Fajar perlahan merayap di antara celah-celah dedaunan, menciptakan semburat keemasan yang kian nyata di lantai hutan.
Burung-burung berkicau dari berbagai penjuru, seolah menyambut pagi yang cerah dan damai.
Namun, udara dingin masih terasa menggigit hingga ke tulang.
Di dalam tenda kecil, seorang gadis meringkuk di balik selimutnya. Tubuhnya melipat semakin rapat, berusaha mempertahankan sisa kehangatan malam.
Dari luar, Senna berdiri sambil berkacak pinggang. Tanpa ragu, ia membuka lebar-lebar daun pintu tenda.
"Aya, bangunlah. Ini sudah pagi. Jika kau terus bermalas-malasan begini, Kael akan marah dan mungkin saja akan memaksaku pergi meninggalkanmu seorang diri di hutan ini," seru Senna sambil mengguncang tubuh Ayra.
Tak jauh dari tenda mereka, Kael duduk di atas dahan pohon. Ia menghadap ke timur, memperhatikan mentari yang bersinar malu-malu dari ujung cakrawala.
Ia menggerutu pelan ketika namanya dibawa-bawa.
Namun, Kael tahu hal itu memang selalu ampuh untuk membuat Ayra segera bergegas bangun.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
Padahal, ia tidak pernah melakukan apa-apa. Namun entah kenapa, Ayra selalu terlihat takut padanya.
Mungkin gadis itu terlalu peka, pikir Kael sambil menerawang langit merah muda.
Jika boleh jujur, ia memang sempat berniat meninggalkan Ayra.
Baginya, tidak ada gunanya membawa serta gadis itu dalam perjalanan yang bahkan terasa mustahil untuk diselesaikan.
Kael bukannya kejam. Ia hanya tidak ingin direpotkan.
Menjaga adiknya saja sudah cukup menyulitkan. Apalagi harus menambah satu orang lagi, terlebih Ayra benar-benar awam dengan dunia ini.
Gara-gara pemikiran itulah, dua hari yang lalu ia dan adiknya sempat berkelahi.
Senna, yang naif dan mudah tersentuh, tentu saja tidak tega meninggalkan Ayra. Bahkan, ia mengancam akan memisahkan diri dan berusaha mengembalikan gadis itu ke dunianya.
Kembali ke dunianya?
Kael mendengus pelan.
Senna pikir itu perkara mudah?
Menurutnya, pekerjaan itu jauh lebih mustahil dibandingkan mencari siluman biadab yang telah menghabisi seluruh desanya.
Senyum kecut terukir di wajahnya saat ingatannya melayang pada kejadian dua hari yang lalu.
Saat itu, setelah mereka sama-sama kehabisan tenaga akibat pertengkaran yang berujung baku serang, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa keributan tersebut telah menarik perhatian sepasang binatang sakti yang sedang kelaparan.
Karena sudah kehabisan tenaga, mereka bahkan tidak berpikir untuk melawan.
Begitu sepasang binatang sakti itu melesat keluar dari balik semak-semak, Kael segera bereaksi.
Tanpa membuang waktu, ia menyentak pergelangan tangan adiknya.
"Kemari!"
Keduanya melenting ke sana kemari, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Daun-daun berguguran di belakang mereka sementara suara geraman binatang-binatang itu terus memburu dari bawah.
Mereka baru berhenti setelah berhasil mencapai puncak salah satu pohon raksasa yang menjulang tinggi di atas hutan.
Kael dan Senna sama-sama terengah.
Di bawah sana, kedua binatang sakti itu mendongak.
Mereka menggeram frustrasi, berputar-putar mengelilingi batang pohon, lalu sesekali melompat sambil berusaha menggapai mangsanya.
Namun sia-sia.
Makhluk-makhluk mengerikan itu ternyata tidak mampu memanjat.
Perlahan, ketegangan di bahu Kael mulai mengendur.
Setelah beberapa saat terus mengitari pohon tanpa hasil, kedua binatang sakti itu akhirnya menyerah.
Mereka berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Kael dan Senna yang masih bertengger di atas ketinggian.
Kakak beradik itu mengembuskan napas lega.
"Mau ke mana binatang itu?" desis Senna, matanya awas mengikuti kepergian mereka.
Lalu, tiba-tiba kesadaran menghantamnya.
"Aya!?"
Senna terlonjak panik.
Kael yang lengah tak sempat menahan adiknya agar tetap di tempat. Senna sudah melompat turun, dan dengan terpaksa Kael mengikuti, membayangi langkah cepat adiknya yang berlari menuju tenda.
Ketakutan Senna menjadi kenyataan.