Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #6

Lolongan di Antara Pepohonan

"Aaaaaaaaauuuuuuuuuuurrrrrrr!!!"


Senna tersentak. Buruan yang sedari tadi dibidiknya terlonjak kaget, lalu melesat lenyap di balik semak dan rerimbunan daun. Ia membeku di tempat, jemarinya mencengkeram erat busur, sementara suara itu kembali menggema—panjang, lirih, memilukan. Seperti ratapan yang tak sempat menjadi kata.


Ia menghela napas pelan, gusar. Buruan itu kini tak lebih dari bayangan yang sirna. Namun suara tadi… ada yang tak wajar di dalamnya. Terlalu menyayat untuk diabaikan.


Dengan langkah ringan namun penuh kewaspadaan, ia menyibak semak belukar, menapaki arah datangnya suara yang menggema lembut di antara pepohonan tinggi. Sinar matahari siang menembus celah dedaunan, menari di atas tanah lembap yang masih menyimpan jejak fajar.


Tadi, selepas memastikan Ayra dan Kael cukup pulih dari luka, ia berniat mencari buah-buahan di sekitar hutan. Namun sejauh ini, tak satu pun terlihat meyakinkan. Bukan lantaran musim yang tidak bersahabat atau hutan yang pelit akan hasil bumi, melainkan karena ia sendiri tak tahu mana yang dapat dimakan dan mana yang justru mematikan.


Ironis benar. Ia terlahir dari garis keturunan penyembuh—ayahnya dahulu seorang penyihir yang dihormati karena kebijaksanaannya. Namun Senna tak pernah memiliki minat yang sama. Dunia pengobatan terasa asing baginya. Ia bahkan tak hafal rupa tanaman obat. Kemampuannya menyembuhkan seolah bukan lahir dari pengetahuan, melainkan dari satu hal—tekad yang membuncah saat mencoba menyelamatkan sang kakak dari kematian.


Kenangan itu kembali menyeruak. Sebuah pagi, dan segalanya berubah. Ayahnya terpental saat mencoba melindungi sang paman. Ibunya menariknya untuk lari—namun keduanya terhantam bilah parang yang tak mengenal ampun.


Mereka tumbang bersama. Tanah menjadi hangat oleh darah.


Dalam pelukannya, ibunya terdiam.


Dan di sanalah—di batas tipis antara hidup dan mati—ada sesuatu dalam dirinya yang retak, lalu merekah. Ia tak tahu apa. Yang ia tahu hanyalah satu: ia tak ingin Kael pergi. Ia tak ingin sendiri.


Maka, entah bagaimana, Kael masih bernapas. Dan dirinya, meski tak utuh lagi, tetap hidup hingga kini. Namun Kael… Kael bahkan enggan menatap matanya. Jika pun menoleh, hanya untuk menunjukkan betapa dalam benci yang telah tumbuh di hatinya. Betapa dendam telah menjadi jurang di antara mereka.


Lolongan itu kembali menggema.


Senna mengusap mata yang mulai basah, lalu dengan cepat berlari menghampiri sumber suara binatang tersebut.


Dari balik semak yang rimbun, langkahnya terhenti. Pandangannya tertumbuk pada kejadian yang baru pertama kali ia saksikan. Di kejauhan, pada sebuah celah terbuka di antara pepohonan yang menjulang, Senna mendapati sebuah pertempuran yang membuat darahnya terasa membeku.


Dua binatang sakti berbentuk burung, berwarna hitam keunguan dengan ujung sayap menyerupai bara, mengeroyok seekor serigala perak. Tubuh sang serigala berlumuran darah, namun ia tetap bertahan. Paruh dan cakar saling menyambar; raungan dan pekik liar membentuk simfoni kekacauan di udara.


Ketidakadilan itu menggores hatinya.

Lihat selengkapnya