Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #21

Detektif

Tempat tidurmu yang biasanya terasa empuk, malam ini terasa keras. Seperti tidur di atas bongkahan batu. Kau tidak tahu penyebabnya. Padahal kau tidur di tumpukan kasur bekas seperti biasanya. Mungkin karena di bawah tempat tidurmu sudah tidak ada barang yang berharga. Keberadaan harta biasanya membuat orang bisa tidur lebih nyenyak.

Kau bangkit. Lalu mengambil secarik kertas dari saku bajumu. Di atas kertas itu tertulis alamatnya Bamudin. Kau tatap alamat itu lekat-lekat. Kau gelisah. Tulisannya tidak terbaca. Ya jelas saja tidak bisa kau baca, kamarmu gelap gulita.

Kau keluar dari gubukmu. Kau pikir lebih baik membaca tulisan itu di bawah sinar bulan. Agar terkesan dramatis. Kau tidak ingin balas dendammu berjalan biasa-biasa aja.

Tulisan itu sudah bisa kau baca dengan jelas. Kau tersenyum. Kau sudah yakin sepenuh hati. Kau tak meragukan informasi yang diberikan oleh Mbah Kudun. Informasi yang diberikannya terbukti akurat. Ia memberimu informasi yang benar tentang alamat Bambang Herlambang. Itu artinya alamat Bamudin yang diberikannya juga pasti akurat.

Kau semakin percaya Mbah Kudun adalah orang sakti. Metode pemanggilan arwah yang digunakan Mbah Kudun juga tidak seperti kebanyakan paranormal. Istilah kerennya ‘anti-mainstream’. Mbah Kudun juga sudah berkecimpung di dunia paranormal dari kecil, jadi bisa dibilang dia sudah sangat menguasai bidangnya. Yang artinya tingkat keilmuan Mbah Kudun berada di atas para praktisi kearwahan lainnya. Kalau diumpamakan di dalam dunia akademisi, Mbah Kudun itu sudah bergelar profesor.

Kau pandangi langit malam yang penuh dengan bintang. Langit sangat cerah namun kau berharap langit mendung dan hujan turun dengan lebat. Kau butuh kesegaran. Sudah beberapa bulan hujan tidak pernah turun. Bulan ini semestinya sudah musim hujan.

“Bulan apa sekarang?” tanyamu entah kepada siapa.

November.”

Suara itu menjawab. Sudah lama dia tidak terdengar mendengung di telingamu. Mungkin suara itu sudah malas berbicara denganmu. Kau tak pernah menggubrisnya. Kali ini dia mau bicara karena perjalanan dendammu akan segera berakhir.

“Jelas kekacauan ini disebabkan oleh pemanasan global,” bisikmu.

Apa pedulimu?” Suara itu bertanya.

“Untuk saat ini aku tidak peduli. Mungkin setelah dendamku terbalaskan, aku baru peduli.”

Dendammu akan segera berakhir. Kau sudah tidak sabar. Ubun-ubunmu mulai kesemutan. Kesemutan itu kemudian menjalar sampai ke kedua tanganmu. Kesemutan biasanya terjadi karena kekurangan vitamin B. Kau merasa tidak perlu vitamin B. Inisial namamu sudah B. Kau tidak perlu B yang lain.

Kau masuk ke gubukmu. Berusaha untuk tidur kembali. Kau ingin menyimpan tenagamu untuk besok. Kau raba pistolmu yang kau selipkan di bawah bantal. Pistol itu sudah siap memuntahkan pelurunya.

Pikiranmu tidak tenang. Dengan susah payah kau memejamkan mata. Ada yang mengganjal di kepalamu. Ternyata pistol itu menyembul dari balik bantal dan membuat kepalamu sakit. Kau pindahkan pistol itu di samping tempat tidurmu. Pistol itu tidak terlihat di tengah kegelapan. Untuk meraihnya kau harus meraba-raba di tengah kegelapan. Itu membutuhkan waktu. Kau pindahkan lagi pistol itu di bawah bantal. Biar tak terantuk pistol, kau berbaring dengan kepala dimiringkan.

Kau berusaha memejamkan mata.

Lupakan saja dendammu itu, Man.”

Suara itu terdengar lagi. Tidurmu terganggu. Kau bangkit. Kau pukul-pukul kepalamu berharap suara itu jatuh dari lubang telingamu. Namun yang jatuh malahan debu-debu halus yang menempel di rambutmu. Kau hirup debu-debu halus itu. Kau terbatuk.

“Sialan!” umpatmu.

Lupakan saja dendammu itu, Man.”

“Siapa kamu berhak mengatur-aturku?”

Suara hatimu, Man. Suara hati selalu benar.”

“Suara hatiku sudah lama mati.”

Aku baru bisa mati kalau kau sudah mati, goblok!”

“Aku tidak segoblok yang kau katakan.”

Lupakan saja dendammu itu, Man.”

Lihat selengkapnya