Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #8

Langkah Menuju Desa Pemburu

Malam telah turun ketika Ayra memberanikan diri masuk ke tenda.


“Sen… Senna,” guncangnya pelan.


“Iya, ada apa, Aya?”


Senna bangkit perlahan. Matanya awas menyapu sekitar yang sudah gelap, hanya diterangi bias cahaya api unggun yang bergoyang lembut dari luar tenda. Ia meregangkan tubuh, membenahi rambut yang tergerai kusut.


“Maaf ganggu tidurmu. Kael nyuruh bangunin kamu. Lagian katanya kamu pengin ngomong, kayaknya penting gitu. Jadi aku beraniin, deh.”


“Ya, itu benar. Aku sama sekali tidak keberatan. Tunggulah sebentar di luar. Aku ingin berbenah dulu.”


“Oke, aku tunggu ya.”


Ayra tersenyum kecil lalu keluar.


Tak lama, Senna menyusul. Ia duduk di depan api unggun yang masih menyala terang. Di sisi kiri api, sepotong daging tertata di atas daun lebar, asapnya masih mengepul hangat.


“Ini untukku?” tanyanya membuka percakapan, sembari meraih sepotong daging yang ditusuk ranting kecil.


“Makanlah,” sahut Kael datar, tapi matanya tak lepas dari wajah adiknya.


“Terima kasih, Kael. Maaf, seharian berburu aku hanya membawa buah-buahan.” Suaranya tenang, sembari mengunyah perlahan.


“Kalau hanya mencari buah-buahan, kenapa jubahmu bisa compang-camping seperti sore tadi?”


Di sisi kanan, Ayra menahan napas. Meski sudah beberapa hari bersama, ia belum terbiasa dengan cara Kael berbicara yang kadang terasa setajam pisau.


“Justru itu yang ingin kubicarakan pada kalian berdua.” Senna menatap kakaknya dan Ayra bergantian. “Sebenarnya, apa yang terjadi semalam? Jujur, aku sangat khawatir melihat kondisi kalian tadi pagi. Aku juga akan bercerita setelah kalian. Kurasa ceritaku tidak kalah serunya.”


Ayra berdaham, tenggorokannya mendadak terasa kering.


“Maaf… sebenarnya aku cuma pengin buktiin—apa aku beneran bisa teleportasi. Maksudku, berpindah tempat, kayak waktu kita terjebak malam itu.” Ia teringat malam saat dua binatang sakti menyerang mereka. “Aku masih nggak ngerti kenapa bisa begitu. Jadi aku cari tempat sepi, nggak mau ganggu kalian istirahat. Tapi ternyata Kael diam-diam ngikutin.”


Ia menoleh pada Kael. Lelaki itu tetap diam, wajahnya kaku.


“Aku penasaran dengan apa yang akan kau lakukan,” ujar Kael akhirnya. “Jujur saja… aku masih curiga padamu, Aya. Aku hanya perlu berjaga.”


Tatapan Kael sedikit melembut saat melihat wajah Ayra berubah sendu.


“Dan saat kau mengikuti peri itu, aku sengaja berdiam diri. Aku ingin melihat apa yang akan terjadi. Jika aku langsung muncul dan membawamu pergi, bisa saja suatu hari kau tergoda untuk mencarinya lagi. Aku ingin kau belajar dari pilihanmu sendiri… Maaf, Aya.”


Ayra memejamkan mata, air matanya mengambang di pelupuk.


“Aku nggak kaget kamu ngomong gitu. Tapi ternyata tetep sakit rasanya nggak dipercaya. Tapi ya… terima kasih. Kalau kamu langsung narik aku pulang, mungkin aku bakal nyari kesempatan buat kabur kayak yang kamu bilang tadi.”


Ia mengusap matanya kasar, lalu beralih menatap Senna.


“Maaf, Sen. Aku sempat ninggalin kamu tanpa pamit. Tapi waktu itu, Feey bilang waktunya nggak banyak. Aku takut kehilangan kesempatan pulang.”


Senna mendekat, merengkuh bahu Ayra.


“Tidak apa-apa, Aya. Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Jangan menyalahkan dirimu. Aku dan Kael tidak keberatan jika itu benar-benar bisa membawamu pulang. Iya, kan, Kael?”


Senna melirik tajam ke arah kakaknya yang hanya membisu.


Sembari menenangkan Ayra yang masih terisak pelan, Senna mulai bercerita.


“Siang tadi, aku pergi mencari buruan, tapi yang kutemukan bukan hewan biasa… aku menyaksikan pertempuran antara dua burung sakti dan seekor serigala perak.”


Cerita Senna mengalir deras, namun ia sangat berhati-hati saat menyentuh bagian tentang pertemuannya dengan roh hutan. Ia memilah kata, menyembunyikan bagian yang terlalu pribadi—apa yang dibaca roh itu dari kedalaman jiwanya.


“Jadi, buah tadi pemberian roh itu?” tanya Kael. Nadanya datar, tapi matanya menyimpan gelombang kecurigaan.


“Ya. Buah itu darinya,” jawab Senna singkat.


Kael tak mengalihkan pandangan. “Apa tepatnya alasan roh itu memberimu buah?”


Senna menarik napas pelan, menahan letupan kecil yang mulai mendesak dari dalam dadanya. Ia tahu—jika jawabannya terdengar goyah, Kael tidak akan melepasnya.


“Bukankah sudah kukatakan? Ia memberikannya karena aku menolong serigala itu,” ujarnya mantap, nyaris kaku. Kalimat itu ia jadikan tembok batas agar Kael tak bertanya lebih jauh.


Kael diam sejenak, sorot matanya menelusuri wajah adiknya, mencari celah.


Senna menegakkan punggung.


“Aku tidak menyembunyikan apa pun,” ucapnya lebih pelan, tapi tegas.


Ayra melirik keduanya dengan napas tertahan. Ketegangan di antara kakak beradik itu seperti benang halus yang siap putus jika disentuh terlalu keras.


“Pantesan enak banget!” Ayra buru-buru menyelip, mencoba mencairkan suasana. “Aku baru kali ini makan buah yang rasanya kayak… campur-campur, gitu.”


Senna menoleh padanya dan tersenyum kecil, sedikit lega.


“Kau benar. Bahkan aku juga belum pernah mencicipi buah yang seperti itu.”


Kael tiba-tiba berdiri.


“Kalian tidurlah. Biar aku yang berjaga malam ini. Besok kita harus melanjutkan perjalanan. Kurasa desa perbatasan tak akan jauh lagi.”


“Kau mau ke mana?” tanya Senna saat Kael melangkah menjauh ke arah kegelapan.


“Buang air,” jawabnya singkat tanpa menoleh.


“Baiklah. Ayo, Aya. Kita istirahat,” ujar Senna lembut.


Ayra mengangguk dan mengekori Senna masuk kembali ke tenda.


Namun, Kael tidak benar-benar pergi buang air.


Ia sengaja berlama-lama di tepi aliran sungai yang jernih dan dingin. Ia tahu betul adiknya selalu lihai menyembunyikan sesuatu.


Kael duduk di atas akar besar yang mencuat dari tanah. Matanya menatap kosong pada pantulan rembulan hijau keperakan yang menari-nari di permukaan air.


Perlahan, bayangan gelap masa lalu itu kembali berputar seperti pusaran, menariknya paksa.


Seharusnya aku sudah mati. Seharusnya Senna tidak memulihkanku waktu itu.


Kenangan itu datang memburu, mencekik lehernya.


“Kael, pergi sekarang! Lindungi ibu dan adikmu! Sekarang!” bentak pamannya dalam ingatan itu.


Wajah Kael kecil pucat pasi.


“Tidak! Aku tidak akan pergi!” Kael menentang, menggenggam pedang dengan tangan gemetar.


“Kael, ini bukan perang-perangan seperti waktu kau bermain dengan Samos!” suara ayahnya menyela, tongkat sihirnya bersinar membentuk pelindung. “Bawa Ibu dan adikmu pergi. Itu satu-satunya cara!”


“Lalu Ayah? Paman?”


Lihat selengkapnya