Seorang pengemis datang terseok-seok menghampirimu. Pengemis itu sudah sangat tua, tubuhnya kurus, rambutnya sudah memutih semua. Tangan kanannya gemetaran memegang tongkat kayu, di lengan kirinya bergelantungan tas plastik berwarna putih yang entah apa isinya. Pengemis itu meminta uang kepadamu. Suaranya lemah, tidak bertenaga. Mungkin tenaganya sudah habis karena perutnya sudah kosong dari kemarin.
Kau pun teringat dengan pengemis tua yang mengatakan dirinya adalah aktor yang sedang mendalami peran kehidupan. Sekilas kau memperhatikan kedua pengemis itu punya kemiripan. Keduanya sama-sama sudah tua dan punya profesi yang sama.
“Apakah kau aktor, Pak Tua?”
Pengemis tua itu menggeleng.
“Kalau begitu pergi sana, Pak Tua!” Kau usir pengemis itu karena dirasa mengganggu waktu bersantaimu.
Pengemis itu pun pergi tanpa banyak protes. Ia sudah terbiasa diusir, sudah biasa ditolak mentah-mentah. Ia sudah tahu diri karena ia hanya bisa meminta, tidak bisa memberi.
Kau amati pengemis itu karena rasa penasaran. Jarang-jarang kau temui pengemis yang sudah sangat tua. Biasanya kau bertemu dengan pengemis yang masih dalam rentang usia produktif.
Menurutmu kehadiran para pengemis adalah gangguan. Mereka hanya mengandalkan belas kasihan orang-orang. Kau pernah mendengar cerita seorang pengemis yang bisa punya banyak uang hanya dengan mengemis. Penghasilannya lebih besar dari orang yang bekerja di kantoran. Kau pun bertanya-tanya, sebenarnya pengemis itu yang pintar apa orang-orang yang memberi mereka uang yang bodoh? Menurutmu para pengemis itu yang pintar. Mereka adalah fakir miskin yang seharusnya dipelihara oleh negara, namun lebih memilih dipelihara oleh orang-orang yang berbelas kasihan. Negara kadang suka lari dari tanggung jawab.
Kau terus mengamati gerak-gerik pengemis tua itu. Kau berpikir tentang peran pengemis itu di dalam kehidupanmu. Kau beri pengemis itu uang ataupun tidak, takkan mempengaruhi kehidupanmu.
Kau lihat pengemis tua itu duduk di pinggiran taman. Ia mengeluarkan sepotong roti dari tas plastik yang ia bawa. Roti itu ia temukan di tong sampah dekat sebuah mini market. Roti itu sudah jamuran, namun tanpa pikir panjang ia memakannya. Meski jamuran roti itu masih mengandung kalori. Yang terpenting dari roti itu adalah kalorinya, bukan jamurnya. Setidaknya roti itu bisa memperpanjang napasnya hingga beberapa hari ke depan.
Seorang wanita mendekati pengemis itu. Kau langsung bangkit. Tidak salah lagi. Wanita itu adalah istrimu. Wanita itu begitu dekat dan nyata. Hampir sebulan kau tak melihatnya. “Endah!” teriakmu dalam hati. Kau ingin berteriak keras melalui mulutmu yang gemetar, namun hanya hatimu yang mampu menjerit.
Istrimu memberikan uang kepada pengemis tua itu. Entah berapa yang ia berikan, bagimu tidak penting. Pengemis itu pun mengucapkan banyak terima kasih, tidak menyangka ada orang yang akan memberinya uang di saat dia tidak memintanya. Kadang hidup memang sesederhana itu, diberi di saat tidak meminta, tidak diberi di saat meminta.
Setelah larut dalam keraguan selama satu menit, kau pun memutuskan untuk mendekati istrimu. Kau menyapanya. “Endah!” sapamu dengan nada lirih. Setelah kau sapa, kau tiba-tiba takut kalau salah sebut nama. Seingatmu, Endah adalah nama istrimu.
Istrimu menoleh. Dia terkejut, mundur selangkah ketika tahu siapa yang mendekatinya, lalu mundur dua langkah lagi ketika sadar kau adalah mantan suaminya. Matanya menatapmu ngeri, seperti melihat hantu.
“Ba-bagaimana kabarmu?” tanyamu, terbata-bata. Kau terlalu gugup untuk memulai pembicaraan dengan seseorang yang sudah lama tidak kau ajak bicara, apalagi dengan orang yang sudah lama pergi meninggalkanmu.
Kau mendekat. Istrimu langsung mendorong tubuhmu. “Pergi kamu! Pergi kamu dari sini! Kamu bajingan! Kamu penjahat! Aku nggak mau lihat kamu lagi! Pergi sana!” teriaknya, mengusirmu.
Kau tidak menyangka kehadiranmu ditolak sebegitu hebatnya. Ternyata kehadiranmu tidak pernah diinginkan oleh istrimu. Kau mendekat lagi, ingin menyentuh tangan istrimu. Seketika istrimu mendorong tubuhmu lebih keras lagi. Kau terpental ke belakang, hampir terjatuh.
“Jangan mendekat!” teriak istrimu.
“Kenapa? Apa salahku?” tanyamu.
“Apa salahmu? Jangan pura-pura bodoh kamu!”
Kau tertegun sebentar karena kau tidak merasa sedang berpura-pura bodoh.
“Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu, Dah.”
“Apa kamu tidak ingat semua perbuatanmu kepadaku?”
“Apa yang sudah aku perbuat? Kau yang telah pergi meninggalkanku. Kau pergi karena aku jatuh miskin, bukan?”
“Kamu itu pembunuh!”
“Pembunuh? Pembunuh gimana maksudmu?”
“Kamu jangan pura-pura lupa! Kamu telah membunuhnya! Kamu telah membunuh anak kita!”
Semua yang istrimu katakan tidak bisa kau nalar. Kau pikir istrimu hanya mengarang cerita. “Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti.”