00. Prolog
Sore itu, hujan turun deras, mengguyur atap rumah dan memercik di sepanjang jalanan bertanah. Kilat menyambar tanpa henti, menciptakan suasana ganjil nan menegangkan. Cahaya halilintar berwarna-warni menyilaukan, jauh lebih tajam dibanding petir sebelum-sebelumnya.
Simfoni warna-warna asing menari di langit kelabu—biru terang, ungu pucat, hingga merah muda yang menyala ganjil. Cahayanya memantul samar di kaca jendela dan dinding rumah, tampak indah sekaligus mencekam.
Sementara itu, hawa panas terus menyengat, bertolak belakang dengan hujan deras yang mengguyur tanpa ampun.
Seorang gadis berdiri di tengah ruangan sambil memeluk tas di dadanya. Jemarinya mencengkeram erat tali tas itu, berusaha meredam gemetar di tubuhnya. Di sela deru hujan dan gemuruh petir, lirih doa terus mengalir dari bibirnya.
Namun, suara halilintar terus menggelegar, mengguncang setiap sudut rumah.
Tiba-tiba, petir terakhir menyambar.