"Sungguh, kau berasal dari dunia lain?"
Gadis itu kembali buka suara setelah kalimat basa-basinya sama sekali tidak dihiraukan. Anehnya, pertanyaan itulah yang selalu ampuh membuat gadis di hadapannya mau merespons. Padahal sudah tiga malam berturut-turut ia menanyakannya.
Di sebelahnya, seorang laki-laki yang merupakan kakak kandung dari si gadis memutar mata, tampak malas.
"Senna, apa kau tidak bosan selalu bertanya begitu padanya?" Kael melempar ekspresi heran pada adiknya.
Alih-alih menjawab, gadis yang menjadi objek perdebatan itu tetap bungkam. Tatapan matanya terus tertuju pada nyala api yang mengantarai mereka bertiga.
"Kau ini! Pantas saja kau masih lajang. Seharusnya kau belajar sihir pemikat, supaya setidaknya bisa sedikit memahami perempuan," Senna mencebik, merasa sebal dengan kakaknya yang hanya bisa mencelanya.
"Hei, apa hubungannya belajar sihir pemikat dengan memahami perempuan? Justru sebaliknya, aku akan bersenang-senang saja dengan mereka." Kael mendengus, rahangnya mulai mengeras.
"Oh, itu ide yang bagus. Lalu kenapa tidak kau lakukan?" sahut Senna dengan nada mencemooh.
"Tentu. Aku akan melakukannya nanti," timpal Kael dengan suara datar, tetapi sarat ancaman.
Agaknya Senna luput menangkap nada itu, atau justru dia memang sedang mencari gara-gara dengan kakaknya.
"Kau bersungguh-sungguh?" tanyanya, tampak gembira.
"Kurasa kau memang sudah seharusnya melangkah ke sana. Tentu aku akan ikut senang. Terlebih lagi, aku akan mempersiapkan segala yang dibutuhkan," imbuhnya dengan mata yang menatap lurus pada kakak lelakinya.
"Jika itu benar-benar terjadi, aku tak sangsi, kau adalah orang yang paling bahagia, bukan begitu?" Kael mendengus, lalu suaranya berubah tajam.
"Dengar, Senna! Aku tidak akan pernah menikah jika bajingan itu masih hidup! Mungkin kau bisa lupa dan melupakan kedua orang tua kita, tapi aku tidak! Jadi, Senna, kalau kau sudah tak sabar menjadi wadah pembuat bayi, silakan duluan!"
Senna mencelos mendengar kata-kata pedas itu. Meskipun bukan sesuatu yang asing lagi baginya, tetap saja hatinya nyeri setiap kali kakaknya melontarkan kalimat semacam itu.
Senna tahu betul bahwa Kael tidak akan pernah melupakan kejadian menyakitkan itu. Sejujurnya, ia pun merasakan hal yang sama. Hampir setiap kali terpejam, suara-suara orang kesakitan, jeritan minta tolong, dan tubuh-tubuh bergelimang darah selalu menghantuinya.