Di antara tumpukan kardus yang sudah koyak, kau menemukan satu kardus kecil bekas kardus rokok yang masih utuh. Kau merasa beruntung. Kau bawa kardus itu ke gubukmu. Di dalam kardus itu kau masukkan semua uang yang masih tersisa. Kau merasa tidak butuh uang itu lagi, karena ada orang yang lebih membutuhkan.
Kau pikir menyerahkan uang itu begitu saja tidaklah cukup. Kau ingin menyampaikan permohonan maafmu. Kau pikir tidak mungkin menyampaikan permohonan maaf secara langsung, karena mungkin saja istri pria itu akan mencurigaimu ikut mendalangi penculikan putrinya.
Kau tidak menemukan cara lain menyampaikan permohonan maaf selain melalui surat.
Pertama-tama kau mencari secarik kertas dan sebuah pulpen. Kau langsung teringat dengan Boski yang selalu membawa buku catatan dan pulpennya ke mana-mana. Kau berniat meminjam pulpen milik Boski. Kau pun mencarinya di sekitaran gubukmu, karena biasanya Boski duduk-duduk di dekat gubukmu. Akhirnya kau menemukan Boski sedang menulis di buku catatannya di dekat pintu masuk TPA.
“Bisa kau pinjamkan aku pulpenmu? Berikan aku juga secarik kertas.”
“Buat apa, Bang?” tanya Boski.
“Aku ingin menulis surat.”
“Surat? Buat siapa?”
“Buat siapa itu bukan urusanmu,” jawabmu.
Boski manggut-manggut. “Baiklah. Aku beri Abang secarik kertas dan kupinjamkan pulpenku. Tapi sebelum itu, aku ingin bertanya. Kulihat Abang agak berbeda hari ini. Ada apa?”
“Berbeda apanya?”
“Sepertinya Abang ada melupakan sesuatu. Jangan-jangan Abang lupa pada dendam Abang itu.”
“Itu bukan urusanmu. Cepat berikan aku kertas dan pulpenmu!”
“Sabar, Bang.”
Boski merobek satu halaman kertas kosong buku catatannya. “Ini, Bang.” Diberikannya kertas itu kepadamu beserta sebuah pulpen bertinta hitam. Kau ambil keduanya.
“Sudah bagus Abang lupa pada dendam Abang. Sudah ada perkembangan,” kata Boski.
Kau yang tidak peduli ucapan Boski bergegas kembali ke gubukmu.
Boski yang penasaran berjalan mengikutimu. Namun sampai di depan pintu gubuk kau larang Boski masuk.