Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #19

Mati

Kau amati ribuan semut yang berbaris rapi di tembok rumah itu. Mereka datang dari sebuah lubang kecil di tanah kemudian berjalan menaiki tembok menuju atap rumah. Mereka membawa bulir-bulir nasi dan remah-remah roti. Setelah dari atap rumah kau tidak tahu ke mana lagi semut-semut itu akan pergi. Mereka mungkin sedang membangun sarang di atas rumah. Mereka mungkin tidak mau lagi hidup di bawah tanah. Hidup di bawah tanah itu susah, karena sering terjadi banjir. Hujan sepuluh menit saja sudah bikin rumah mereka kebanjiran. Semut-semut itu mungkin menyadari tata kota mereka yang salah tata dari awal, makanya mereka memindahkan kota mereka ke atap rumah.

Kau masuk ke dalam rumah itu. Hanya ada dua kamar. Kamar tidur dan dapur. Di ruang tamu kau bertemu dengan seorang kakek-kakek yang rambutnya sudah putih semua. Kakek-kakek itu mengingatkanmu pada pengemis tempo hari. Namun bedanya kakek-kakek yang ini kelihatannya jauh lebih tua lagi. Rambutnya panjang dikepang dua. Begitu juga jenggotnya yang panjang sampai menyentuh dada. Kakek itu duduk lesehan di lantai beralaskan tikar. Kau tahu nama kakek-kakek itu dari plang iklan yang dipasang di depan rumah. Namanya Mbah Kudun. Paranormal yang bisa berkomunikasi dengan orang yang sudah mati.

“Mau apa kau datang ke mari, Nak?” tanya Mbah Kudun seraya mendelikkan matanya.

“Mau mencari informasi, Mbah,” jawabmu.

“Mau nyari informasi apa, Anak Muda?”

“Mau nanya alamat, Mbah.”

“Alamat? Ngapain kamu nanya-nanya alamat ke sini?”

“Katanya Mbah bisa berkomunikasi dengan orang mati?”

“Iya, itu benar sekali.”

“Saya mau nanya alamat sama orang yang sudah mati, Mbah.”

“Oh, begitu rupanya.” Mbah Kudun manggut-manggut seraya mengelus-elus jenggotnya. “Setahu Mbah, orang mati itu alamatnya di kuburan.”

“Saya mau nanya alamatnya sewaktu masih hidup.”

“Siapa nama orang yang ingin kau tanyai?”

“Namanya Bambang, Mbah.”

“Nama lengkapnya?”

“Bambang Herlambang, Mbah.”

“Tanggal lahirnya?”

“Saya tidak tahu, Mbah.”

“Golongan darahnya?”

“Saya juga tidak tahu, Mbah.”

“Nama kedua orang tuanya?”

“Mana saya tahu, Mbah!”

“Jangan cepat emosi gitu. Mbah hanya menguji apa kamu itu bener-bener nggak tahu apa pura-pura nggak tahu. Banyak orang yang datang ke sini itu mau menguji kemampuan Mbah. Mereka itu sebenernya udah tahu jawabannya. Mereka bertanya kepada Mbah. Kalau jawaban yang Mbah kasih bener mereka baru mau percaya Mbah bisa berkomunikasi dengan orang yang sudah mati.”

“Kalau jawaban yang Mbah kasih salah?”

“Mana pernah Mbah salah!”

“Oh, begitu ya Mbah? Maaf kalau saya salah, Mbah.”

“Nggak apa-apa. Mbah maafkan.”

“Saya datang jauh-jauh ke sini hanya untuk minta bantuan, Mbah. Mana saya berani macam-macam sama Mbah.”

“Dari wajahmu kelihatannya kamu itu bukan pembohong,” ucap Mbah Kudun sambil manggut-manggut. “Baiklah kalau begitu, Anak Muda. Biar nggak buang-buang waktu, kita mulai saja prosesi pemanggilan arwahnya.”

Mbah Kudun mengelus-elus jenggotnya, kemudian mengambil sisir dan menyisir jenggotnya. Setelah jenggotnya agak rapi, dia mengambil segelas air dan meminumnya sampai habis. Ketika ia meletakkan gelasnya di lantai, tiba-tiba tubuhnya roboh dan kejang-kejang.

Kau yakin Mbah Kudun sedang kesurupan, dimasuki arwah Bambang Herlambang. Setelah kejang-kejang beberapa menit tubuh Mbah Kudun tiba-tiba berhenti bergerak. Kau menunggu apa yang akan terjadi. Namun setelah beberapa menit tubuh Mbah Kudun tak kunjung bergerak. Kau periksa napasnya. Napasnya sudah tidak ada. Kau periksa detak jantungnya, juga tidak ada. Tanpa berpikir panjang kau memberinya napas buatan. Akhirnya setelah diberi napas buatan sepuluh kali, Mbah Kudun berhasil bernapas kembali.

“Mbah baik-baik saja?” tanyamu sambil meludah berkali-kali karena rasa mulut Mbah Kudun yang pahit masih menempel di bibirmu.

Lihat selengkapnya