Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #3

Langit Merah Muda

Udara berhembus lembut, menghantarkan bebauan daun kering, tanah basah, dan sesuatu yang terbakar. Ayra membuka mata, mencoba memperhatikan sekitar. Otaknya sibuk merangkai ingatan yang terserak. Namun, segalanya buyar ketika sebuah suara terdengar dari sebelah kanan.


"Kau sudah bangun?"


Refleks, Ayra menoleh. Seorang perempuan duduk tidak jauh darinya, menatap dengan mata hijau zamrud. Usianya tampak tak jauh berbeda, tetapi yang lebih menarik perhatian Ayra adalah penampilannya: jubah ungu yang menjuntai, sebuah tongkat di tangan, serta rambut pirang yang berkilauan di bawah cahaya langit senja.


"Kamu siapa? Ini di mana?" suara Ayra serak. Tubuhnya terasa lemah, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk duduk.


"Namaku Senna. Kau berada di Wilayah Barat."


"Wilayah... Apa katamu? Barat?" Kening Ayra berkerut.


"Ya, Wilayah Barat." Jawaban Senna lugas, seolah itu adalah hal yang wajar.


"Tapi... itu di mana?" Ayra memijat pelipisnya, mencoba mengusir pening yang mulai muncul, sekaligus memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.


Senna mengangkat bahu. "Entah. Kami berdua juga baru saja sampai di hutan ini."


Ia mengalihkan pandangan ke langit.


Langit yang... merah muda?


Deg!


Ayra menahan napas. Bukankah beberapa saat lalu, sebelum penyerangan kelinci ekor lancip, ia melihat petir berwarna merah muda?


"Kau kenapa?" Senna menatapnya cemas.


Alih-alih menjawab, Ayra justru menangis. Bahunya terguncang saat ia menyembunyikan wajah di lututnya. Semua ini terasa salah. Terlalu asing. Terlalu menakutkan. Kesadaran itu menghantamnya bak petir di tengah badai-menyakitkan, membuat tubuhnya gemetar dan lunglai.


"Apa yang kau lakukan pada gadis itu?"


Sebuah suara berat dan dalam membuat Ayra mengangkat kepala. Seorang pria berjalan mendekat, memanggul tumpukan kayu di bahunya. Matanya berwarna cokelat gelap, sorotnya tajam. Sama seperti Senna, pakaiannya pun terlihat asing bagi Ayra.


"Aku hanya menanyainya, Kael. Tidak lebih," jawab Senna santai. Ia lalu melangkah mendekati pria itu.


********


Lihat selengkapnya