Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #17

Informasi

Informasi terbaru tentang Bamudin sudah kau terima kemarin. Namun informasi itu tidak bisa kau telan begitu saja. Kau ragu. Kau butuh keraguan. Karena keraguan membuatmu siaga. Kau pun cek kebenarannya langsung. Ternyata informasi itu tidak sesuai harapanmu. Kau kecewa, tapi hanya sebentar. Kau tidak suka kecewa berlama-lama. Kecewa berlama-lama hanya membuat sakit kepala.

Kau keluar dari gubukmu. TPA yang biasanya ramai kini terasa sepi. Kau merasa sendirian. Tapi faktanya kau memang sendirian. Ketika kau keluar dari gubukmu biasanya kau melihat Darmo, Guntu, atau Apel berseliweran membawa keranjang sampah. Katanya mereka sudah pulang. Kau yakin mereka pulang ke Sang Pencipta. Kau pun mencari di mana tubuh mereka dikubur. Kau pikir kau yang telah membunuh dan mengubur mereka.

Mencari tiga tubuh manusia di antara tumpukan sampah yang luasnya berkali-kali lapangan sepak bola itu seperti mencari tiga butir beras di dalam pasir putih di pinggir pantai. Kau menyadari betapa sulitnya melakukan itu. Kau pun mengurungkan niatmu. Mungkin mereka pulang ke rumah masing-masing.

Kau masuk kembali ke gubukmu. Kau ambil pistolmu yang kau sembunyikan di bawah tempat tidur. Kau periksa lagi ternyata pelurunya tinggal dua, belum juga mau beranak pinak. Kau sembunyikan lagi pistol itu ke bawah tempat tidur. Kau tidak ingin membuat pistol itu meletus secara tidak sengaja seperti yang pernah terjadi beberapa hari yang lalu.

Waktu itu pistolmu tidak sengaja meletus saat kau selipkan di pinggang. Peluru meluncur ke bawah mengenai sebuah uang koin lalu memantul dan mengenai pria yang punya sakit hati itu. Tidak tanggung-tanggung, peluru itu menembus perut pria itu dan melubangi hatinya. Hatinya yang sudah hancur semakin hancur. Pria itu tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk mati.

Kau cukup menyesali kejadian itu karena pria tersebut tidak sempat berkumpul dengan istri dan anaknya untuk yang terakhir kali. Seandainya tidak ada orang yang menjatuhkan uang koinnya di sana, peristiwa naas itu tidak akan terjadi. Kau tidak bisa memastikan apakah kau telah berdosa menghilangkan nyawa orang secara tidak sengaja. Secara hukum kau bersalah karena kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.

Karena merasa bersalah, kau ingin memberikan sesuatu kepada istri dan anak pria itu sebagai bentuk penyesalanmu. Namun kau bingung mau memberi mereka apa. Sempat terpikirkan olehmu untuk memberikan dirimu sendiri sebagai pengganti. Kau bisa menggantikan peran seorang suami dan juga ayah. Solusi itu kau pikir cukup untuk mengatasi masalahmu yang ditinggal istri dan anakmu. Kau bisa memulai keluarga baru.

Masih ada satu hal yang bisa kau lakukan untuk penebusan rasa bersalahmu, yaitu dengan memberikan uang yang kau temukan itu kepada istri pria itu. Toh istri pria itu yang berhak atas uang itu.

Kau pun menggali brankasmu, kau ambil uang yang masih tersisa. Kau masukkan semua uang itu ke dalam tas plastik. Kau sudah bersiap untuk pergi namun tiba-tiba langkahmu terhenti. Kau tidak tahu ke mana harus mencari istri dari pria itu. Kau lupa menanyakan alamat pria itu. Kau bahkan lupa menanyakan namanya. Untuk mencari informasi kau kembali ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit kau bertanya ke bagian informasi yang berada di lobi.

“Apakah pria yang tertembak beberapa hari yang lalu sempat dirawat di sini?” tanyamu kepada seorang resepsionis yang sedang bertugas.

“Anda ini siapa?” tanya seorang resepsionis yang kebetulan seorang wanita.

“Saya wartawan,” jawabmu.

Kau pikir hanya wartawan yang bisa banyak bertanya tanpa banyak dicurigai.

Resepsionis itu mengamatimu dari atas ke bawah. Penampilanmu sepertinya tidak meyakinkan sebagai seorang wartawan. Wartawan biasanya membawa buku catatan, alat perekam, kamera, atau tanda pengenal jika sedang bertugas.

“Anda yakin Anda ini wartawan?” tanya resepsionis itu.

“Saya yakin saya ini wartawan.”

“Apa buktinya Anda ini wartawan?”

“Saya menyatakan diri saya ini wartawan. Itu buktinya.”

“Pernyataan Anda tidak bisa dijadikan bukti.”

“Lalu pernyataan seorang saksi di pengadilan juga tidak bisa dijadikan bukti?”

“Saya ingin menguji kebenaran pernyataan Anda. Namun Anda menggunakan pernyataan Anda sendiri sebagai bukti kebenaran. Sampai kapan pun Anda tidak akan bisa membuktikan kebenaran pernyataan Anda kepada saya. Saya butuh bukti nyata!”

“Pernyataan saya adalah bukti nyata! Lihatlah saya, saya kurang nyata apa lagi?”

Resepsionis itu menghela napas. “Baiklah kalau begitu. Saya tidak ingin berdebat panjang lebar dengan Anda,” kata resepsionis itu. “Iya, memang beberapa hari yang lalu ada pria yang ditemukan tewas tertembak di dekat pemakaman umum. Korban langsung dibawa ke sini.”

“Apakah keluarga korban sudah datang ke sini?” tanyamu.

“Jenazah korban sudah dijemput keluarganya tadi pagi.”

“Mbak tahu di mana alamatnya?”

“Ada urusan apa Anda menanyakan alamatnya?” tanya resepsionis itu dengan nada ketus.

Lihat selengkapnya