Tenggelam Dalam Cahaya

Muhammad Amin Hambali
Chapter #11

Cahaya dari Celah Pintu

Kreeekkk...


Suara pintu yang berderit terbuka sontak membuat ketiganya bangkit duduk. Pikiran mereka langsung berkecamuk.


"Kalian sudah bangun?".


Tak ada satu pun yang menjawab. Namun, sosok di ambang pintu itu tampaknya tak ambil pusing.


"Makanlah," ucapnya.


Cahaya dari celah pintu yang terbuka perlahan mengoyak kegelapan ruangan. Seorang perempuan paruh baya melangkah masuk, membawa beberapa wadah makanan berukuran besar yang terbuat dari tempurung buah hutan. Di sisi kanan dan kiri pintu, dua penjaga berdiri tegak; ujung tongkat berpisau yang mereka pegang berkilat tertimpa cahaya.


"Terima kasih," ucap Senna dengan senyum tipis yang nyaris tak terbaca.


Perempuan tua itu membalas dengan menatap mereka satu per satu. Kael memasang wajah sedingin es, sementara Ayra terlihat lesu dan ketakutan.


Saat perempuan itu berbalik membelakangi mereka untuk pergi, Senna angkat suara.


"Maaf... sampai kapan kami akan berada di sini?".


"Maaf, Nona. Itu sepenuhnya kewenangan Reeve. Saya hanya diperintahkan untuk mengantarkan makanan ini," jawabnya datar.


"Apa kau pikir kami tidak punya pekerjaan, hingga harus berdiam terus sepanjang hari di sini!?" ketus Kael, tak bisa menahan diri.


"Aku juga pengin pipis... pengin BAB," timpal Ayra sekenanya, memecah ketegangan.


Perempuan tua itu sama sekali tidak menanggapi. Pintu kembali ditutup rapat dan dikunci dari luar. Kegelapan lagi-lagi menelan ruangan tersebut.


Kael bangkit dengan geram, tangannya mengepal erat, lalu ia menghentakkan kakinya ke lantai kayu.


"Kau lihat!? Kita diperlakukan seperti penjahat!".


Senna mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sebenarnya juga mulai naik pitam. Namun, bila ia ikut meledak, Kael pasti akan menjadikannya alasan untuk bertindak nekat. Padahal, jika dipikir-pikir, peluang untuk melarikan diri-baik dengan kekerasan maupun secara sembunyi-sembunyi-selalu ada. Namun nalar Senna memperingatkan bahwa tindakan gegabah hanya akan memperburuk keadaan.


Baru saja Senna menimbang-nimbang berbagai kemungkinan, pintu kembali berderit pelan. Wajah perempuan tua tadi muncul di ambang pintu.


"Silakan, Nona, jika hendak ke belakang. Reeve mempersilakan kalian untuk membersihkan diri. Kami telah mempersiapkan segalanya. Mari ikuti saya," tuturnya.


Ketiganya terdiam.


Pandangan Senna dan Kael bersirobok sejenak-bukan sekadar bertatap mata, melainkan bertukar isyarat batin.


Ayra mengangkat wajahnya dengan ragu, lalu perlahan ikut bangkit berdiri. Ia melangkah pelan dan menggamit lengan Senna, seolah mencari pegangan yang mampu menenangkannya.


Kael berdiri dengan gerakan kaku; alisnya berkerut dan rahangnya mengeras. Tanpa sepatah kata, ia hanya melirik tajam ke arah dua penjaga di belakang perempuan tua itu.


Lihat selengkapnya