Keadilan tidak bisa didapatkan hanya dengan menonton sidang pengadilan. Tidak ada yang namanya keadilan di sana selama yang memutuskan adalah manusia. Kau tonton siaran langsung sidang pengadilan kasus pencemaran nama baik. Sayangnya yang dicemarkan nama baiknya tidak bisa hadir karena sudah diwakilkan oleh manusia-manusia yang merasa tersinggung.
Siapa yang dicemarkan nama baiknya? Tuhan.
Kau tertawa. Kau tahu Tuhan tidak mau ambil pusing dengan pembelaan manusia. Bagi Tuhan pengadilan itu hanya kisah fiksi yang Dia tulis di sela-sela waktu luang-Nya. Seringkali kisahnya berakhir pahit. Yang mencemarkan nama baik Tuhan biasanya dihukum berat. Namun tidak apa-apa, namanya juga kisah yang ditulis di waktu senggang. Tidak begitu penting. Tidak begitu serius. Terakhir kau baru sadar kalau semua itu tidak penting tapi kenapa kau serius menonton?
Setelah selesai menonton, kau pergi jalan-jalan. Kau hitung langkahmu. Sampai di langkah ke lima ratus kau lupa hitunganmu. Banyak yang mengalihkan perhatianmu: aroma masakan, aroma selokan, aroma kejahatan. Kau berhenti, menengok kanan dan kiri. Tidak ada siapa-siapa selain selembar kertas kecoklatan melayang-layang di udara tertiup angin. Kertas itu kemudian jatuh tepat menutupi wajahmu. Refleks kau singkirkan kertas itu dari wajahmu sambil menggerutu bercampur kesal. Kau sedang tidak ingin main-main atau dipermainkan.
Sekilas kau amati kertas itu. Ternyata kertas itu adalah lembaran soal ujian sekolah dasar, mata pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan. Kau tertarik dengan salah satu pertanyaannya.
“Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” adalah bunyi pasal dan ayat ke berapa dalam UUD 1945?
“Jawabannya sangat mudah,” bisikmu dengan penuh kepercayaan diri. “Tidak diragukan lagi, Pasal 33 ayat 3.” Kau mudah ingat karena mengandung tiga angka tiga.
Pasal itu mengingatmu kepada semangat sosialisme yang mementingkan kepentingan semua orang secara adil dan merata tanpa membeda-bedakan antara yang miskin dan kaya. Seluruh kekayaan adalah milik negara bukan milik nenekmu.
Kau berharap hidupmu bisa makmur jika negara bersungguh-sungguh melaksanakan pasal itu. Semua orang akan mendapatkan kemakmuran yang sama rata. Maka tidak ada lagi orang yang iri dengan kesuksesan orang lain, karena semua orang sama suksesnya. Tidak ada orang kaya, tidak ada orang miskin. Jika ada satu yang kaya maka semuanya kaya. Jika ada satu yang miskin maka semuanya miskin. Jika ada satu yang mati maka semuanya mati.
Namun kenyataan berkata lain. Keadilan sosial hanya ada di dalam angan-angan. Orang kaya semakin kaya, orang yang pikiran dan tingkah lakunya seperti orang miskin akan tetap miskin.
Kau sadar jika yang berkuasa di dunia ini adalah para pemilik modal. Kapitalisme. Siapa punya modal dia yang akan sukses. Oleh karena itu kau belajar menjadi pengusaha. Kau sudah punya modal yang hakiki, yaitu otakmu, keahlianmu, dan juga keberanianmu.
Tiba-tiba kepalamu terasa sakit. Kau pegangi kepalamu erat-erat, takut lepas lalu menggelinding ke aspal. Banyak wajah berseliweran di dalam kepalamu. Wajah-wajah itu ada yang kau kenali ada yang sama sekali tidak. Salah satu wajah yang muncul adalah wajah istrimu yang masih muda. Lalu wajah Bamudin yang samar-samar. Kau yakin itu wajah Bamudin meskipun tidak terlihat jelas.
Sakit di kepalamu semakin menjadi-jadi. Kau tidak tahan. Kau pun berlarian ke sana kemari. Ketika kau bertemu tiang listrik, kau benturkan kepalamu ke tiang listrik. Ketika kau bertemu tembok, kau benturkan kepalamu ke tembok. Ketika kau bertemu dengan penjual obat, kau beli obat sakit kepala.
Kau minum obat sakit kepala itu empat tablet sekaligus, berharap tidak overdosis. Setelah beberapa menit, sakit kepalamu belum juga lenyap. Ternyata iklan obat sakit kepala yang sering muncul di televisi hanyalah kebohongan.
Kau pergi ke rumah sakit terdekat berharap bisa mendapatkan pengobatan gratis. Usahamu sia-sia. Kau ditolak mentah-mentah karena kau tidak punya uang. Lebih buruk lagi, kau belum terdaftar di Bepeje’es. Dulu ketika masih jadi pengusaha sukses kau merasa tidak butuh asuransi kesehatan. Kau masih mampu bayar rumah sakit yang paling mahal sekalipun.
Kau duduk di parkiran rumah sakit sambil menahan rasa sakit. Lalu datang seorang pria setengah baya duduk di sebelahmu. Pria itu tampak bersedih. Mukanya pucat, tubuhnya kurus tidak terurus. Dari penampilannya yang lusuh sepertinya tergolong orang miskin yang kemungkinan juga mencari pengobatan gratis.
“Sakit apa, Bung?” tanyamu kepada orang itu.
Pria itu menoleh dengan tatapan layu, sepertinya belum makan selama berhari-hari. Kau pun merasa iba. Hatimu tersentuh hanya dengan melihat tatapan mata pria itu. Rasa iba membuat sakit kepalamu agak mendingan. Sepertinya rasa sakitmu kau transfer kepada orang itu.
“Sakit mahal,” jawab pria itu dengan suara lemah.
Kau bingung apa yang dimaksud dengan “sakit mahal”. Sakit yang biayanya paling mahal? “Sakit jantung?” tebakmu.
Pria itu menggeleng.