Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #7

Sang Pembaca Luka

Saat telentang di tanah, otaknya bekerja cepat.


Andai Kael yang berada di posisiku… apa yang akan dia lakukan?


Ia menggertakkan gigi. Dulu, di desa, ia tak pernah benar-benar belajar bertarung. Sementara pamannya dan Kael hampir setiap hari menempa diri, melatih kekuatan dan ketahanan. Ia tak pernah membayangkan bahwa kemampuan itu suatu hari akan menjadi kebutuhan yang begitu mendesak.


Andai saja…


Whuusshh!


Darah Senna tersirap hingga ke ubun-ubun. Matanya terbelalak, namun tak ada waktu untuk menghindar. Cakar tajam mencengkeram jubahnya, mengangkat tubuhnya tinggi ke udara. Ia menjerit, meronta, berusaha melepaskan diri.


Ciiiiiiaaaaaccckkkk!


Burung itu melesat, membawa tubuh Senna yang terguncang dan pucat. Sayapnya membelah angin, terbang semakin tinggi, seolah hendak menjatuhkannya dari ketinggian. Namun tiba-tiba, sebuah pekik tajam terdengar dari kejauhan.


Suara itu menghentikan laju burung pembawa Senna. Ia mengepakkan sayap kuat-kuat, lalu membelok tajam, meluncur ke arah jeritan tadi. Di bawah sana, seekor burung lain terkapar. Sayapnya robek, lehernya terkoyak, sekarat.


Tanpa ampun, burung itu menjatuhkan Senna. Tubuhnya menghantam tanah dengan keras, sementara sang burung meluncur turun, menubruk pasangannya dengan pekikan penuh luka.


Senna meringis. Dengan tubuh remuk, ia memaksa diri bangkit. Namun matanya terpaku ketika mendengar cicit pelan yang pilu. Rintihan itu mengguncang jiwanya. Ia ingin lari, menjauh dari kekacauan ini. Tapi pandangannya tertahan pada sosok lain.


Seekor serigala perak terbaring lemah, nyaris tak bernapas.


Langkah Senna terhenti. Keraguan mengikat tubuhnya, dan itu adalah kesalahan.


Ssswwwerrtt!


Burung itu menoleh. Sayapnya setengah terbuka, tubuhnya merunduk, siap menerkam. Tatapannya liar, berganti-ganti antara Senna dan sang serigala.


Senna mundur tanpa sadar, lalu tersandung dan jatuh. Napasnya memburu, wajahnya memucat dalam ketidakberdayaan. Ketika burung itu menerjang, ia hanya mampu memejamkan mata.


Namun—ajaib.


Bukan dirinya yang terluka. Justru burung itu terpental, seolah membentur dinding tak kasat mata.


Senna terkesiap. Ia membuka mata, tercekat melihat serangan itu tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat. Burung itu meraung, menyerang lagi dan lagi. Paruhnya menukik, sayapnya membelah udara, namun semuanya gagal. Seakan ada tirai halus yang melindunginya.


Dengan tubuh gemetar, Senna menoleh ke sekeliling. Tak ada siapa pun.


Apa aku yang melakukannya? Bagaimana bisa?


Pertanyaan itu bergulung di kepalanya, menimbulkan riak kebingungan yang tak menemukan jawaban.


Sementara itu, burung tersebut kian menggila. Ia menyerang membabi buta, menghantam pelindung tak kasat mata dengan mata menyala penuh amarah dan luka. Namun ia tak pernah berhasil mendekat.


Seakan terbangun dari mimpi buruk, Senna buru-buru menyiapkan panah terakhir. Ia menarik talinya perlahan, ujung panah mengarah ke leher burung itu. Ini satu-satunya kesempatan.


Namun ia ragu.


Mata mereka bertemu.

Lihat selengkapnya