Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #22

Alamat

Pistol itu hanya menyisakan dua peluru. Kau belum putuskan di mana kau akan arahkan moncong pistolmu. Apakah di kepala? Apakah di jantung? Dua titik itu adalah titik vital. Bamudin bisa langsung mati. Namun kau ingin sesuatu yang tidak instan. Kau ingin dia mengalami penderitaan sebelum mati.

“Akan tetapi, bukankah kehidupan ini sudah merupakan penderitaan sebelum kematian?” bisikmu kepada dirimu sendiri.

Jika kau membunuhnya dengan cepat, itu artinya kau membebaskan dia dari penderitaan dengan cepat pula. Dia seharusnya berterima kasih kepadamu.

Kau bunuh atau tidak pun, Bamudin akan tetap mati. Pada akhirnya semua orang akan terbebas dari penderitaannya.

Jadi, apa artinya semua ini?”

Giliran suara itu bertanya kepadamu.

Pada akhirnya semua akan kembali kepada kehampaan. Tujuan dari dendammu menjadi tidak berarti lagi. Untuk apa melakukan sesuatu yang sia-sia, karena pada akhirnya semua akan mati.”

Kau tidak punya waktu untuk menggubris suara itu. Kau pikir, tidak ada yang bisa menilai sesuatu perbuatan itu sia-sia atau tidak, karena memberikan penilaian adalah kesia-siaan.

Kau percepat langkahmu sampai di jalan raya. Matamu melirik kanan dan kiri. Kau harap tidak ada yang membuntutimu. Kemungkinan terburuknya kau bisa saja diikuti oleh detektif itu. Dia bisa saja sembunyi, menunggu kau keluar sarang. Ketika kau lengah kau akan dibuntuti sampai kau tertangkap basah berbuat kesalahan.

Kau berdiri di pinggir jalan menunggu taksi. Kali ini ada banyak taksi yang lewat. Hanya dalam sekali lambaian tangan, satu taksi berhenti di depanmu. Begitu mudah, tidak seperti hari kemarin. Kau pikir ada campur tangan Tuhan yang memuluskan jalanmu.

“Mau ke mana, Bang?” tanya sopir taksi yang kelihatannya masih muda.

Sopir itu mengenakan topi dan berkacamata hitam. Tidak pernah kau lihat ada sopir taksi memakai kacamata hitam.

“Kamu tahu alamat ini?” tanyamu sembari memperlihatkan secarik kertas pemberian Mbah Kudun kepada sopir taksi itu.

Sopir itu tampak berpikir sejenak. “Jalan ini ya. Dari sini, ya, kira-kira saya tahulah, Bang,” jawabnya.

“Kok kira-kira? Nanti kalau tersesat gimana?”

“Nggak bakalan tersesat, Bang. Selama kita masih berada di dunia ini, kita nggak mungkin tersesat. Kalau tersesat tinggal balik ke jalan yang benar.”

Kau tidak keberatan sedikit nyasar, jalan memutar, karena tujuanmu sudah pasti. Semuanya hanya masalah waktu.

Taksi itu mulai melaju. Belok kanan, kiri, dan jalan lurus. Kau perhatikan jalanan yang kau lalui. Jalanan itu tampak asing. Kau tidak ingat pernah melalui jalan itu sepanjang hidupmu. Dari rumah-rumah kumuh berganti menjadi gedung-gedung menjulang tinggi. Dari pohon-pohon rindang menjadi tiang-tiang beton penyangga jembatan. Tiba-tiba kau merasa duniamu terasa amat sempit. Ternyata masih ada tempat yang belum sempat kau jelajahi.

“Apa nama daerah ini?” tanyamu dalam hati. Kau tidak ingat. Kau bahkan tidak ingat nama daerah tempatmu tinggal.

Kau merasa aneh. Kau merasa antara tubuh dan jiwamu terpisah. Keduanya seperti memiliki pikirannya masing-masing. Kau empaskan jidatmu ke sandaran kursi depan.

“Kenapa, Bang?” tanya sopir taksi itu bingung.

“Nggak apa-apa,” sahutmu.

Sopir taksi itu mengangguk pelan.

“Sudah lama jadi sopir taksi?” tanyamu yang tidak ingin suasana perjalananmu hening tanpa kata.

“Sudah lima tahun, Bang,” jawab sopir taksi itu.

Kau manggut-manggut. “Oh. Sudah lumayan lama ya.”

“Ya, begitulah, Bang. Sekarang ini sulit cari kerja. Kita terima saja pekerjaan yang ada.”

“Sudah menikah?”

Sopir taksi itu tertawa. “Sudah, Bang. Baru setahun. Lagi menantikan lahiran anak pertama.”

“Selamat.”

“Terima kasih, Bang.”

Tiba-tiba kau rindu dengan anakmu. Apakah benar anakmu mati karena kau telah membunuhnya? Kau meragukan kata-kata istrimu. Hal itu tidak mungkin terjadi. Kau tidak mungkin tega membunuh anakmu sendiri. Kau tidak ingat pernah membunuh siapapun.

Lima belas menit kemudian taksi itu berhenti.

“Sudah sampai, Bang,” kata sopir taksi itu.

Kau melihat keluar. Jalanan yang sepi. Tidak ada orang sama sekali. Kau keluar dari taksi. Matamu langsung tertuju pada sebuah gang. Di depan gang itu ada sebuah plang nama. Nama dari gang itu. Gang Sempit.

“Terima kasih,” ucapmu kepada sopir taksi itu.

“Terima kasih doang, Bang?”

“Maaf, saya nggak punya uang.”

“Nggak punya uang?”

Sopir itu bergegas keluar dari kendaraannya. Dia berjalan menghampirimu dengan membawa kepalan tangannya.

Kau pasrah saja. Kau sudah berkata jujur. Tidak ada yang salah dengan berkata jujur.

Lihat selengkapnya