TENAQUIN

Cassandra Reina
Chapter #6

Pelintas Dimensi

Sementara itu di dalam ruangan, Arxel sudah duduk menghadapi meja. Elisa berdiri di sampingnya seperti seorang murid yang menunggu pekerjaan rumahnya diperiksa oleh guru.

"Aku tidak mau membacanya."

Elisa tersentak saat Arxel kembali melihatnya.

"Aku ingin kau mengatakannya secara langsung." Arxel tidak pernah merasa setampan itu sekalipun dia yang paling banyak menerima surat cinta dari juniornya—yang berakhir dengan diskualifikasi junior sebagai petarung istana. Tapi, kali ini sang pangeran sendiri yang menjamin keamanannya. Dia jadi tahu siapa yang mencintai siapa di sini. Sebab kata orang, cinta adalah sesuatu yang butuh pengorbanan. Tidak peduli sekalipun perasaan sendiri yang harus dikorbankan.

"Aku bukan Rynx. Bagaimana mungkin aku mengatakannya?"

Arxel tersentak, tidak mengerti.

"Aku sendiri tidak tahu, kenapa orang-orang memanggilku dengan nama itu."

Arxel segera mengambil amplop surat di meja, merobek ujungnya, kemudian mengeluarkan selembar surat di dalamnya.

Tulisan tangan dengan tinta berwarna biru pada kertas itu menyala di bawah cahaya lampu permata.

Jangan mencariku kecuali kau percaya kata-kataku.

Arxel tidak habis pikir. Gadis ini membuat ulah lagi.

"Apa yang dikatakan Rynx?"

Arxel segera melihat Elisa. Dan gadis ini ....

Manusia ....

Jika bisa melihatnya. 

Kau tidak akan menemukan perbedaannya dengan Fairin, kecuali kau memiliki bakat khusus.

Tidak semua manusia itu jahat.

Tidak seperti yang tertulis dalam buku-buku.

Ibuku yang mengatakannya. 

Aku memercayai kata-katanya seperti kita semua memercayai mimpi adalah pertanda.

Suara Rynx muncul ke permukaan ingatan Arxel.

Elisa ikut membaca surat Rynx, kemudian tersentak saat Arxel berdiri menatapnya. "Apa maksud semua ini?"

Arxel masih memerhatikan Elisa. "Sesuatu yang gila. Tentang manusia."

Elisa tercekam. Manusia?

"Ya. Rynx selalu percaya ada kehidupan lain di luar sana. Dia percaya adanya manusia."

Tiba-tiba saja kaki Elisa seperti lumpuh. Apa maksudnya Rynx bukan manusia?

"Kau apa?" Suara Elisa hampir tidak terdengar oleh Arxel.

Arxel menangkap perasaan takut dari wajah Elisa. Dia hampir tidak bisa memercayainya. Sama sulitnya saat mencoba memercayai semua omong kosong Rynx. "Apa maksudmu? Seharusnya aku yang bertanya. Apa kau manusia?"

"Tentu saja aku manusia." Elisa mengeraskan suaranya. "Kau pikir apa?" Pertanyaan selanjutnya terkesan tidak menginginkan jawaban.

"Fairin." Akhirnya jawaban Arxel berhasil menghantam akal sehat Elisa. "Aku mengira kau adalah Fairin."

Fairin? Apa maksudnya seperti peri—Fairy?

Para peri memiliki sayap. Tapi Arxel tidak.

Para peri berukuran kecil, sedangkan Arxel bahkan lebih tinggi darinya.

Lihat selengkapnya