Saat mereka telah selesai dengan makanan, perempuan itu kembali berucap, “Jika kalian sudah selesai, silakan ikuti saya.” Ia pun bangkit. Ketiganya saling pandang, bertanya-tanya di dalam hati ke mana lagi mereka akan dibawa.
“Apakah kami akan dihadapkan di persidangan layaknya pesakitan?” tanya Kael sinis.
Senna yang mendengar pertanyaan kakaknya hanya bisa menghela napas.
“Bukan tugas saya untuk menjawabnya, Anak Muda. Reeve sendiri yang akan menentukannya,” jawab perempuan itu dingin.
Tanpa bisa menolak, rombongan kecil itu digiring keluar dan berjalan mengikuti langkah si perempuan tua. Keluar dari bangunan, mereka melangkah ke anjungan lebar yang terbentuk dari anyaman akar dan batang. Jalur itu menjulur, menggantung di ketinggian, menghubungkan satu batang pohon raksasa ke batang lainnya. Di kejauhan, ujung anjungan itu berhenti tepat di bibir jurang lebar, dan di seberangnya hanya tampak seutas tali yang menggantung, melambai tertiup angin.
“Jembatannya belum tersambung,” gumam Ayra setengah terkejut.
Perempuan tua itu tak menjawab. Ia hanya memberi isyarat kecil pada salah satu penjaga yang kemudian menghampiri sisi pagar, menarik sebuah tuas kecil yang tersembunyi di balik simpul akar. Terdengar bunyi denting logam dari arah seberang. Tak lama, tiga sosok muncul, bekerja cepat mengulur dan menyambung papan demi papan yang tersimpan di sisi tebing. Papan-papan itu saling terikat dengan simpul tali serat pohon, ditarik, lalu dikunci satu per satu. Tak butuh waktu lama, jembatan gantung pun membentang, siap untuk dilalui.
Angin kencang langsung menyambut begitu mereka mendekat. Daun-daun berdesir keras, berpadu dengan suara gemerisik dan gemeretak tali yang meregang tegang. Di bawah mereka hanya ada kehampaan, jurang yang dalam dan penuh kabut. Tepi jembatan memang dilindungi seutas tali yang melintang sebagai pegangan, tetapi tingginya tak cukup untuk membuat siapa pun merasa aman sepenuhnya.
Senna melirik ke arah Kael, lalu beralih pada Ayra yang tampak menelan ludah menahan ngeri.
“Jangan khawatir. Meskipun jembatan itu terlihat ringkih, aku yakin tali-temalinya sangat kokoh. Jika tidak demikian, tidak mungkin perempuan tua itu bisa berjalan dengan begitu tenangnya,” bisik Senna cepat, mencoba menguatkan.
Ayra mengangguk pelan sambil menggenggam erat pembatas tipis tersebut. Kael berjalan di belakangnya untuk berjaga, sedangkan Senna berada di depannya dengan mata yang tak lepas mengawasi Ayra. Gadis itu gemetaran. Langkah pertamanya terasa seperti menginjak perahu yang oleng. Papan bergoyang pelan, dan tali penyangga berdecit lembut di setiap pijakan.
Namun Ayra mencoba menenangkan debar jantungnya, meyakinkan diri bahwa jika orang lain saja bisa berjalan dengan santai, maka tidak ada alasan ia harus merasa ketakutan seorang diri. Ia tidak punya pilihan selain terus maju. Perempuan tua itu sudah separuh jalan lebih dulu tanpa ragu sedikit pun. Meski lamban karena Ayra yang tertatih, ketiganya mengikuti satu per satu dengan napas tertahan dan hati waspada. Di tengah jembatan, dunia terasa seolah hanya terdiri dari angin, tali, dan jurang. Tak ada tempat untuk keraguan.
Begitu berhasil melintasi jembatan gantung yang menguji nyali itu, mereka sampai di ujung jalan setapak yang agak lapang. Di sebelah kanan, sedikit menyerong, tampak jalur lain yang menurun perlahan menjauh dari deretan rumah tinggi yang tergantung di pepohonan. Beberapa rumah bertumpu pada satu batang pohon besar, sementara yang lain terbentang di antara dua batang, dihubungkan oleh jembatan tali dan papan kecil yang disusun rapi.
Namun alih-alih menuju ke arah pemukiman warga, perempuan tua itu justru berbelok menuruni jalur yang mengarah ke bagian yang lebih teduh dan tersembunyi dari desa.
“Ini mau ke mana, sih?” bisik Ayra, matanya masih terpaku pada pemandangan rumah-rumah gantung itu.
Senna hanya mengangkat bahu. Kael tidak berkata apa-apa, tetapi matanya awas memperhatikan arah langkah si perempuan tua. Di belakang mereka, dua penjaga masih setia mengikuti ke mana pun ketiganya melangkah.
Jalan perlahan menurun, dengan undakan batu kasar yang membentuk anak tangga. Udara di sekitar mulai terasa lebih lembap dan dingin. Suara-suara samar menyusup di antara desir angin, ringkikan kuda, denting logam, dan hentakan kaki berat yang menghujam tanah.
Tak lama kemudian, pandangan mereka terbuka pada kawasan yang tersembunyi di balik belukar dan pepohonan. Di situ berdiri beberapa bangunan beratap rendah. Salah satunya adalah gudang besar dengan pintu kayu yang terbuka lebar, memperlihatkan deretan peti, karung, dan gulungan jaring. Di sebelahnya, kandang-kandang hewan berjajar rapi. Beberapa kuda mengibaskan ekor sambil mengendus udara, sementara suara geraman samar terdengar dari kandang yang lebih jauh, entah dari binatang apa.
Beberapa orang berlalu-lalang, sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang memeriksa pelana, mengasah tombak di atas balok kayu, dan ada pula yang menjemur kulit binatang di tali gantungan yang melintang di antara dua tiang. Ayra mengernyit menahan rasa tidak nyaman mencium aroma di sekitarnya. Kael mengamati dengan saksama, sedangkan Senna tetap diam dengan wajah yang sulit ditebak.
Di tengah kawasan itu berdiri sebuah bangunan bundar dari kayu tua. Meski ukurannya tak besar, bangunan itu tampak kokoh dan bersih. Dindingnya tersusun dari bilah-bilah kayu gelap, dan atapnya ditutup dengan jerami rapat yang ditambal di beberapa sisi.
Perempuan tua itu berhenti di depan pintu bangunan tersebut, lalu menoleh ke arah mereka.
“Masuklah. Reeve sudah menunggu.”
Mereka saling pandang. Senna berbisik rendah, “Aku harap ini segera selesai.”
Tanpa banyak pilihan, mereka melangkah masuk, siap menghadapi apa pun yang menanti di dalam.
“Selamat pagi, para pengelana,” sapa sebuah suara ramah begitu ketiganya masuk.
Ayra menelisik ruangan di sekitarnya. Tempat itu ternyata bukan rumah tinggal seperti yang ia bayangkan. Bangunan itu lebih menyerupai ruang pertemuan atau pos komando, tempat para pemburu bersiap sebelum memulai hari. Di dalamnya ada sebuah meja besar dari kayu tua, beberapa kursi sederhana, dan perlengkapan berburu yang digantung di dinding: busur, panah, kantong kulit, serta seutas tali panjang.