Hukum tidak bisa membantumu mencari kebenaran sejati. Hukum juga tidak bisa membantumu menghukum Bamudin. Oleh karena itu kau berniat menjadi hukum itu sendiri. Kau tanamkan di dalam pikiranmu kau adalah hukum yang menentukan apakah Bamudin pantas mati atau tidak. Namun sudah berhari-hari kau lalui dalam penantian yang sia-sia.
Kau belum menemukan informasi tentang keberadaan Bamudin. Kau tidak tahu di mana orang itu berada. Orang itu seolah menghilang dari dunia ini, atau tidak pernah ada di dunia ini. Mungkin saja orang itu sedang berada di kota lain, di negara lain, atau di dunia lain. Kau sudah menyebar banyak mata-mata di setiap wilayah yang kau curigai. Kau bayar mereka dengan uangmu. Namun hasilnya tetap nihil.
Kau hitung kembali sisa uangmu. Uang itu sudah berkurang setengahnya. Ternyata uang itu tidak banyak membantu. Uang tidak bisa membeli segalanya. Kau bisa membiayai prosesnya tapi tidak bisa membeli hasilnya.
Kau sudah kehabisan akal. Satu-satunya tempat yang mungkin didatangi oleh Bamudin adalah restoran itu. Namun sudah kau tunggui restoran itu selama berminggu-minggu orang itu tidak pernah datang lagi. Kau malah melihat istrimu lagi, namun tetap saja kau tidak berani mendekati dan menyapanya.
Sudah kau kumpulkan keberanianmu, namun keberanian itu mendadak menciut seperti ban kempis ditusuk paku. Kau merasa bersalah atas semuanya. Kau sadar istrimu pergi karena ketidakmampuanmu mengatasi masalahmu. Istrimu tidak bersalah karena meninggalkanmu, tapi kaulah yang bersalah atas kepergiannya. Kau adalah sebab, bukan akibat.
Karena bingung kau sering jalan-jalan keliling TPA. Kau sapa setiap ada orang yang kau temui. Mereka tidak menyapa balik, tersenyum pun tidak. Mereka tidak peduli kepadamu. Mereka menganggapmu sudah kehilangan kewarasan. Kau tidak mempermasalahkan reaksi dan anggapan mereka terhadapmu. Mereka hanya tidak tahu siapa dirimu. Seandainya mereka tahu kau punya banyak uang, reaksi mereka juga akan berbeda. Uang memang bisa mengubah persepsi orang terhadap orang lain. Orang kaya dikerubuti semut, orang miskin dikerubuti lalat.
Di dalam perjalananmu ketika jalan-jalan kau bertemu dengan pengepul barang bekas yang biasa membeli barang hasil memulungmu.
“Kau tidak jual barang bekas lagi? Udah berhenti kau jadi pemulung?” tanya pengepul itu yang sedang duduk-duduk santai sehabis berbisnis dengan para pemulung lainnya.
“Di KTP pekerjaanku masih tertulis wiraswasta,” jawabmu.
Kau pikir pekerjaan pemulung masih bisa dikategorikan sebagai wiraswasta. Dari arti per kata, “wira” artinya berani, “swasta” artinya berdiri sendiri. Seorang pemulung juga termasuk orang yang berani berdiri sendiri. Namun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wiraswasta adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.
Kau tidak yakin seorang pemulung adalah orang yang pandai dan berbakat mengenali produk baru, mereka pandai dan berbakat dalam hal mengenali mana sampah mana bukan. Mereka tidak bisa menentukan cara produksi baru, mereka hanya mampu menentukan mana sampah yang bisa dijual mana yang tidak.
Mereka tidak menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mereka menyusun operasi untuk menentukan di mana mereka bisa menemukan produk layak jual. Seorang pemulung tidak memasarkan, mereka menjual. Hanya satu yang agak sesuai definisi, pemulung mengatur permodalan operasinya, mereka mengatur modal operasi yang mereka gunakan: tubuh mereka, keranjang mereka, karung mereka, gubuk mereka.
“Kau punya barang bekas yang ingin kau jual?” tanya pengepul itu.
Kau menggeleng.
“Kau yakin?”
“Tentu aku yakin. Aku sendiri yang tahu apa saja yang aku punya.”
“Aku tahu kau menyimpan sesuatu di gubukmu,” kata pengepul itu menatap curiga.
“Menyimpan apa?”
“Rahasia.”
“Aku tidak menyimpan rahasia.”
“Kulihat sudah lama kau tidak bekerja, lalu dari mana kau mendapatkan uang untuk biaya hidupmu sehari-hari? Apakah kau punya pekerjaan lain?”
Kau tidak langsung menjawab. Jawaban yang kau cari masih berputar-putar di dalam kepalamu. Jawaban itu tidak harus yang sebenarnya, yang penting masuk akal. Tapi jawaban yang paling masuk akal adalah jawaban yang sebenarnya. Kau berpikir untuk menjawab selama ini kau menjual diri, namun sepertinya tidak ada orang yang tertarik membelimu. Di pikiran orang-orang sekitarmu kau tidak mungkin melakukan pekerjaan biasa seperti kebanyakan orang biasa. Orang sepertimu pasti melakukan pekerjaan kotor.
“Aku kerja sampingan membersihkan got yang macet,” jawabmu. Menurutmu itu masih termasuk pekerjaan kotor.
“Hmm.” Pengepul itu manggut-manggut, tampaknya percaya dengan kebohonganmu. “Kau tidak mencuri ‘kan?”
“Tidak mungkin aku mencuri. Mencuri itu dosa,” katamu dengan penuh keyakinan.