Matahari tegak di puncak langit. Udara panas menggigit, memantul dari tanah, dan membebani napas. Langit merah muda tampak nyaris pucat, dibasuh terik yang tak berbelas kasih.
Langkah-langkah kuda mulai melambat. Tak satu pun dari mereka bicara, tapi kelelahan sudah terasa di pelana.
Tiba-tiba, Reeve mengangkat tangan. Rombongan berhenti.
Angin membawa sesuatu—bau yang aneh, samar, namun cukup untuk membuat beberapa pemburu saling pandang.
“Bau darah,” bisik salah satu dari mereka.
Ayra menggenggam tali pelana erat. Senna menegang di belakangnya. Sementara Kael diam, tetapi matanya menyipit, mengamati sekeliling.
Hutan terasa hening. Terlalu hening.
Reeve turun dari kudanya. Ia menyentuh tanah, menatap dahan yang patah tak jauh dari mereka, lalu berdiri dan memberi isyarat halus.
“Siapkan senjata.”
Rombongan berjalan pelan, menahan langkah agar tak menimbulkan suara. Mereka meninggalkan Ayra bersama dua pemburu lain untuk menjaga kuda. Di sisi Ayra, Senna terus memandang ke arah para pemburu yang mulai menyusup ke balik semak, bersiap menyergap mangsa mereka.
Sebenarnya ia ingin ikut serta, tetapi ditahan oleh Ayra.
“Sen, kamu mau ke mana? Boleh nggak kalau di sini aja nemenin aku?” bisik Ayra lirih. “Aku nggak nyaman sama orang-orang yang nggak aku kenal.”
Senna melihat kegugupan di wajah gadis itu. Mau tak mau, ia mengangguk dan tinggal.
Sementara itu, di sisi lain, salah satu pemburu yang berjalan paling kiri tiba-tiba berhenti. Ia memberi isyarat ke arah semak-semak. Gerakan itu cepat disambut oleh yang lain hingga seluruh rombongan berkumpul.
Di hadapan mereka—bangkai seekor binatang besar. Tubuhnya terkoyak. Darah masih hangat mengucur dari luka terbuka. Jelas kematiannya baru saja terjadi. Mereka saling berpandangan, menimbang langkah berikutnya hanya dengan tatapan.
Kael menyisir area sekitar. Semak yang rebah dan ranting patah menunjukkan jejak sesuatu yang jauh lebih besar baru saja lewat.
Lalu—suara itu terdengar.
Ringkik kuda. Nyaring dan penuh kepanikan.
Namun bukan ringkik biasa. Ada nada ketakutan di dalamnya, seperti jeritan sebelum ajal.
Tanpa menunggu aba-aba, mereka semua berlari kembali.
Tanah lapang itu porak-poranda. Dua pemburu yang ditinggal kini berdiri siaga, tombak panjang mengarah ke makhluk yang berdiri tegak di hadapan mereka.
Makhluk itu besar. Tingginya setara dua pria dewasa berdiri bertumpuk. Ia memiliki empat kaki, tetapi kini berdiri pada dua kaki belakang. Bulu merah kehitaman menutupi tubuhnya, berdiri tajam menyerupai duri. Cakar-cakar panjang melengkung seperti sabit perak, berkilat di bawah cahaya langit.
Kael segera melihat Ayra dan Senna di sisi lain. Senna berdiri kaku, napasnya tertahan, busur terangkat siap memanah. Ayra berdiri di belakangnya, wajahnya pucat, tangan gemetar menggenggam busur.
Kael mendekat cepat. “Kalian tak apa-apa?”
Senna mengangguk kecil. Lega melihat kakaknya, namun tetap waspada. Jika sendirian, ia mungkin bisa bertindak bebas. Namun Ayra—yang begitu ketakutan—membatasi ruang geraknya.
Alric menoleh ke arah Reeve dan berbisik, “Apa itu?”
Reeve menyipitkan mata. “Beruang Sabit Merah… Sepanjang hidupku, baru dua kali melihatnya. Pertama, saat aku masih remaja. Kupikir mereka sudah tiada….”