Kau terbangun. Sekujur tubuhmu terasa sakit. Matamu sulit kau buka. Tangan dan kakimu nyaris tidak bisa kau gerakkan. Rasa lelah yang luar biasa menyerangmu. Kau kehabisan tenaga.
“Di mana aku?” bisikmu.
Kau bangkit dari tempat tidurmu. Kau lihat sekelilingmu, memperhatikan dinding dan kasur yang kau tiduri. Kau tidak mengenali kamar itu. Kamar itu jauh lebih bagus dari gubukmu. Kau seperti berada di kamar sebuah hotel mewah.
Kedengarannya sangat aneh seorang pemulung menginap di sebuah hotel mewah.
Kau turunkan kakimu ke lantai. Dinginnya menusuk. Kau tengok kanan dan kiri. Lehermu terasa kaku. Kau ayunkan lenganmu ke depan. Terasa berat seperti membawa seember air.
Tiba-tiba kepalamu terasa sakit seperti dihantam palu. Kau remas-remas kepalamu. Kau jatuhkan kembali tubuhmu ke tempat tidur. Sakit itu perlahan menghilang. Kau butuh berbaring.
Perutmu bersuara. Mulutmu terasa kering. Kau lapar.
Lalu terdengar suara pintu terbuka. Ada seseorang masuk ke kamar itu. Seorang wanita.
“Endah?” Kau terkejut. Kau tidak percaya dengan apa yang kau lihat.
Dia membawa sebuah nampan yang di atasnya berisi semangkuk bubur dan segelas susu.
“Sudah baikan?” tanyanya.
“Apakah kamu benar-benar Endah?” tanyamu.
Kau kucek-kucek matamu, takut salah lihat orang.
“Pertanyaannya kok aneh gitu. Tentu saja aku ini Endah. Istrimu.”
Dia meletakkan makanan itu di atas meja nakas.
Kau tak memperhatikan makanan apa yang Endah bawa. Tatapanmu terpaku kepada wajahnya.
“Di mana ini?” tanyamu.
“Tentu saja di rumah,” jawab Endah.
“Apakah ini hanya mimpi?” tanyamu lagi.
Endah mengambil bubur dari atas nampan. “Mimpi buruk lagi ya?” tanyanya.
Kau tidak yakin apakah kau sedang bermimpi atau tidak. Seingatmu, kau sedang mengejar seseorang. Lalu kau berlari. Kau keluar dari lorong yang gelap. Kau belum menemukan orang itu.
“Makanlah.”
Endah menyuapimu.
Satu sendok bubur masuk ke dalam mulutmu. Kau kunyah perlahan. Rasanya sungguh enak. Sudah lama kau tidak merasakan makanan seenak itu. Padahal yang kau makan hanyalah bubur.
“Enak?”
Kau mengangguk. Endah tersenyum. Ia bersiap memberikan suapan kedua. Sendok masih mengaduk bubur di mangkuk, mulutmu sudah kau buka lebar-lebar. Kau sudah tidak sabar.
Suapan kedua masuk ke mulutmu. Kau kunyah pelan-pelan. Bubur itu mulai terasa hambar di mulutmu. Rasanya sedikit berbeda dari suapan yang pertama. Kau tidak tahu apa yang membuat rasanya berbeda.
“Makan yang banyak biar Abang cepet sembuh.”
“Sembuh? Aku ini sakit apa?”
“Abang cuman kelelahan. Abang itu bekerja terlalu keras, nggak cukup dapat istirahat.”
Kau bisa merasakan lelah di tubuhmu.
“Mimpi apa tadi Bang?” tanya Endah.
Mimpi? Kau mencoba mengingat-ingat. Kau tidak yakin dengan ingatanmu.
“Aku nggak begitu ingat.”
Kau usap wajahmu. Rasa sakit di kepalamu perlahan kembali menyerang. Rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum. Kau remas-remas kepalamu. Rasa sakit itu perlahan pergi.
“Kamu kenapa?”
“Anak kita di mana?” tanyamu.
“Anak?” Endah terkekeh.
Kau bingung. Apakah ada yang salah dengan pertanyaanmu itu?
“Kita kan belum punya anak,” kata Endah.
“Belum?”
Kau tambah bingung. Kau berpikir mungkin kau telah kembali ke masa lalu melewati sebuah portal waktu.
Endah menyuapimu sekali lagi, namun kali ini kau menolaknya.
“Ada apa?”
Kau bangkit dari tempat tidur. Kau paksakan tubuhmu berdiri, berjalan.
“Istirahatlah dulu.”