Kau terbangun. Matamu terbelalak. Bola matamu bergerak ke sana ke mari. Ternyata kau belum mati. Kau raba dahimu. Tidak ada darah yang mengucur. Tidak pula ada lubang bekas peluru di sana. Ternyata kau hanya bermimpi. Kau bermimpi di dalam mimpi.
Kau tengok kanan dan kirimu. Kau segera menyadari kau berada di sebuah kamar yang gelap. Kau berbaring di atas kasur yang empuk. Sekujur tubuhmu merasakan dingin. Jelas kau tidak sedang berada di tengah gubukmu. Kau berada di tempat asing.
Tiba-tiba lampu di kamar itu menyala terang benderang. Cahaya itu berasal dari lampu LED putih berbentuk lingkaran yang terpasang di tengah langit-langit. Tanganmu secara refleks menangkis cahaya yang mencoba masuk ke matamu.
Pupilmu mengecil, membatasi cahaya yang diterima retina. Pelan-pelan kau geser telapak tanganmu. Pelan-pelan matamu menyesuaikan diri. Kau coba menatap cahaya itu. Matamu mulai terbiasa.
“Di mana ini?”
Pertanyaan itu wajib kau tanyakan kepada dirimu sendiri ketika kau terbangun di tempat yang tidak kau kenali.
Kau bingung. Kau tidak tahu ada di mana.
Kau amati kamar itu lebih luas dari gubukmu. Dindingnya putih. Begitu juga lantainya. Kau lihat ada satu pintu. Di pintu itu ada sebuah jendela kaca berbentuk bulat.
Pintu itu terbuka.
Dari balik pintu muncul seseorang. Orang itu tersenyum kepadamu. Kau mengenalnya dengan baik. Kau lega bisa bertemu dengan orang yang kau kenal di tempat yang tampak asing itu.
“Boski?” bisikmu.
Boski datang menghampirimu. Dia mengenakan pakaian serba putih, berkacamata bening, berambut lurus rapi. Dia kemudian menulis di atas buku catatannya.
Kau mengerjap-ngerjapkan matamu. Kau kucek-kucek matamu. Kau pikir ada yang salah dengan penampilan Boski. Biasanya dia berpenampilan suram karena pakaian serba hitamnya, sekarang dia tampak bersinar karena pakaian serba putihnya.
Boski menepuk-nepuk pundakmu sambil tersenyum ramah. Dia kemudian menggenggam lenganmu. Genggaman itu cukup kuat. Genggaman itu terasa hangat.
“Sudah baikan, Bang?” tanya Boski.
“Di mana aku?” tanyamu.
“Di kamarmu, Bang,” jawab Boski.
“Di kamarku?”
Kau tidak mengenali pemandangan di sekelilingmu. Kamar itu bukan kamar yang kau kenali. Yang kau ingat kamarmu berada di sebuah gubuk yang sempit. Kamarmu kotor dan berantakan, sedangkan kamar itu tampak bersih dan teratur.
“Apa yang terjadi?” tanyamu.
“Abang istirahatlah dulu,” kata Boski.
Kau mengingat-ingat kembali apa saja yang kau alami. Kau sedang berjalan di sebuah gang, lalu kau bermimpi bertemu dengan istrimu, kemudian kau bertemu dengan Herman.
“Dia menembakku!” teriakmu.
“Siapa yang menembakmu, Bang?”
“Herman.”
“Dia tidak ada di sini,” kata Boski.
Kau lihat sekelilingmu sekali lagi. Yang kau lihat hanya warna putih. Dinding kamar itu berwarna putih. Pintu kamar itu juga berwarna putih. Kau melihat ada kursi roda di dekat pintu.
“Apakah aku sudah mati?” tanyamu.
Boski terkekeh. “Nggak Bang. Abang baru saja bangun dari tidur panjang,” jawabnya.
Tidur panjang? Kau tidak mengerti apa yang dimaksud dengan ‘tidur panjang’. Manusia hanya butuh tidur paling lama delapan jam sehari. Tidur panjang hanya untuk hewan yang berhibernasi. Tidur panjang manusia hanya terjadi jika seseorang dalam kondisi koma.
Koma? Bukan. Aku adalah titik.
“Di mana Bamudin?” tanyamu.
“Abang tidak ingat?” Boski balik bertanya.