"Hooaamm..."
Ayra menggeliat sambil menguap lebar. Ia duduk, mengusap wajahnya yang masih setengah mengantuk, lalu meraih jaket dan beringsut keluar dari tenda. Udara pagi langsung menusuk kulit—dingin, lembap, namun segar dengan aroma tanah basah dan bunga liar yang samar mengambang di udara.
Gadis itu meregangkan tubuh, memutar bahu, dan memiringkan kepala hingga lehernya berbunyi pelan. "Sepi sekali," gumamnya, seolah berbicara pada kabut tipis di sekelilingnya.
Langkahnya terhenti di dekat sisa api unggun. Hanya ada bara merah yang nyaris mati dan asap tipis yang melayang pelan, seperti enggan benar-benar pergi. Ayra berjongkok, menatap sisa pembakaran itu sejenak, lalu memejamkan mata. Hidungnya mengembang-kempis, menghirup dalam-dalam kesejukan pagi dan bau hutan yang khas.
Suara dedaunan yang terusik membuatnya menoleh ke arah semak.
"Kau sudah bangun," ujar Senna. Gadis itu muncul dengan rambut basah terurai; tetesan air menyusup ke kerah jubahnya.
Ayra menyeringai. "Kupikir kalian sudah pergi. Aku sempat takut ditinggal sendirian di hutan angker ini." Ia berjalan mendekat, memeluk lengan Senna dengan gaya manja.
"Mandilah. Sebentar lagi mentari akan tinggi," ucap Senna sambil menepuk lengan Ayra pelan. "Desa perbatasan seharusnya sudah dekat. Aku sempat melihat saat berada di ketinggian tadi. Kalau tak tersesat, agaknya kita akan tiba siang nanti."
Ayra mengangguk. Matanya menatap langit yang masih gelap namun mulai bersemu merah muda. "Kadang aku masih bertanya-tanya, apa semua ini nyata? Maksudku, sejauh ini hanya kamu dan Kael yang aku temui... selebihnya hanya binatang, dan satu makhluk yang menyebut dirinya peri." Ia tertawa kecil. "Terasa seperti mimpi panjang yang aneh."
Senna hanya tersenyum. Senyum hangat penuh pengertian—seolah berkata bahwa tak semua hal harus dipahami segera.
"Oke deh, aku mandi dulu. Ngomong-ngomong..." Ayra menoleh. "Kael di mana?"
"Dia pergi mencari makanan. Kau bisa pergi sendiri?"
Ayra cengengesan, lalu menunduk. "Hehehe... sebenarnya takut sih kalau mandi sendirian. Aku khawatir bakalan muncul makhluk-makhluk aneh kayak kemarin."
"Kalau begitu, ayo aku antar sekarang."
Tak lama kemudian, kedua gadis itu berjalan beriringan menembus semak dan pepohonan, menyusuri jalur menuju ceruk kecil tersembunyi tempat air jernih mengalir di antara batu-batu berlumut.
Sementara itu, Kael telah kembali ke perkemahan. Di tangannya tergantung hasil buruan yang kini tengah ia bersihkan. Ia menusukkan daging itu pada sebatang ranting, mengolesinya dengan bumbu seadanya, lalu membakarnya. Bau daging terbakar mulai menguar, lemak menetes dan menyulut bara, membuat nyala kecil menari-nari.
Kael menatap api itu dalam hening. Dalam pantulan cahaya yang menari di matanya, tersimpan jejak pikiran yang belum selesai. Kata-kata Senna semalam kembali terngiang: Jadi izinkan aku bertanya padamu, Kael… apakah aku salah saat menyembuhkanmu waktu itu?
Kael memejamkan mata sejenak. Memang terkadang ada pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab. Tak ada luka yang sembuh dalam semalam. Namun pagi ini, untuk pertama kalinya sejak tragedi pahit itu, ia merasa dadanya lebih lapang, seolah sebagian beban telah diangkat. Bahkan saat angin berembus pelan mengusap tubuhnya, ia merasa dunia pun sedang mendukungnya untuk belajar melepaskan.
Lamunannya buyar saat mendengar langkah mendekat. Suara dua perempuan terdengar bercanda dari arah semak. Dari balik rerumputan lebat, muncullah Senna dan Ayra.
"Wah, baunya enak banget! Kamu dapat buruan apa?" seru Ayra riang, berjalan menghampiri daging yang telah tersaji di atas daun lebar.
Senna mengikutinya dari belakang dengan langkah sedikit ragu. Ia mencoba menekan perasaan canggung yang masih tersisa. Meskipun percakapannya dengan Kael semalam belum memberikan kesimpulan tegas, Senna merasa tatapan kakaknya tidak lagi setajam biasanya.
"Emangnya di sini nggak ada bawang putih atau bawang bombai, ya? Rasanya asin doang sih," komentar Ayra sambil mengunyah daging paha binatang buruan itu.
"Makan saja apa yang ada," jawab Kael pendek. Matanya melotot pada Ayra, tapi nadanya sama sekali tidak keras.
Senna tersenyum dalam hati. Saat ia menatap Kael, tak sengaja sang kakak juga berpaling padanya. Tak ada kata, tak ada senyum. Tapi Senna tahu—Kael mulai melunak. Ia berharap kakaknya bisa menerima semua yang telah terjadi, melarutkan dendam yang menyelimuti dadanya. Meski Senna sendiri belum yakin apakah ia bisa memaafkan semua yang menimpa dirinya, Kael, keluarga mereka, dan seluruh penduduk desa yang tewas.