Malam selalu punya cara untuk membuat seseorang merasa takut, entah karena pikirannya sendiri atau karena gelap yang merajai.
Terlebih malam di hutan ganjil ini.
Seorang gadis memeluk tubuhnya sendiri erat-erat. Bukan hanya karena udara dingin yang menggigit, bukan karena pekat yang mencekik, dan bukan pula karena ia sendirian di tempat itu.
Hutan ini terasa salah.
Bukan... tidak hanya hutannya, pikir gadis itu, tetapi semuanya.
Langit yang berwarna merah muda. Binatang-binatang aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tumbuhan asing yang tumbuh liar di segala penjuru. Bahkan keberadaan dirinya sendiri yang tiba-tiba terlempar ke tempat ini.
Semuanya terasa tidak masuk akal.
Suara derak kayu bakar dari api unggun berpadu dengan lolongan binatang asing dari kejauhan. Bukannya menenangkan, suara-suara itu justru membuat nyalinya semakin ciut.
Beruntung, ia tidak benar-benar sendirian.
Ada dua orang lain yang menemaninya selama tiga hari terakhir.
Tiga hari?
Entahlah.
Ia sendiri tidak lagi yakin bagaimana waktu berputar di dunia ini.
Pandangannya beralih kepada dua sosok yang duduk di seberang api unggun. Seorang gadis berambut pirang dan seorang lelaki berambut cokelat. Mereka bilang mereka adalah saudara.
Aneh.
Kalau dipikir-pikir, selama tiga hari terakhir mereka lebih sering berdebat daripada terlihat akur.
Lamunannya buyar ketika gadis pirang itu kembali membuka suara.
Pertanyaan yang sama.
Pertanyaan yang selalu diulangnya selama tiga malam berturut-turut.
"Sungguh, kau berasal dari dunia lain?"
Di sebelahnya, sang kakak hanya memutar mata, tampak jenuh.
"Senna, apa kau tidak bosan selalu bertanya begitu padanya?" lelaki itu melempar ekspresi heran pada adiknya.
Gadis yang menjadi objek perdebatan itu tetap bungkam. Tatapan matanya terus tertuju pada nyala api yang mengantarai mereka bertiga.
"Kau ini! Pantas saja kau masih lajang. Seharusnya kau belajar sihir pemikat, supaya setidaknya bisa sedikit memahami perempuan," Senna mencebik, merasa sebal dengan kakaknya yang hanya bisa mencelanya.
Sebenarnya, Senna hanya berusaha membuat Ayra mau berbicara. Ia sungguh merasa iba melihat gadis itu yang selama berhari-hari lebih banyak diam, melamun, lalu sesekali menangis sesenggukan tanpa sebab yang ia pahami.
"Hei, apa hubungannya belajar sihir pemikat dengan memahami perempuan?" suara Kael kembali terdengar. "Justru sebaliknya, aku akan bersenang-senang saja dengan mereka."
Kael mendengus, rahangnya mulai mengeras.
"Oh, itu gagasan yang bagus. Lalu kenapa tidak kau lakukan?" sahut Senna dengan nada mencemooh.
"Tentu. Aku akan melakukannya nanti," timpal Kael dengan suara datar, tetapi sarat ancaman.
Agaknya Senna luput menangkap nada itu, atau justru dia memang sedang mencari gara-gara dengan kakaknya.
"Kau bersungguh-sungguh?" tanyanya, tampak gembira.
"Kurasa kau memang sudah seharusnya melangkah ke sana. Tentu aku akan ikut senang. Terlebih lagi, aku akan mempersiapkan segala yang dibutuhkan," imbuhnya dengan mata yang menatap lurus pada kakak lelakinya.
"Jika itu benar-benar terjadi, aku tak sangsi, kau adalah orang yang paling bahagia, bukan begitu?" Kael mendengus, lalu suaranya berubah tajam.
"Dengar, Senna! Aku tidak akan pernah menikah jika siluman bajingan itu masih hidup! Mungkin kau bisa lupa dan melupakan kedua orang tua kita, tapi aku tidak! Jadi, Senna, kalau kau sudah tak sabar menjadi wadah pembuat bayi, silakan duluan!"
Senna mencelos mendengar kata-kata pedas itu. Meskipun bukan sesuatu yang asing lagi baginya, tetap saja hatinya nyeri setiap kali kakaknya melontarkan kalimat semacam itu.
Senna tahu betul bahwa Kael tidak akan pernah melupakan kejadian menyakitkan itu. Sejujurnya, ia pun merasakan hal yang sama. Hampir setiap kali terpejam, suara-suara orang kesakitan, jeritan minta tolong, dan tubuh-tubuh bergelimang darah selalu menghantuinya.
Mungkin Kael membencinya karena telah menyelamatkannya. Tapi yang kakaknya tidak tahu, Senna justru membenci dirinya sendiri lebih dari apa pun.
"Eh, kalian ini beneran saudara, kan?" Suara gadis kuncir kuda akhirnya terdengar setelah sekian lama hanya menjadi penonton. "Maaf, aku lancang. Tapi serius deh, interaksi kalian itu kayak musuh bebuyutan."
Ayra menelan ludah, ragu apakah dia seharusnya ikut campur. Namun, dia benar-benar tidak tahan melihat pertengkaran dua saudara itu.
"Aku minta maaf kalau kesannya aku sering banget nyuekin kalian," lanjutnya. "Tapi jujur, semua ini aneh banget dan nggak gampang buat aku terima. Sekali lagi, maaf ya."
Ia menatap kasihan pada Senna yang terlihat begitu terpukul akibat ucapan kakaknya. Namun, Ayra bisa apa? Hubungan keduanya begitu rumit. Ada kalanya Kael sangat protektif, tetapi kadang dia marah-marah tanpa sebab yang sulit dipahami.
Lihat saja kejadian barusan. Padahal awalnya mereka baik-baik saja, tapi tiba-tiba Kael mengeluarkan kata-kata kasar. Bahkan tempo hari, Ayra pernah melihat mereka saling serang.
Sebagai anak tunggal, Ayra tidak tahu bagaimana rasanya memiliki kakak ataupun adik. Tapi dari yang ia lihat di dunia asalnya, punya saudara itu menyenangkan.
"Tak apa, Aya. Istirahatlah. Aku juga mau istirahat." Senna melempar senyum tipis ke arah Ayra, lalu bangkit dan berjalan menjauh.
Samar-samar, Ayra melihat sebuah tenda kecil mewujud dari ketiadaan. Mau dilihat berapa kali pun, kejadian seperti itu masih terasa asing baginya. Seandainya dia tidak mengalaminya sendiri, tentu Ayra tidak akan pernah percaya.
Ayra masih termangu, tapi ketika ia melihat wajah Kael yang tetap mengeras, ia akhirnya bangkit dan menyusul Senna.Â
Saat Ayra berbaring di sebelah Senna, kepala gadis itu terus saja riuh dengan semua pengalaman dan ingatan yang saling tumpang tindih. Ia mencoba surut pada kejadian tiga hari yang lalu, saat dirinya pertama kali tiba di dunia ganjil ini.
Waktu itu, ia begitu terkejut hingga untuk beberapa saat hanya bisa mematung. Fakta bahwa sekonyong-konyong dirinya berada di tempat yang sama sekali tidak dikenal—bukankah itu sebuah kenyataan yang mengerikan?
Padahal, baru saja ia keluar rumah karena tertarik pada keanehan yang terjadi. Namun kini, justru dirinya berdiri di sebuah tanah lapang dengan panorama yang asing. Sejauh mata memandang, hanya pepohonan besar menjulang yang terlihat.
Tak hanya itu.
Langitnya pun tampak aneh.
Langit berwarna merah muda.
Ayra buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ia ingin menghubungi temannya atau siapa pun yang bisa dimintai bantuan. Namun, begitu layar menyala, keningnya langsung berkerut.