Tempat Pembuangan Akhir

Nuka Asrama
Chapter #26

Pulang

Kau disadarkan oleh suara truk sampah itu. Imajinasimu yang liar kembali hadir di bumi. Kau kembali ke duniamu yang sebenarnya. Kau kembali ke kehidupan nyata. Sebenarnya kau tidak ingin kembali. Kau masih ingin tersesat di dalam dunia imajinasimu. Kau masih ingin berada di dunia khayalanmu. Karena kehidupan di sana lebih seru daripada kehidupan dunia ini.

“Minggir-minggir!” Seorang petugas kebersihan berteriak menyuruh orang-orang untuk minggir.

Kau melangkah mundur.

Kau pandangi truk sampah itu menurunkan sampahnya. Kau berdiri tegap ditemani keranjang sampahmu. Begitu juga para pemulung yang lain yang sudah bersiap-siap untuk mengais sampah yang baru datang itu.

Kau sebenarnya sudah tidak peduli lagi. Rutinitas yang kau jalani seperti sebuah jalan yang memutar seperti seekor ular yang terus menerus mengejar ekornya. Tidak ada ujung dan pangkalnya. Kau tetap mengais sampah karena hanya itu yang membuatmu merasa hidup. Kau hanya ingin melakukan sesuatu, bertindak. Hidup tidak ada artinya tanpa tindakan. Tidak ada orang yang ingin terus menerus berdiam diri. Berdiam diri berarti mati, bertindak berarti hidup. Tindakan apapun bentuknya akan selalu memiliki arti meski tindakan itu tak masuk akal. Kau tetap berdoa meski kau tahu Tuhan takkan mengabulkan doamu. Kau tetap menaburkan bunga di atas makam orang tuamu meski kau tahu bunga-bunga itu akan busuk dan berubah menjadi tanah. Kau akan tetap melakukannya, karena kau hidup di dalam tindakanmu.

Kadang kau merasa ada yang salah dengan hidupmu. Kau merasa tempatmu bukanlah di sini. Tempat pembuangan akhir bukanlah habitat aslimu. Kau harusnya tinggal di sebuah rumah yang aman dan nyaman. Kau harusnya punya pekerjaan yang bagus.

Tiba-tiba kau tertawa seperti orang gila. Suara tawamu menggema ke semua sudut TPA. Orang-orang menatapmu penuh curiga. Mereka tahu kau hanya bersandiwara.

Sudahlah. Tidak ada gunanya bersandiwara.

Suara mesin truk meraung. Dia bersiap untuk pergi. Kau pun mulai mengais sampah-sampah itu bersama para pemulung lainnya. Awalnya kau bergerak pelan-pelan, lalu semakin cepat. Tanganmu bergerak otomatis. Tak perlu kau perintah dengan susah payah. Tanganmu sudah bisa membedakan mana sampah masyarakat, dan mana sampah yang masih bisa dijual.

Rutinitas yang terus berulang.

Satu botol dua botol bekas air mineral meluncur ke dalam keranjangmu. Satu lembar dua lembar kardus masuk ke dalam keranjangmu. Ketika keranjangmu hanya terisi setengah, kau berhenti. Kau kembali menatap langit, menyaksikan matahari tertutup awan.

Tepat ketika matahari berada di puncak singgasananya, kau kembali ke gubukmu untuk berteduh. Kau menyandarkan tubuhmu, mengibas-ibaskan topimu, sesekali menyeka peluhmu.

Kau mengenang.

Sudah tujuh tahun berlalu sejak pertama kali kau datang ke tempat ini dengan membawa rasa putus asamu. Kau masih ingat orang-orang menatapmu sinis, seolah kau adalah sampah yang sengaja membuang dirinya sendiri ke tempat sampah.

Imajinasimu kembali mengembara.

Kau periksa di bawah tempat tidurmu. Sayangnya tidak ada benda berharga di bawah sana. Kau terlalu terbawa oleh imajinasimu yang liar.

Tidak ada uang di bawah sana.

Kau bangkit dari istirahatmu, memutuskan untuk melakukan sesuatu. Kau memilah-milah barang-barangmu. Botol plastik disatukan bersama botol plastik, kertas kardus ditumpuk bersama kertas kardus, orang gila dikumpulkan bersama orang gila.

Kau tidak gila. Kau hanya putus asa.

Kau bawa barang-barangmu ke seorang pengepul. Kau lihat orang-orang sudah berkumpul membawa sampah mereka.

“Empat setengah kilo,” kata si pengepul kepada Darmo.

“Hanya segitu? Coba ditimbang ulang!” protes Darmo.

“Mau ditimbang gimana pun tetap aja beratnya segitu! Kalau mau beratnya dua kali lipat ditimbangnya di planet Jupiter sono!” teriak pengepul itu sambil menunjuk langit. Entah dia benar-benar tahu di mana letak Planet Jupiter atau tidak.

“Selanjutnya!” teriak pengepul itu.

Lihat selengkapnya