kau kubur pistolmu bersama uangmu. Mungkin pistolmu urung berbahagia karena kau kubur. Pistolmu jadi tidak berguna selama kau tidak tahu di mana keberadaan musuhmu. Kau sudah kehabisan cara menemukan orang itu. Ketika kau bertanya kepada Tuhan, Tuhan tidak pernah menjawab, karena peran Tuhan hanya sebatas sebagai pengamat bukan penjawab. Tuhan tidak pernah ikut campur dengan urusan remeh temeh yang kau hadapi. Tuhan tidak punya kepentingan dengan apa yang kau lakukan. Tuhan itu cuek.

Kau memutuskan berdebat dengan dirimu sendiri. Karena berdebat dengan orang lain tidak akan menemukan titik temu selama kedua belah pihak merasa diri paling benar. Kau berdebat dengan dirimu untuk menjaga kewarasanmu. Selama kau tidak bisa mengalahkan kata hatimu, berarti kau masih waras.

Kau memikirkan apa yang akan kau lakukan untuk menjalani hari ini. Sementara waktu kau kubur dendammu bersama pistol itu. Kau butuh penyegaran rutinitas. Setiap kali kau bawa pistol itu di setiap aktivitasmu, kau selalu dihantui oleh perasaan takut. Kau takut pistol itu tidak sengaja kau hilangkan, tidak sengaja meletus di celanamu, atau tidak sengaja kau tembakkan ke orang yang tidak bersalah. Kau pun menguburnya untuk sementara. Ketika kau sudah mendapatkan informasi yang pasti tentang Bamudin, kau akan membawa pistol itu lagi ke mana pun kau pergi.

Kau ambil segepok uangmu dari bungkusan hitam yang terkubur di tanah. Uang itu rencananya akan kau sumbangkan kepada sebuah panti asuhan yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Kau merasa tidak perlu untuk mengungkapkan dari mana asal uang itu. Untuk menghindari kecurigaan, kau bisa sumbangkan uang itu sedikit demi sedikit. Jika kau melakukannya setiap hari, kira-kira satu gepok uang itu habis dalam hitungan beberapa bulan, selain kau gunakan untuk keperluanmu sehari-hari.

Panti asuhan itu tidak begitu besar, memiliki dua bangunan. Bangunan yang besar tempat untuk anak-anak, bangunan yang kecil tempat untuk para pengurus. Kau masuk ke dalam bangunan yang kecil, membawa selembar amplop bekas yang berisi uang hanya selembar.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang wanita penjaga panti asuhan kepadamu.

“Saya mau beri sumbangan,” jawabmu.

“Oh, silakan-silakan.”

Kau berikan amplop yang kau bawa itu kepada wanita itu. “Ini yang bisa saya berikan. Jumlahnya tidak seberapa. Kiranya dapat membantu anak-anak yang ada di sini.”

“Terima kasih banyak. Siapa nama Tuan?” tanya wanita itu.

Tuan? Sudah lama sekali kau tidak dipanggil dengan sebutan itu. Dulu kau pernah menjadi seorang majikan, sehingga panggilan “tuan” menjadi panggilan yang biasa kau dengar dan kau anggap sepele. Sekarang panggilan itu terasa mewah di telingamu.

“Nama saya Budiman,” jawabmu.

“Tuan Budiman, Anda sungguh budiman.”

“Tolong, nama saya tidak perlu dicatat. Saya tidak suka dibilang pencitraan.”

“Anda begitu baik. Baik, tidak akan saya catat. Saya akan catat di kepala saya saja,” kata wanita itu sambil tersenyum ramah.

“Saya tidak sebaik yang Anda kira. Saya ini orang yang agak jahat sedikit.”

“Ah, Anda terlalu merendah. Menurut saya tidak mungkin Anda itu orang jahat. Tentu tidak ada orang jahat yang mau berbagi seperti Anda ini. Hati Anda pasti sangat mulia karena rela menyisihkan sebagian rezeki Anda kepada kami. Rezeki itu pasti Anda dapatkan dengan susah payah, dengan memeras keringat siang dan malam. Dengan donasi yang Anda berikan kami doakan semoga rezeki Anda menjadi lebih lancar.”

“Terima kasih atas doanya. Tapi yang Anda katakan itu berlebihan.”

“Kalau boleh tahu apa pekerjaan Anda?”

“Saat ini masih jadi pemulung.”

“Oh,” sahut wanita itu sambil manggut-manggut. “Hebat sekali. Seorang pemulung memberikan donasi kepada kami. Ini pertama kalinya loh. Anda telah menciptakan sejarah.”

“Sejarah hanyalah untuk pemenang, sedangkan saya ini berada di pihak yang kalah.”

“Kalah dari siapa?”

“Kalah dari musuh saya.”

Lihat selengkapnya