"Apa langitnya selalu berwarna seperti itu?" gumam Ayra pelan, matanya masih terpaku ke atas.
Senna meliriknya sekilas. "Seingatku, langit selalu berwarna merah muda. Kau rindu langit di duniamu, ya?"
"Nggak tahu," sahut Ayra lirih. "Rasanya aku sudah lama nggak lihat langit di duniaku sana."
Matanya berkedip pelan, seolah ada sesuatu yang ingin ia ucapkan, tetapi tak pernah benar-benar menemukan jalannya.
Senna menghela napas. "Kurasa kau pasti merindukannya. Aku memang belum bisa membantumu kembali, tapi aku berjanji akan berusaha mencari cara." Ia menatap Ayra lekat-lekat, ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Aya, kumohon bicaralah. Kita sudah bersama selama empat hari, tapi kau hanya bicara sekadarnya. Selebihnya, kau diam… melamun… seolah tidak benar-benar ada di sini."
Ayra terdiam. Kata-kata Senna menyentuhnya, tetapi pada saat yang sama, ia justru merasa kosong.
Bukan karena ia tidak ingin bicara. Hanya saja… dari mana ia harus memulai?
Segalanya masih terasa seperti mimpi yang belum sepenuhnya bisa ia pahami. Dunia ini, orang-orang yang ia temui, sihir yang entah bagaimana melekat padanya—semuanya terlalu asing. Bahkan memikirkan jalan pulang pun terasa seperti memikirkan sesuatu yang tidak nyata.
Namun, Senna benar. Jika ia terus diam, bagaimana orang lain bisa membantunya?
"Senna, menurutmu… ada orang lain yang sama kayak aku di sini?" akhirnya Ayra bertanya.
Senna terdiam sesaat, menimbang kata-katanya. "Sejujurnya, aku ingin memberimu harapan. Tapi… aku belum pernah mendengar hal semacam ini sebelumnya. Aku bisa saja mengatakan apa yang ingin kau dengar, tetapi aku tahu itu hanya harapan semu." Ia menepuk pundak Ayra dengan lembut, berusaha menenangkannya.
Di depan mereka, Kael terus berjalan tanpa menoleh. Meski begitu, jelas ia mendengar percakapan itu. Hanya saja, ia memang tidak pandai menghibur seperti adiknya.
"Apa selamanya aku bakal terjebak di sini?" suara Ayra terdengar pelan, tercekat, nyaris seperti gumaman yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.
Senna tidak menjawab. Ia tahu, terkadang kata-kata penghiburan justru terdengar kosong. Yang Ayra butuhkan saat ini bukan janji yang belum tentu bisa ditepati, melainkan ruang untuk merasakan semua yang sedang ia alami.
Meski begitu, Senna tidak bisa mengabaikan sesuatu yang mengusik pikirannya. Ada hal menarik dari Ayra. Sekalipun gadis itu bukan bagian dari dunia ini, ia pernah—entah bagaimana caranya—membawanya berpindah tempat secara mendadak. Itu bukan sesuatu yang biasa.
Bukan pula sesuatu yang istimewa, memang. Namun, jika Ayra mampu melakukannya tanpa sadar, bukan tidak mungkin ia menyimpan potensi yang jauh lebih besar dari yang ia duga.
Senna menghela napas, mencoba menyusun berbagai kemungkinan di benaknya.
"Hei, kamu kenapa? Kok sekarang malah kamu yang bengong kayak lagi banyak pikiran?" Ayra tiba-tiba menggamit lengan Senna, menyadarkannya dari lamunan.
"Maaf. Agaknya aku mengantuk," sahut Senna sambil bangkit dari bawah pohon.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanyanya lagi, sedikit heran melihat Ayra yang kini justru tersenyum.
"Udahlah, capek aku mikirin ini terus. Mungkin aku memang harus nerima kondisiku sekarang." Ayra mengangkat bahu, lalu mengerucutkan bibir ke arah depan. "Eh, tuh, abangmu sudah jauh."
Senna terkekeh, lalu menarik tangan Ayra. "Ayo, kita susul. Bisa-bisa dia murka kalau kita terlalu lamban."
*******
Angin bertiup pelan, membawa nyanyian binatang nokturnal yang menambah kesyahduan malam. Langit bersih berwarna merah muda memamerkan ribuan gemintang berkilauan, sementara bulan hijau keperakan menggantung tinggi, memancarkan sinar lembutnya. Panorama itu begitu indah, seolah dunia ini dilukis di atas kanvas penuh keajaiban.
"Ya Tuhan, cantik banget…" Ayra berbisik, matanya berbinar menatap mahakarya alam di hadapannya.
Namun, sorot kagumnya perlahan meredup. Kepalanya tertunduk, seolah keindahan ini justru menambah berat beban di dadanya. Seindah apa pun langit di sini, ia tetap merasa asing. Rasa takut dan kerinduan akan tanah kelahirannya menyusup, mencengkeram erat hingga terasa nyeri.
Lagi apa Nenek sekarang? Jam berapa, ya, di sana? Kasihan nenek, nggak ada yang nyelimutin kalau malam…
Ayra teringat bagaimana neneknya kerap menggigil saat tidur larut malam, dan dirinyalah yang selalu terbangun lebih dulu karena mendengar getar tubuh renta itu. Ia pula yang akan mengambil selimut tambahan, membungkus sang nenek tanpa banyak kata.
Kira-kira ada yang ngurusin Nenek, nggak, ya?
Ia ingat betul, neneknya hanya memiliki satu anak—ibunya. Dan kini, perempuan itu sedang bekerja jauh di negeri lain sebagai TKW.