Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #9

Jerat di Batas Senja

Langit merah muda perlahan meredup. Cahaya matahari yang condong ke barat memantul di dedaunan, menciptakan semburat keemasan yang bergerak pelan di sepanjang jalur yang mereka lewati. Pohon-pohon tinggi tak lagi berdiri rapat; ranting-rantingnya menjulang di sisi jalan setapak yang tampak pernah dilalui manusia.


Sejak tadi, Kael terus mengomel, mengingatkan bahwa langit akan segera gelap. Di sisi lain, Ayra sibuk mengeluhkan nyamuk yang tak henti menggigit kulitnya. Meski demikian, rombongan kecil itu tetap berjalan santai dengan langkah lambat, seolah senja bukan ancaman.


Dan kini, seperti sudah bisa ditebak, matahari hampir tenggelam sementara desa perbatasan masih jauh dari jangkauan pandang.


Di depan, Ayra berjalan mendahului. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, tak henti memandangi dunia yang begitu asing namun memesona baginya. Ia tampak seperti anak kecil yang pertama kali melihat pelangi. Matanya sibuk mengejar warna-warni di balik dedaunan, tanpa memperhatikan tanah yang mulai licin atau ranting patah yang berserakan di jalur mereka.


Sampai akhirnya-


Krak.


Kakinya menginjak sesuatu yang rapuh. Tanah di depannya runtuh mendadak, menciptakan lubang menganga. Tubuhnya hampir terjerembap, tetapi secepat kilat cahaya samar membungkus dirinya.


Dalam sekejap mata ia lenyap dari tempat itu, lalu muncul kembali beberapa langkah dari lubang.


Belum sempat ia menarik napas lega, sebuah jaring halus meluncur dari atas dan menjerat tubuhnya. Tarikan kuat membuat tubuh gadis itu terangkat ke udara. Ia berteriak pelan, menggeliat dalam jeratan, namun benang-benang jaring itu terlalu kencang dan tak mudah diputuskan. Kini tubuhnya tergantung di antara dahan pohon, persis seperti umpan di tengah jebakan tua.


"Aya..." Senna terkejut.


Ia melangkah cepat untuk menolong. Namun baru beberapa langkah, kakinya menginjak pemicu tersembunyi. Desis kecil terdengar.


Dari balik semak, anak panah melesat.


"Senna, awas!"


Kael, yang melihat itu dari belakang, langsung bergerak. Dengan refleks tajam, ia menarik pisau kecil dari balik jubah dan melemparkannya.


Denting logam beradu.


Anak panah itu berbelok arah dan menancap ke tanah. Namun ada harga yang harus dibayar. Tumpuan kaki Kael yang digunakannya untuk melempar tak bisa ditarik kembali. Tanah yang diinjaknya ternyata jebakan lain-getah lengket tersembunyi di bawah daun gugur, menyerupai tanah biasa.


Kael mendecak pelan. Wajahnya datar, tetapi sorot matanya menyiratkan kekesalan.

Lihat selengkapnya