Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #5

Luka di Ujung Fajar

Baik Kael maupun Feey menyisir sekitar dengan tatapan tajam, mencari sosok Ayra. Namun, gadis itu tak tampak di mana pun.


Di mana kau, Aya?


Kael menahan napas, kewaspadaan mengeras di dadanya. Ia tahu betul Ayra belum sepenuhnya mampu mengendalikan kekuatannya. Pikirannya melayang ke beberapa hari lalu, saat Ayra memindahkan mereka bertiga. Nyaris saja mereka terjun ke jurang jika Senna tidak segera memperingatkan. Meski pada akhirnya, mereka tetap tercebur ke sungai.


Kael tersentak.


Instingnya berteriak, bahaya!


Tanpa berpikir panjang, ia melompat ke samping tepat ketika hujan dedaunan tajam melesat ke arahnya, meluncur seperti anak panah.


Sial!


Terlalu larut dalam pikirannya sendiri, Kael tak menyadari bahwa Feey telah menemukan persembunyiannya, dan langsung menyerang. Namun, Kael sudah bersiap sejak awal. Begitu tubuhnya melenting menghindar, tangannya refleks melemparkan sebuah pisau kecil, senjata yang telah dialiri daya sihir.


Pisau itu meluncur cepat, membelah udara.


Sayangnya, Feey bukan peri hutan yang mudah ditaklukkan. Tepat sebelum pisau itu mengenainya, sekelompok tumbuhan merambat bangkit dari tanah, menjalin diri menjadi perisai hidup.


Feey tersenyum tipis.

“Kau lumayan juga, manusia. Apa kau teman gadis dengan sihir berpindah tempat itu?”


Tanpa menunggu jawaban, peri itu mengangkat tangan. Seketika, akar-akar liar mencuat dari tanah, bergerak seperti ular lapar dan menyambar ke arah Kael.


Sial! Aku lupa membawa pedangku!


Kael melompat gesit, menghindari satu serangan demi serangan lain. Akar-akar itu terus mengejarnya, merambat di sepanjang tanah dan batang-batang pohon, tak memberinya celah untuk bernapas.


Namun, Kael bukan orang yang mudah menyerah. Dengan dua bilah pisau kecil di tangannya, ia menebas setiap akar yang menghalangi jalannya. Matanya terpaku pada Feey yang berdiri tak jauh darinya, jemari peri itu bergerak halus, mengendalikan tanaman liar seolah mereka bagian dari tubuhnya sendiri.


Kael terlalu fokus ke depan.


Dan itu kesalahannya.


Tanpa ia sadari, seutas tanaman kecil melesat cepat dan menjerat pergelangan kakinya.


Brak!


Tubuhnya terhempas ke tanah. Dalam hitungan detik, akar-akar lain menyergap, membelit tubuhnya dengan kuat.


Feey tertawa lepas.


“Sudah lama aku tidak menyantap daya kehidupan manusia,” katanya, suaranya menyerupai bisikan dedaunan di tengah hutan. “Apalagi kau seorang penyihir Eldrana. Pasti rasanya lebih lezat.”


Cengkeraman akar semakin erat. Rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh Kael, memaksanya menggertakkan gigi. Ia meronta sekuat tenaga, tetapi jeratan itu justru semakin dalam, menorehkan luka-luka yang mulai mengalirkan darah.


Saat yakin mangsanya tak lagi berdaya, Feey menggerakkan jemarinya. Sebuah akar tipis kecokelatan meliuk, melesat ke arah wajah Kael, seolah hendak menghujam ke mulutnya. Kael memberontak, memiringkan wajah untuk menghindar.


Tidak! Aku tidak boleh mati.


Bukan sebelum membunuh siluman biadab yang membumihanguskan desaku.


Bukan sebelum membalaskan kematian Ayah dan Ibu!


Bayangan orang tuanya melintas di benaknya. Sorot mata terakhir ibunya, tepat sebelum segalanya runtuh. Dadanya dipenuhi amarah yang mendidih, menyalakan tekad yang tak lagi bisa dibendung.


Kael menangis tanpa suara. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena rasa sakit, melainkan karena kobaran kebencian yang menggelegak di dalam dirinya.

Lihat selengkapnya