Setelah mendapatkan dua alamat dari Mbah Kudun, kau memutuskan untuk menemui Asih Widiasih terlebih dahulu. Mendatangi alamat Bamudin bisa ditunda dulu, karena kau ingin Bamudin menjadi tujuan terakhirmu. Kau ingin cerita dendammu berakhir di tempatnya Bamudin.
Kau bongkar di bawah tempat tidurmu, tempat kau menyembunyikan kardus berisi uang itu. Kau sempat was-was jikalau kardus itu tiba-tiba lenyap. Jika pun lenyap kau sudah menyiapkan satu orang tersangka. Boski. Namun ketakutanmu tidak terjadi. Kardus itu masih aman bersembunyi.
Kau jinjing kardus berisi uang itu. Kau rasakan kardus itu berat padahal jika ditimbang beratnya tidak sampai dua kilogram. Langkah kakimu juga ikut terasa berat padahal kau sudah sarapan yang cukup. Kau tahu hatimu yang berat. Kau dibebani rasa bersalah. Kau menyesal telah menggunakan uang itu.
Terpikir olehmu untuk mengembalikan uang itu secara utuh, namun kau tidak tahu ke mana harus mencari uang pengganti sebanyak itu. Kau sempat berpikir merampok bank. Kau sudah punya pistol. Pistol adalah modal yang cukup untuk merampok. Kau tinggal todongkan pistolmu ke teller bank. Teller bank akan menyerahkan uang nasabahnya kepadamu, lalu kau langsung kabur. Kedengarannya sangat sederhana. Kau pikir lagi, merampok sendirian itu terlalu beresiko. Merampok biasanya dilakukan secara berkelompok. Sayangnya kau tidak punya kelompok. Kau sendirian.
Kau berpikir lagi, bertanya dalam hati. Apakah uang nasabah di bank yang dirampok tetap mendapatkan jaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan? Kau kira tidak. Perampokan itu urusan polisi, bukan urusan Lembaga Penjamin Simpanan. Karena para nasabah mendapatkan jaminan, para perampok yang baik tidak perlu merasa bersalah yang berlebihan. Karena pada akhirnya uang para nasabah yang hilang bisa kembali lagi.
Sebelum berangkat kau duduk-duduk di depan gubukmu. Kau letakkan kardus itu di atas pangkuanmu, kau peluk dengan erat, takut terlepas.
“Ngapain, Bang?” tanya Boski yang datang mendekatimu.
“Duduk,” jawabmu. Kau tidak begitu mengerti kenapa tiba-tiba kau ingin duduk. Mungkin kau merasa lelah karena dari tadi otakmu terlalu banyak berpikir. Kehadiran Boski memperparah keadaan. Kehadirannya mengalihkan aliran data di dalam otakmu. Kau jadi lupa apa yang ingin kau pikirkan.
Boski ikut duduk di sebelahmu. “Bawa apa itu, Bang?” tanyanya, melirik ke arah kardus yang kau bawa.
“Kardus,” jawabmu.
“Mau dibawa ke mana?”
“Bukan urusanmu.”
Boski mengeluarkan buku catatannya, menulis beberapa baris kata, lalu memasukkan kembali buku itu ke dalam sakunya.
“Abang sepertinya mau pergi. Mau ke mana Bang?”
“Bukan urusanmu.”
Boski manggut-manggut. “Kelihatannya Abang masih bimbang, antara mau pergi atau tidak. Kalau nggak bimbang mungkin Abang sudah pergi dari tadi. Benar begitu, Bang?”
Kau tidak menjawab. Boski sok tahu, pikirmu. Kau diam saja. Tanganmu menggeliat. Kardus itu kau peluk semakin erat.
“Kardus itu tampaknya sangat penting,” kata Boski. “Memang sulit untuk melepaskan sesuatu yang amat berharga. Meski hanya sebuah kardus. Bagi orang lain itu mungkin hanya kardus bekas, tapi bagi orang yang tahu isinya, kardus itu lebih dari sekadar kardus.”
Kau bangkit. Aliran data di dalam otakmu sudah kembali pada jalur yang benar. Otakmu sudah menjalankan perintah untuk menggerakkan kedua kakimu.
“Sudah mau pergi, Bang? Sudah tidak ragu lagi?”
Kau sudah yakin. Begitu juga dengan kedua kakimu yang menuntunmu keluar areal TPA.
Boski hanya bisa memperhatikanmu tanpa ada pertanyaan lagi. Mungkin dia sudah pasrah karena pertanyaannya tidak kau hiraukan.
Kau menunggu taksi yang mungkin lewat di depan gerbang TPA. Namun setelah menunggu selama satu jam, taksi tak kunjung lewat. Kau sadari kebodohanmu. Tidak ada taksi yang mau cari penumpang seorang pemulung. Kau pun berjalan lebih jauh lagi. Lebih dekat ke jalan utama. Namun tak ada satu taksi pun yang mau berhenti untuk mengangkutmu. Mungkin wajahmu terlihat terlalu miskin untuk naik taksi.
Kau beralih mencari angkot. Menemukan angkot ternyata lebih gampang.
“Tahu alamat ini, Bang?” tanyamu kepada sopir angkot.
“Oh, tahu, deket sini kok.”
“Deket ya?”
Kau tidak tahu kalau alamat yang kau cari itu ternyata dekat.
Kau diturunkan di sebuah jalan.
Kau tidak asing dengan daerah itu karena kau sering memulung di sekitaran sana. Kau merasa bodoh. Jadi selama ini kau tidak tahu nama daerah yang kau datangi. Kau tidak tahu nama jalan. Selama ini kau memulung tanpa panduan yang jelas.
Kau ingat-ingat kembali ternyata rumah Asih pernah kau datangi, meski waktu itu tidak ada orang di rumah.