Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #10

Tawanan Desa Pemburu

"...kami berasal dari Wilayah Selatan."


Suara itu merambat pelan ke telinga Kael, seolah datang dari kejauhan. Siapa...? Ibu? pikirnya refleks. Nada lembut itu mengingatkannya pada seseorang yang telah lama tiada.


Kael membuka matanya perlahan. Pandangan pertamanya adalah langit-langit sederhana yang terbuat dari anyaman benang dan daun lebar berwarna cokelat tua. Aroma tanah dan kayu memenuhi udara. Ia mengedip, mencoba menyusun kembali ingatan.


"Lalu kenapa kalian berada di sana? Jika kalian tidak berniat buruk, mestinya kalian lewat dari muka desa," ujar seorang pria berjanggut hitam lebat, suaranya berat dan berwibawa.


"Entahlah. Kami juga tidak tahu kenapa bisa sampai di tempat itu," jawab Senna pelan. "Maksudku, kami sudah seminggu berada di Hutan Velmore."


"Kau tahu nama hutan itu?"


Senna terdiam. Ia kelepasan. Wajar jika laki-laki itu menjadi lebih curiga.


"Seorang peri hutan mengatakan itu pada salah satu dari kami," jelasnya akhirnya sambil menoleh ke arah Ayra yang masih terbaring tak sadarkan diri.


Kael yang mulai sadar sepenuhnya mendengar ucapan itu, dan ingatannya kembali menabrak satu per satu. Emosi membuncah dalam dirinya. Ia menggeliat, berusaha membebaskan diri dari ikatan kasar yang melilit tubuhnya.


"Kael, tenanglah. Buang amarahmu," desis Senna, menoleh dengan mata cemas.


"Apa maksudmu? Kita diperlakukan seperti penjahat dan kau menyuruhku tenang?"


"Kael, kumohon..." bisik Senna lirih, memohon dengan pandangan yang lembut tapi penuh tekanan.


"Garron, bebaskan ikatan anak muda itu," perintah pria berjanggut itu.


"Tapi, Reeve..." jawab Garron ragu.


"Nona, bisakah kau menjamin bahwa kakakmu tidak akan membuat onar saat ikatannya dilepaskan?"


"Aku menjaminnya, Tuan."


Senna segera berdiri dan mendekat, mengikuti Garron yang mulai melepas ikatan Kael.


"Kael, tolong... bersikaplah baik."


Ia menyentuh bahu kakaknya pelan.


Kael hanya mendengus. Pandangannya tajam, penuh amarah, tapi ia menahan diri. Tidak bergerak.


"Lihat, Tuan Halden. Kami sama sekali tidak bermaksud buruk," ucap Senna dengan nada merendah.


Reeve Halden Mareth justru tertawa ringan.


"Aku tidak takut, jika kalian memang berniat buruk. Percayalah, di desa ini banyak yang mampu menghentikan kalian."


Kael melotot, tapi sekali lagi, sentuhan lembut Senna di bahunya menahan gejolaknya.


Lihat selengkapnya