Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #13

Neraka

Neraka hadir ke dunia ketika kau dibangunkan oleh suara mesin eskavator yang sedang mengeruk-ngeruk sampah dan teriakan-teriakan saling menyahut dari para pemulung yang berebut sampah. Kau tidak sadar ternyata hari sudah siang. Matahari sedikit lagi berada di atas kepala. Teman-temanmu sudah pada pergi bekerja seperti biasa. Sedangkan kau sendiri lebih suka bermalas-malasan. Rutinitasmu sudah mengalami banyak perubahan sejak kau punya uang banyak dan sebuah pistol lengkap dengan pelurunya. Kau jarang mengumpulkan sampah, jarang menggendong keranjang sampahmu. Teman-temanmu mulai curiga dengan rutinitasmu yang tidak seperti biasanya.

Kau keluar dari gubukmu, melihat hamparan sampah yang sudah tidak penting lagi di matamu. Kau sudah mulai berpikir seperti orang kebanyakan. Sampah itu tidak berguna. Sampah sudah sepatutnya dibuang.

“Lama nggak kelihatan. Ke mana aja, Bang?” tanya Apel yang kebetulan lewat di depan gubukmu.

“Bukan urusanmu,” sahutmu.

“Gitu aja emosi,” kata Apel yang kemudian berlalu bersama karung sampahnya.

“Woi!” panggilmu.

Apel menoleh. “Kenapa, Bang?”

“Kau tahu ke mana Guntu dan Darmo?”

“Siapa?”

“Guntu dan Darmo?”

Apel mengerutkan kening, tampak kebingungan. “Guntu dan Darmo? Yang mana ya?” Dia balik bertanya.

“Itu yang giginya hitam itu.”

“Mana ada gigi warnanya hitam. Gigi itu warnanya putih, Bang.”

“Ah, terserahlah! Pergi sana!”

“Ah! Saya baru ingat, Bang.”

“Ingat apa?”

“Ingat sama orang tua saya di kampung!” seru Apel yang tampak gembira.

“Monyet! Pergi sana!”

Apel pun pergi sambil tersenyum bahagia gara-gara ingat orang tuanya di kampung.

Kau kembali masuk ke gubukmu, mengambil pistol dan uangmu. Kau memandangi pistol dan uang itu bergantian. Kau termenung dan berpikir. Keduanya sudah memiliki tujuan bahkan sebelum mereka diciptakan. Tujuan mereka sudah ada di benak para penciptanya sebelum mereka menjadi nyata. Pencipta pistol ingin membunuh dengan cepat dan efisien, maka pistol diciptakan. Pencipta uang ingin bertransaksi dengan praktis, maka uang diciptakan. Pistol dan uang sepertinya lebih memiliki tujuan daripada dirimu.

“Aku dilahirkan untuk membawa dendam,” desismu.

Ketika kau lahir tujuanmu adalah untuk hidup. Ketika umurmu tujuh tahun kau ingin jadi tentara. Ketika lulus kuliah kau ingin jadi pengusaha. Ketika dewasa kau ingin membalas dendam. Tujuanmu itu nggak jelas!”

“Diam kau, Bangsat!”

Kau masukkan pistol dan uangmu di saku celana, lalu keluar dari gubuk sambil menggerutu. “Pistol dan uang itu benda mati, jadi tujuan mereka terbatas. Aku ini manusia, benda hidup, tujuanku berubah-ubah karena aku punya kehendak. Gitu aja nggak ngerti!”

Hari ini kau berkehendak untuk pergi mencari informasi. Kau tatap matahari sampai matamu buta sementara. Mata ternyata tidak diciptakan untuk menatap matahari lama-lama.

Kau menyelinap keluar TPA. Bergerak perlahan layaknya menyusup ke wilayah musuh. Kau tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang. Kau tak ingin menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Kau tak ingin orang-orang membicarakan yang tidak-tidak tentangmu. Kau tak ingin ada orang membuntutimu. Jika mereka sampai membuntutimu, dipastikan misi rahasiamu dalam bahaya. Jika sampai mereka membicarakan yang tidak-tidak tentang dirimu, dipastikan mereka sedang tidak punya kerjaan. Kau tidak heran. Ngomongin orang sudah jadi budaya yang tidak bisa dihilangkan. Setiap kali kau lewat di depan orang-orang yang lagi kumpul, kau mendengar mereka membicarakan orang lain seperti tidak ada bahan pembicaraan lain saja. Seharusnya mereka membicarakan perdamaian dunia.

“Mau ke mana, Bang?” tanya Apel yang tidak kau sadari kedatangannya.

Kau terkaget-kaget. Kau seperti seorang pencuri yang terpergok mencuri ayam tetangga.

“Mau keluar sebentar,” jawabmu.

“Mau ngerampok ya, Bang?”

“Ngerampok kepalamu!”

“Itu pistol asli ya, Bang?” tanya Apel, menunjuk ke pinggangmu.

Kau menoleh ke pistol yang terselip di pinggangmu. Gagang pistol itu kelihatan mencuat dari balik ikat pinggangmu. Segera kau tutup pistol itu dengan bajumu.

“Jangan bilang siapa-siapa. Paham?”

Lihat selengkapnya