Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #25

Ujian

Cahaya itu sudah ada di depanmu. Kau lega. Akhirnya kau sampai di ujung lorong. Yang seharusnya merasa lega adalah Boski, karena dari tadi dia yang berjalan sambil mendorong kursi rodamu, sedangkan kau hanya duduk-duduk santai.

“Kita hampir sampai,” kata Boski.

Kau menatap ke depan, ke sebuah rumah mungil. Atapnya berupa genteng yang dicat biru langit. Temboknya dicat putih. Di atas atap ada sebuah antena televisi. Di temboknya ada gambar awan berwarna biru.

“Itu ruang direktur,” kaya Boski sambil menunjuk ke rumah mungil itu.

Kau menoleh ke belakang, tepat ke pintu lorong tempatmu keluar dari gedung rumah sakit. Ternyata tak hanya ada satu lorong. Ada banyak lorong-lorong yang berjejer di gedung rumah sakit itu. Lalu kau mengangkat kepalamu. Gedung rumah sakit itu tidak setinggi yang kau bayangkan. Tidak terlihat apa-apa di atasnya. Tampak datar saja. Dari jauh gedung rumah sakit itu tampak seperti sebuah tembok yang memanjang ke kanan dan ke kirimu.

“Panas di luar sini,” kata Boski. “Lebih baik berada di dalam rumah sakit.”

Di atas kepalamu, matahari bersinar dengan terang. Awan-awan tipis berjejer. Di sekelilingmu, tumbuh pohon-pohon dan bunga-bunga warna warni.

Pandanganmu kembali ke depan.

Rumah mungil yang disebut ‘ruang direktur’ itu tidak memiliki halaman depan, tidak juga ada pagar pembatas. Dari gedung rumah sakit ada sebuah jalan kecil menuju ke rumah itu. Jalan kecil itu langsung tersambung dengan pintu masuknya. Pintunya berwarna coklat. Di sebelah kanan pintu ada jendela. Ukuran jendelanya setengah pintunya. Kau bingung kenapa seorang direktur rumah sakit punya ruangan terpisah jauh dari rumah sakitnya. Mungkin direktur rumah sakit takut tertular penyakit pasiennya.

Boski memencet bel. Bel berbunyi nyaring.

“Ding dong.”

Kau familiar dengan suaranya bel itu. Suaranya persis seperti suara bel di rumahnya Asih.

“Silakan masuk!” Terdengar suara seorang pria dari dalam. Kau pun masuk ke dalam rumah itu bersama Boski.

Seorang pria setengah baya menyambutmu. Ia tersenyum kepadamu. Kau terkejut. Kau sangat mengenali wajah itu. “Kau…?”

“Selamat datang Tuan Bamudin. Perkenalkan, saya Dokter Budiman,” kata pria itu.

“Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.”

Kau menggeleng. Kau tidak percaya apa yang kau lihat. Pria itu mencuri wajahmu.

“Itu wajahku! Kau mencuri wajahku!” teriakmu.

Kau memaksa untuk berdiri. Namun Boski menahanmu.

“Tenang, tenang,” kata Dokter Budiman dengan suara halus. “Saya akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di sini.”

Wajah orang itu sangat mirip denganmu. Namun kau tidak ingat punya saudara kembar.

Dokter Budiman mengambil sebuah cermin kecil. “Apakah Anda sudah pernah melihat wajah Anda di cermin?” tanyanya.

“Tentu saja pernah,” jawabmu.

Dokter Budiman mendekatkan cermin itu ke wajahmu. Kau melihat wajahmu. Kau terkesiap. Kau tidak mengenali wajahmu, karena wajah yang muncul di cermin bukan wajahmu. Wajah itu adalah wajah Bamudin.

“Ini tidak mungkin,” ucapmu seraya mengelus kedua pipimu yang kulitnya kering karena terkena sinar matahari.

“Apa yang sudah kalian lakukan kepadaku?”

“Baiklah. Kita mulai saja ceritanya,” kata dokter Budiman.

“Kalian menukar tubuhku dengan tubuhnya,” tuduhmu.

Dokter Budiman menggeleng. “Sampai saat ini belum ada teknologi yang menukar tubuh seseorang dengan orang lain. Seandainya ada, mungkin saya sudah bertukar tubuh dengan seorang artis Korea.”

“Artis cewek apa cowok?” tanya Boski.

Dokter Budiman termenung sesaat. “Oh, saya belum berpikir sejauh itu.”

“Kembalikan tubuh saya!” teriakmu.

Dokter Budiman mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya.

“Saya sudah membaca rekam medis Anda,” kata Dokter Budiman sembari menggeleng pelan. “Masalah utama Anda ada pada rasa bersalah. Penyakit Anda berawal dari situ. Ini berat. Rasa bersalah adalah kuncinya. Gemboknya tidak ada.”

Dia kemudian manggut-manggut.

Lihat selengkapnya